Mengenal Tar Yahudi, Penganan Berbuka Puasa Buatan Nenek Mima – Ambon Ekspres
Features

Mengenal Tar Yahudi, Penganan Berbuka Puasa Buatan Nenek Mima

MENARIK : Mas Nur bersama cucunya Melati menunjukkan 2 bentuk kue Tar Yahudi

Ukurannya mini. Bentuknya seperti bunga Matahari. Tapi namanya biking orang penasaran. Itulah kue Tar Yahudi, buatan Nenek Mima.

Oleh : IDRUS OHORELLA/AMBON EKSPRES

Tar Yahudi merupakan salah satu penganan berbuka puasa atau Ta’jil, yang kerap menjadi incaran masyarakat setiap datangnya bulan suci Ramadhan. Makanan ini hanya dijual di Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau.

Berawal dari resep yang diberikan saudaranya ketika masih berdomisili di Jakarta, Nenek Mima kemudian mempraktikan pembuatan kue tersebut. Kue ini mulai dipasarkan pada awal Ramadhan sekitar tahun 1990 an. Alhasil, kue yang dibuatnya itu mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Mereka tertarik. Khususnya kaum Muslim yang berdatangan mencari makanan berbuka puasa di Desa Batumerah, Kota Ambon.

Bukan saja rasanya yang enak, namun nama kue ini membuat sebagian besar masyarakat Kota Ambon penasaran. Seperti apa bentuk dan rasa kue Tar Yahudi yang dibuat wanita berusia 66 tahun itu.

Tahun demi tahun berlalu. Kue Tar Yahudi justru tidak hilang dari ingatan. Kue ini makin diminati pelanggan. Selain laris di pasaran saat Ramadhan (puasa), kue ini juga sering dipesan untuk acara Akikah, acara resepsi pernikahan hingga jelang hari Natal bagi umat Kristiani. Karena kualitas rasanya dapat disesuaikan dengan sejumlah makanan modern lainnya.

Namun untuk pembuatannya, tidak segampang yang dikira. Karena membutuhkan kesabaran dan tenaga untuk mengolah bahan terigu, mentega dan susu menjadi kue yang enak disantap. Adapun sejumlah resep rahasia dicampur dalam adonan tersebut. Hingga hasilnya benar-benar matang untuk disajikan.

Ketika Ambon Ekspres mendatangi kediaman Nenek Mima di samping Masjid Nurul Iman Desa Batumerah, aroma berbagai jenis Ta’jil sudah tercium dari luar. Menariknya, seluruh alat perlengkapan pembuatan kue maupun roti, terpampang di dapur miliknya. Mulai dari berbagai jenis cetakan kue, kompor dan oven (pembakar kue) itulah, yang sering mengisi waktu kesehariannya dalam mencari nafkah.

Nenek Mima selalu ditemani sang suami yang sering disapa Mas Nur. Beserta adik perempuannya Ibu Rohani yang sudah berusia sekitar 60 tahun. Mereka setia membuat makanan Ta’jil bagi umat muslim yang hendak berbuka puasa. Termasuk membuat kue Tar Yahudi. “Tahun berapa pastinya beta (saya) sudah lupa. Tapi itu sekitar tahun 90an. Waktu itu beta masih di Jakarta. Ketika itu, beta dikasih resep sama saudara. Kemudian tahun berikutnya, beta mulai coba buat kue yang sudah dinamakan Tar Yahudi ini,” kisah Nenek Mima

Diakuinya, pembuatan kue ini butuh kesabaran luar biasa dalam mengocok adonan yang berisi tepung, gula dan mentega. Dengan menggunakan sendok ukuran besar sebagai alat pengocok adonan. Karena memang, dari awal pembuatan kue tersebut, masih dilakukan secara manual. Namun untuk proses pembakaran, sudah mulai menggunakan oven khusus yang memuat 12 cetakan kue.

