Tiga Pelaku Bentrokan Diamankan – Ambon Ekspres
Berita Utama

Tiga Pelaku Bentrokan Diamankan

BENTROKAN: Aparat keamanan berupaya untuk meredam warga yang terlibat bentrokan di perbatasan Negeri Hitu-Wakal, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Foto : IST/AMEKS

Situasi Wakal-Hitumessing Kondusif

AMEKS ONLINE, AMBON.––Bentrokan berdarah terjadi di Jazirah Leihitu, Minggu (25/6). Empat orang tewas. Polisi juga telah mengamankan tiga orang yang diduga sebagai otak pelaku bentrokan.

Ketiga warga yang diamankan berasal dari Desa Wakal. Masing-masing berinisial BO (23), SL (36) dan HW (20). Mereka diamankan di tempat tinggal masing-masing. Demikian disampaikan Kabid Humas Polda Maluku, AKBP Abner Richard Tatuh kepada wartawan, tadi malam.

Dikatakan, ketiga pelaku yang diamankan itu telah dibawa ke Mapolres Ambon dan Pp Lease.  “Untuk kasus ini sudah diamankan tiga tersangka di Polres Ambon. Ketiga tersangka ini berasal dari Desa Wakal, ” tandas Tatuh.

Menurut dia, guna mengatasi masalah ini, juga telah dilakukan mediasi perdamaian antara warga Hitumesing dan Wakal sudah dilakukan. Mediasi melibatkan TNI dan Polri maupun dari Pemkab Maluku Tengah (Malteng). Hal ini dilakukan untuk mengatasi konflik yang terjadi antara kedua negeri bertetangga tersebut. “Kita sudah lakukan pertemuan dengan kedua kepala desa. Kita bicarakan di kediaman masing-masing. Intinya agar masing-masing menahan diri dan memberikan kesempatan kepada Polri agar segera menangkap pelaku,” tandasnya.

Dipastikan, dalam pertemuan itu juga dibicarakan agar diserahkan sepenuhnya kepada aparat keamanan untuk menuntaskan kasus ini sesuai hukum yang berlaku. “Kita juga sudah bicarakan agar kedua desa jangan sampai terpengaruh sehingga bisa menjaga situasi yang sudah kondusif. Kita akan lakukan penyelidikan untuk menuntaskan kasus ini sesuai dengan hukum yang berlaku,” tandas dia.

Dalam proses mediasi yang dihadiri petinggi TNI/Polri dan Pemkab Malteng itu juga dibicarakan masalah keamanan antara kedua desa. “Masyarakat juga harus tetap tenang. Percayakan kepada pihak aparat keamanan untuk menangkap pelaku. Pertemuan hasilnya itu, pelaku harus ditangkap. Kita juga sudah sampikan bila ada isu-isu yang dicurigai jangan mengambil tindakan sendiri, tetapi harus melaporkan kepada pihak keamanan yang telah ditempat di kedua tersebut,” tuturnya.

Dia memastikan, keamanan saat ini sudah kondusif. Namun, sebagai antisipasi, sekitar 332 personil TNI dan Polri telah diturunkan untuk melakukan pengamanan. “Ada 322 personil gabungan disigakan di sana untuk lakakukan pengamanan. Aparat gabungan dari TNI, Brimob, Unit Sabhara Polda dan Unit PRC dari Polres Ambon,” jelasnya

Kasat Reskrikm Polres Ambon AKP Teddy yang dikonfirmasi terkait tiga tersangka yang sudah diamankan enggan memberikan komentar. “Nanti dengan pak kapolres,” kata Teddy.
Semantara Kapolres AKP Sucahyo Hadi yang dihubungi via selulernya juga enggan memberikan komentar. “Nanti dengan pak kabid saja,” kata Kapolres singkat melalui pesan singkatnya (SMS), kemarin.

Bentrok antar warga Desa Wakal dan Desa Hitumessing ini sudah seringkali terjadi. Kali ini, motifnya karena kasus kecelakaan lalulintas dikawasan Dusun Waipokol.  Lakalantas itu berujung aksi saling serang antar kedua warga diperbatasan. Akibatnya tiga warga asal Desa Hitumessing dan satu warga Desa Laha tewas dan dua warga Wakal luka-luka.

Aparat gabungan diterjunkan ke perbatasan kedua desa tersebut, untuk menghentikan aksi kedua warga. Para korban bentrokan kini telah dimakamkan. “Ada korban jiwa dari Hitumessing, sedangkan Wakal hanya luka,” tandas Tatuh.

