Ketika Para Tukang Cukur Adakan Aksi Cukur Masal di Masjid Cheng Ho – Ambon Ekspres
Features

Ketika Para Tukang Cukur Adakan Aksi Cukur Masal di Masjid Cheng Ho

SERASA DI SALON: Para tukang cukur Ngasal melayani warga yang ingin potong rambut di halaman Masjid Cheng Ho

Ada banyak cara untuk berbagi dengan sesama. Misalnya, yang dilakukan para tukang cukur rambut ini. Mereka yang tergabung dalam komunitas Ngaji Salon (Ngasal) mengadakan potong rambut gratis untuk anak yatim dan masyarakat miskin.

Oleh : GALIH ADI PRASETYA

HALAMAN Masjid Cheng Ho mendadak menjadi lapak potong rambut kemarin (12/6). Puluhan tukang potong rambut sibuk memainkan gunting mereka. Merapikan dan memotong rambut sesuai keinginan para pelanggan.

Namun, yang spesial adalah pelanggan tukang potong rambut itu. Mereka adalah para duafa dan masyarakat umum. Mereka mendapat fasilitas potong rambut dari para profesional. ’’Mereka ini sudah profesional semua. Langganan artis-artis juga,’’ terang Hasan Basri, panitia kegiatan Ramadan Masjid Cheng Ho.

Tukang potong itu tergabung dalam sebuah komunitas bernama Ngaji Salon (Ngasal). Komunitas tersebut terdiri atas salon-salon yang ada di Surabaya. Khusus hari itu, Ngasal memberikan jasa potong gratis. ’’Untuk acara kali ini, ada 75 salon yang ikut,’’ jelas Ketua Ngasal Hendy Prayitno.

Sudah kali kedua Ngasal mengadakan acara serupa. Tiap tahun antusiasme duafa dan masyarakat yang datang semakin meningkat. ’’Ini awalnya kita targetkan 500 peserta. Tapi, ternyata lebih,’’ ujarnya.

Para tukang potong rambut pun tidak sembarangan. Yang hadir dalam kegiatan itu adalah mereka yang sudah berpengalaman. Tentu saja, semuanya memiliki salon masing-masing. ’’Kalau di luar, tarifnya bisa sampai Rp 250–500 ribu. Nah, sekarang ini duafa dan masyarakat bisa merasakan fasilitas ini,’’ katanya.

Kegiatan tersebut diadakan sebagai bentuk kepedulian Ngasal. Mereka berbagi dengan caranya sendiri. Yaitu, melalui profesi mereka sebagai penata rambut. ’’Ini kan momen Ramadan dan sebentar lagi Lebaran. Harapannya, mereka bisa tampil dengan rambut baru,’’ ujar pemilik Hendy Salon itu.

Layaknya salon, berbagai peralatan mereka boyong ke sana. Mulai berbagai jenis gunting, hair spray, hingga gunting rambut elektrik. Pelayanan yang diberikan pun spesial. Para peserta bisa request sesuai keinginan mereka. ’’Kita bebaskan memilih model potongan rambut apa pun sesuai keinginan mereka,’’ kata Hendy.

Misalnya, Suki Ningsih. Dia meminta dipotong model artis Bunga Citra Lestari (BCL). Model itu dia pilih agar terlihat lebih muda. ’’Awalnya tadi mau ke salon. Tapi, diajakin tetangga, katanya di Masjid Cheng Ho ada potong rambut gratis. Dan, ternyata hasilnya bagus,’’ ujar warga Kapas Krampung yang sebentar lagi menimang cucu tersebut. ’’Motong rambut itu seni. Gak bisa diburu-buru. Rata-rata memotong rambut satu orang butuh waktu 15–30 menit,’’ papar Hendy.

Dari sekian banyak peserta, model yang paling laris dipilih laki-laki adalah mohawk dan undercut. Sementara itu, perempuan lebih memilih model segi, oval, dan bob. Sudah hampir tiga tahun Ngasal berdiri. Kegiatan rutin mereka adalah ngaji rutin 2–3 kali sebulan. ’’Bergantung keadaan teman-teman. Biasanya ada yang minta ngaji diadakan di tempatnya, ya kita adakan. Biasanya ya salawat kubro dan yasinan,’’ ujar Hendy.

Ngasal pun tidak membatasi latar belakang salon yang ingin bergabung. Semua bebas ikut. ’’Di sini kita ingin berbagi kebahagiaan. Kita ingin menyamakan mereka dengan sosialita di Surabaya,’’ ungkap Hendy.
Selain Ngasal, acara pagi itu dibantu komunitas Bhaksos’e Suroboyo. Mereka turun tangan untuk membantu kelancaran kegiatan tersebut.

Hal senada diungkapkan Hans Mulyono. Dia menganggap kegiatan itu sangat bagus. Sebab, pihaknya masih bisa berbagi kepada sesama dengan memanfaatkan keahlian masing-masing. ’’Semoga program seperti ini tetap bisa berlanjut,’’ ujarnya.

Saat ini anggota komunitas tersebut berjumlah 70 salon. Padahal, awalnya hanya 3–4 salon. Mereka secara konsisten mengadakan berbagai kegiatan sosial. ’’Para tukang potong ini kerjanya sangat sibuk. Tapi, tetap sempat mengadakan kegiatan sosial. Kalau ada kegiatan, pasti datang,’’ kata Hendy.

Membantu sesama memang tidak melulu berupa materi. Yang terpenting adalah seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. ’’Biasanya yang hanya potong di pinggir jalan di bawah pohon sekarang serasa di salon,’’ ucap Hasan.(JPNN)

Most Popular

To Top