Compositor Surabaya di Film Box Office Hollywood – Ambon Ekspres
Features

Compositor Surabaya di Film Box Office Hollywood

Foto :Faza Amaly Sulthon

Terpukau dengan efek visual Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales? Semua pasti tahu, ada kerja keras para compositor visual effects di balik efek film yang ciamik itu. Tapi, yang banyak orang tidak tahu, ada nama compositor muda asli Surabaya dalam film box office tersebut. Dialah Faza Amaly Sulthon.

Oleh : ANTIN IRSANTI

AMEKS ONLINE.– FAZA Amaly Sulthon baru tiga pekan berada di Indonesia. Di tanah kelahirannya, Surabaya, dia menyibukkan diri di Studio Hompimpa di Jalan Dharmawangsa. Sehari-hari dia memantau dan membantu pengerjaan animasi yang menjadi proyeknya saat ini.

Di antara sekian banyak orang, Faza tampak paling muda. Umurnya baru 24 tahun. Rambutnya pendek sebahu. Dia juga mengenakan kacamata dengan frame ukuran sedang. Tak ubahnya gadis kebanyakan.

Namun, jangan ditanya soal pengalaman. Di usia yang masih belia, Faza sudah berkesempatan bekerja langsung dengan rumah produksi yang menghasilkan film-film box office. Sebut saja Twentieth Century Fox Film Corporation, Marvel Entertainment, Walt Disney Picture, Paramount Picture, dan DreamWorks. Kesempatan itu berhasil diraihnya saat bekerja di Moving Picture Company (MPC).

Yakni, perusahaan bergengsi yang salah satu bidangnya berfokus pada visual effects film. Lokasinya di Vancouver, Kanada. “Rasanya kayak dream come true,” ujar Faza.

Proyek pertamanya adalah The Revenant yang dibintangi Leonardo DiCaprio. Pemeran Hugh Grass itu akhirnya menyabet Oscar sebagai aktor terbaik. “Dulu masih junior. Jadi, saya ngerjain tugas untuk bantu-bantu senior,” tuturnya.

Setelah selesai proyek The Revenant, anak keempat di antara lima bersaudara itu dipindahkan ke proyek The Finest Hour. Faza menyelesaikan proyek efek visual film tersebut dalam waktu empat bulan. ”Satu film biasanya dikerjakan oleh ratusan compositor. Sedangkan yang masuk ke credit hanya sebagian. Kalau bisa masuk, rasanya tuh kerja kita lebih dihargai,” terangnya.

Karir Faza semakin cemerlang ketika ditugaskan dalam film X-Men: Apocalypse. Proyek film tentang mutan-mutan super itu adalah pengalaman yang paling berkesan bagi Faza. Sebab, dia mengikuti proses awal hingga akhir. Kepercayaan supervisor terhadapnya juga semakin tinggi. Putri pasangan Sulthon Amin dan Enny Sulthon tersebut mendapat tugas lebih banyak.

Meski berkesan, bukan karya di X-Men yang paling disukai Faza. Perempuan yang pernah mengenyam pendidikan satu tahun di Sheridan College jurusan art fundamental itu paling puas dengan pekerjaannya di Pirates of the Caribbean 5.
Menjadi compositor bukanlah hal yang mudah. Setelah semua proses syuting selesai, merekalah yang merampungkan bagian akhirnya. Tugasnya membuat tampilan film menjadi halus. Juga membuat animasi dan visual effects tampak seperti nyata. Mereka juga harus merapikan detail-detail kecil agar terlihat logis.

Normalnya, mereka bekerja 40 jam seminggu. Namun, Faza pernah merasakan lebih dari itu. Yakni, ketika mengerjakan proyek film Ghost in the Shell. Deadline yang cukup singkat membuatnya harus bekerja 80 jam seminggu agar rampung sesuai jadwal.

Faza mengakui, proyek tersebut memang paling berat. Selama dua bulan, kegiatannya dihabiskan di depan komputer. Sampai untuk makan pun, dia memesan secara online. Sehari-hari dia bekerja mulai pukul 09.00 hingga 02.00 pagi. “Kadang bisa juga jam 5 pagi baru pulang,” imbuhnya.

Karena itu, tak heran jika film besutan sutradara Rupert Sanders tersebut menjadi pekerjaan yang paling menguras tenaga. Apalagi, sempat ada perubahan sequence yang dikerjakan Faza. Yakni, adegan ketika Scarlett Johansson naik motor, kemudian kamera semakin naik menjauhi Scarlett dan memperlihatkan seluruh isi kota.

Karena belum ada yang bisa memastikan waktu adegan itu, Faza membuatnya pada keadaan petang. Namun, setelah film hampir rampung, sang sutradara minta adegan tersebut diganti saat siang. Otomatis Faza harus membongkar ulang adegan itu.
Meski digempur pekerjaan yang menumpuk dengan deadline ketat, rupanya Faza tidak kapok. Justru dia semakin semangat untuk mengerjakan proyek-proyek lainnya.

Ketika sedang buntu, Faza bertanya kepada senior dan supervisornya. Beruntung, orang-orang di sekitarnya sangat baik sehingga mau membantu. Jika yang ditanyai tidak tahu, mereka akan mengarahkan ke orang lain yang lebih paham. Dari situ, Faza belajar banyak tentang cara menghasilkan efek visual yang baik.

Menurut Faza, menjadi seorang compositor adalah passion-nya. Sekeras apa pun pekerjaannya, kalau menyukainya, tidak akan terasa berat.
Kini Faza kembali ke tanah air. Dia belum berencana untuk melanjutkan kembali proyek film Hollywood secara intens. Konsentrasinya saat ini adalah mengerjakan film animasi dalam negeri bersama sang kakak. Dia berharap ilmu yang didapatnya selama di Kanada bisa diterapkan di sini.
Agar tak ketinggalan informasi dan teknologi, Faza rajin berkomunikasi dengan teman-temannya di Kanada. Hingga saat ini, mereka masih sering sharing mengenai hal-hal yang berkaitan dengan animasi. Selain itu, Faza rajin berlatih di rumah.

Ke depan, dia berharap usahanya itu bisa membuat para seniman Indonesia yang berada di luar negeri untuk pulang. Kemudian, meningkatkan kualitas film dalam negeri. Khususnya yang berkaitan dengan animasi dan visual effects. “Jadi, film Indonesia juga nggak kalah sama animasi luar negeri,” harapnya.(*/c6/dos)

Most Popular

To Top