Assagaff Tebar Pesan Kedamaian – Ambon Ekspres
Features

Assagaff Tebar Pesan Kedamaian

PUKUL SAPU: Atraksi pukul sapu yang berlangsung di Negeri Morella Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (2/7). Tradisi ini dilaksanakan tiap 7 Syawal.

AMEKS ONLINE, AMBON.––Pasca konflik antar kampung beberapa waktu lalu, kini diberbagai kesempatan Gubernur Maluku Said Assagaff mengajak masyarakat untuk selalu menjaga dan memelihara situasi maupun kondisi keamanan. Menurutnya, konflik tidak akan membawa manfaat apapun baik bagi kehidupan masyarakat di daerah ini.

Yang tersisa dari konflik, hanyalah penderitaan semata. Untuk itu masyarakat perlu untuk terus menanamkan perdamaian bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. “Mamala dan Morela, dulunya dikenal sebagai daerah konflik. Tetapi kini telah berubah menjadi daerah yang sangat damai. Daerah yang cinta akan perdamaian. Tradisi pukul sapu menjadi ikon kedua negeri, yang terus dipelihara dan dijaga sebagai wujud perdamaian dan persaudaraan,” kata Assagaff saat menghadiri pelaksanaan bakupukul sapu di Desa Mamala, Minggu (2/7).

Menurut dia, Maluku sebagai negeri raja-raja kaya akan adat dan budaya. Adat dan budaya, kata dia, patut untuk disimpan maupun dirawat. Karena menjadi corong pedamaian bagi kehidupan orang bersaudara di bumi seribu pulau ini. “Masyarakat Leihitu, memiliki adat dan budaya yang sampai saat ini terus dijaga mesti pengaruh globalisasi terus mewarnai kehidupan yang ada. Tetap masih dipelihara. Karena ini wujud dan simbol ikatan persaudaraan maupun pedamaian. Salah satunya Mamala dan Morella,” jelas dia.

Tak hanya di Desa Mamala dan Desa Morella, pesan perdamaian juga disampaikan Assagaff saat meresmikan Gereja Ebenhaezer, di Desa Kariu, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Pembangunan Gereja Ebenhaezer dilakukan sejak 2008 silam oleh seluruh masyarakat Pulau Haruku dan gandong Booi, Aboru dan Hualoy. “Saksi sejarah semua anak Pulau Haruku bahwa persaudaraan gandong Booy, Aboru, Kariu dan Hualoy adalah manifestasi dari perdamaian orang basudara yang telah dilakukan di bumi Pulau Haruku. Dari Haruku ini, kita tunjukan perdamaian bagi seluruh masyarakat Maluku,” kata Assagaff, terpisah.

SAHDAN FABANYO/AMEKS
PUKUL SAPULIDI Atraksi pukul sapu yang berlangsung di Negeri Morella Kabupaten Maluku Tengah,Minggu (2/7), tradisi ini di lakukan tiap tahun setelah selesai Ramadhan tepat 7 Syawal 1348 H.

Assagaff mengaku, perbedaan bukan hal yang dipertentangkan, melainkan patut untuk disyukuri, karena itu merupakan karunia Tuhan bagi seluruh manusia dalam memelihara perdamaian di Maluku. “Perbedaan itulah yang membuat adanya pela-gandong. Pela-gandong sesungguhnya telah menjadikan Maluku sebagai laboraturium perdamaian bagi dunia,” tuturnya.

Dikatakan, wujud dari pela-gandong yang ditunjukan oleh masyarakat Booi, Aboru dan Hualoy, serta seluruh masyrakat pulau Haruku, terlihat jelas di gedung gereja tersebut. “Gereja ini mengabadikan spritual ikatan pela-gandong dalam kekuatan yang luhur dan utuh. Sebab ternyata tangga naik menuju gereja, dibuat oleh basudara salam Hualoy, sedangkan meja perjamuan kudus dibuat gandong Aboru dan mimbar gereja dibuat basudara Booi, sementara bangunan gereja dikerjakan oleh seluruh masyarakat Pulau Haruku,” paparnya.

Dengan contoh tersebut, lanjut dia, maka mestinya ikatan pela gandong, maupun adat dan budaya, selalu dijadikan garda terdepan dalam memelihara situasi dan kondisi keamanan di Maluku. “Mari kita sadar, konflik tidak ada manfaat. Tetapi dengan adat, budaya pela dan gandong itulah, yang mestinya kita jadikan sebagai alat perdamaian. Karena perdamaian itu akan membawa dampak positif bagi kehidupan, kesejahteraan dan kemajuan daerah ini,” tegas dia.

SAHDAN FABANYO/AMEKS
PUKUL SAPULIDI Atraksi pukul sapu yang berlangsung di Negeri Morella Kabupaten Maluku Tengah,Minggu (2/7), tradisi ini di lakukan tiap tahun setelah selesai Ramadhan tepat 7 Syawal 1348 H.

Akademisi IAIN Dr Abdul Manaf Tubaka  mengatakan, langkah gubernur mestinya didukung oleh seluruh seluruh elemen masyarakat  yang ada. “Nah pesan-pesan perdamaian yang disampaikan oleh pak gub (gubernur), merupakan sebuah langkah yang bijak. Dalam artian membangun kesadaran masyarakat, agar tidak lagi hidup dalam kondisi amarah, ataupun sosiologi masyarakat, yang mudah untuk berkonflik,” kata dia saat dihubungi terpisah.

Dirinya mengaku, salah satu wujud perdamaian dan toleransi kini, telah ditunjukan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat yang ada di Maluku. Hanya saja, terkait dengan persoalan konflik itu, Tubaka mengaku, dikembalikan kepada setiap individu masyarakat yang ada. “Contoh kasus Latu-Hualoy yang terjadi kemarin, bisa diselesaikan dengan secepatnya. Kemudian proses pembangunan gereja di Kariu, yang telah diresmikan oleh pak gubernur tadi. Dimanan pembangunan gereja itu, melibatkan seluruh masyarakat Haruku, baik Salam maupun Sarane. Kemudian ada masyarakat Hualoy, Booi dan Aboru. Ini wujud toleransi yang nyata. Kemudian disisi lain untuk konflik sebenarnya masyarakat itu harus patuh dan taat akan hukum. Bila terjadi sesuatu harus diserahkan kepada negara atau hukum,” tandasnya.(AHA)

Most Popular

To Top