Tapi, proses pembuatan tidak semudah pembuatan kue tar lainnya. Karena pembuatan kue Tar Yahudi, kata dia, harus dilakukan beberapa tahap proses pengadukan adonan. Hingga kemudian dicampur dengan coklat yang telah dimasak dan dicampur dengan sebagian adonan yang sudah diaduk. “Kue Tar Yahudi ini, harus diaduk secara terpisah. Yaitu gula, terigu dan mentega setelah diaduk, harus dipisahkan. Kemudian membuat adonan baru dengan menambahkan susu putih. Baru kemudian mencapur adonan tersebut secara bersamaan. Baru ditambah dengan susu coklat yang juga ditambah adonan tar lagi. Tinggal dicetak dan kemudian dibakar selama kurang lebih 1 jam,” terangnya.

Dijelaskan, modal pembuatan kue Tar Yahudi ini jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh, tidak sebanding. Namun dia tetap sabar dalam memberikan pelayanan ekstra dalam bentuk rasa kepada pelanggan. Karena dalam pencampuran adonan, membutuhkan sejumlah resep rahasia untuk menghasilkan tekstur serta rasa yang memuaskan. “Kalau dibilang untung, tidak terlalu besar. Karena modalnya juga besar. Tapi beta dan keluarga selalu fokus terhadap kepuasan pelanggan. Biar untung tidak seberapa, asalkan pelanggan puas,” jawab Nenek Mima tersenyum.

Mas Nur (suami nenek Mima) selaku kepala keluarga, juga mengisahkan sedikit sejarah tentang perjalanan istrinya dalam dunia bisnis makanan, khususnya kue dan roti itu. Menurutnya sejak masih muda, istrinya lebih memilih sebagai pembuat kue dan roti, ketimbang melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. “Istri saya ini (Nenek Mima) memang lebih memilih membuat kue dan roti ketimbang kuliah dan bekerja di kantoran. Dan sampai saat ini masih menekuni pekerjaannya. Namun karena membuat kue dan roti ini kan membutuhkan tenaga, sehingga saya yang selalu menemaninya untuk membuat sejumlah kue pesanannya. Termasuk kue Tar Yahudi,” tutur Mas Nur.

Menurut dia, proses pembuatan adonan selalu dilakukannya. Bahkan hingga pembuatan corak warna yang diletakan dalam adonan. Dengan alasan agar menjadi daya tarik pembeli. Karena motifnya yang berbentuk Matahari, membuat kue Tar Yahudi selalu dikenal pelanggan. “Untuk proses pengadukan adonan sering saya lakukan. Karena istri saya sudah tidak seperti dulu lagi. Bahkan coraknya itu sering saya buat. Kita bisa taruh di bagian samping maupun di tengah. Tetapi sering dibuat di tengah. Jadi ketika dibelah, coraknya kelihatan seperti batik,” ujar dia.

Dirinya menjelaskan, kondisi harga sembilan bahan pokok (sembako) saat ini tidak seperti dulu. Sehingga mau tak mau, harga Tar Yahudi juga disesuaikan dengan kondisi. Dimana satu loyang (ukuran kue cetakan) dibandrol seharga Rp 25 ribu. “Harga yang kita jual ke pelanggan itu Rp 25 ribu satu loyang. Dan dari 1 loyang itu, bisa mendapat 10 sampai 12 potong. Jadi kita masukan ke penjual dengan harga Rp 2.500 per potong. Kemudian nanti dijual dengan harga Rp 3.000. Jadi setiap hari itu banyak pesanan. Apalagi saat puasa, pasti banyak pesanan,” rincinya.

Dia mengakui, bukan saja saat Ramadhan kue Tar Yahudi menjadi incaran. Tetapi saat memasuki Idul Fitri, hari Natal hingga acara-acara lainnya, juga mendapat orderan untuk membuat kue tersebut. Namun dirinya selalu kesulitan dalam menyiapkan berbagai alat pengaduk adonan seperti mixer (alat pengocok adonan). “Kalau puasa ini kan kita buat itu satu baskom besar. Yang bisa mencapai 12 loyang (cetakan kue). Tetapi jika ada pesanan lain, bisa kami lakukan. Tinggal disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Jadi kita menerima pesanan bukan saja kue Tar Yahudi, tetapi bruder dan sejumlah kue lainnya, termasuk roti juga kami terima. Tinggal disesuaikan dengan harga dan keinginan pelanggan,” pungkas Mas Nur.(*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!