BENTROK WARGA DI SBB
Tak hanya di Desa Wakal dan Desa Hitu, bentrokan juga terjadi di Dusun Pakarena dan Kelapa Dua, Desa Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Bentrokan yang menimpa kedua dusun bertetangga itu, disebabkan karena adanya penganiyaan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda asal dusun tersebut, terhadap salah satu pemuda asal Dusun Pakarena.

Aksi penganiayaan itu, berujung pada terjadinya konsentrasi massa hingga kemudian, aksi saling serang dengan menggunakan senjata tajam tak bisa dibendung lagi. Aparat keamanan dari Polsek maupun Koramil Kairatu tiba dilokasi kejadian tak mampu menghentikan kemarahan warga kedua dusun.

Aksi saling serang itu berujung pada terjadinya pembakaran dua rumah warga, serta sejumlah rumah warga di kawasan perbatasan dusun tersebut, mengalami kerusakan. Aksi ini juga mengakibatkan arus lalulintas dengan tujuan Masohi-Kairatu maupun sebaliknya lumpuh total selama beberapa jam.

Kapolres SBB, AKBP Agus Setiawan menjelaskan, pihaknya bersama pemerintah kabupaten telah melakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat maupun pemuda dari kedua dusun guna menyelesaikan persoalan itu. “Tadi sore (kemarin), pertemuan telah kami lakukan bersama para tokoh dari kedua dusun itu (Pakarena-Kelapa Dua), yang dipimpin pak Wakil Bupati untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi saat lebaran kemarin. Kedua masyarakat juga telah bersepakat untuk berdamai,” kata Agus ketika dihubungi koran ini, kemarin.

Menurut dia, meski telah ada kesepakatan damai, namun personil tetap disiagakan diperbatasan kedua dusun. Hal itu guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan kembali terjadi. “Mereka sudah bersepakat untuk berdamai, dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk memproses peristiwa tersebut sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Ada sekitar 50 personil gabungan TNI/Polri kami siagakan diperbatasan kedua dusun,” jelas dia.

DIMINTA BERSABAR
Sementara itu, Sekretaris Komisi Dakwah MUI Maluku, Ustadz Arsal Tuasikal menghimbau agar masyarakat muslim di Maluku tetap menjaga kerukunan dan perdamaian di daerah. MUI sangat prihatin atas peristiwa bentrok antar warga yang terjadi di Jazirah Leihitu pasca lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah (2017). “Mewakili MUI Maluku, kami sangat prihatin dan mengecam peristiwa tersebut. Bentrokan yang mengakibatkan korban jiwa ini, justru terjadi dalam suasana Idul Fitri. Padahal seharusnya menjadi suasana damai dengan penuh rasa maaf serta kasih sayang. Karena selepas melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan,” terang Ustadz Arsal kepada Ambon Ekspres, Rabu (28/6).

Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi catatan bersama bagi para tokoh agama, tokoh adat, maupun tokoh masyarakat. Yang didukung pemerintah daerah beserta TNI/Polri, untuk bisa mengantisipasi apa yang menjadi pemicu bentrokan. Sehingga tidak lagi terulang setiap memperingati hari-hari besar keagamaan. “Ini perlu menjadi catatan bersama, untuk memperbaiki dan mengantisipasi di tahun-tahun berikutnya. Sehingga tidak ada lagi bentrokan yang terjadi setiap momentum hari-hari keagamaan,” pesannya.

Direkrut Pusat Kajajian Dakwah Maluku (PKDM) ini turut belasungkawa atas meninggalnya beberapa warga akibat bentrokan tersebut. Dan berharap, agar keluarga korban sepenuhnya iklas dan menyerahkan seluruh persoalan ini kepada pihak yang berwajib.

Sementara untuk aparat keamanan, diminta untuk bisa melakukan razia khusus terhadap minuman keras (miras) yang diduga menjadi pemicu dalam setiap bentrokan warga. “MUI Maluku turut prihatin atas musibah yang terjadi. Semoga ditempatkan di sisi Allah SWT. Dan bagi para keluarga korban untuk bisa bersabar hati dan menyerahkan persoalan ini kepada aparat kepolisian, dalam mengusut kasus ini untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat. Dan bagi aparat keamanan untuk terus melakukan razia miras di segala tempat. Karena sebagian besar, bentrokan warga yang terjadi, pemicunya adalah pengaruh miras,” ingatnya. (ERM/AHA/ISL)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!