Kisah Ajaib Jatuh Bangun Berjuang Lawan Dua Kanker – Ambon Ekspres
Features

Kisah Ajaib Jatuh Bangun Berjuang Lawan Dua Kanker

Cindy Audina

Setelah Siapapun yang mendengar kisah gadis 21 tahun, Cindy Audina, pasti tercengang dan tak percaya. Cindy menuangkan seluruh kisah ajaibnya dalam sebuah buku yang ditulisnya sendiri. Judulnya, Nama Tengah Ku “Mukjizat”, kisah nyata dari seorang yang menang melawan kanker.

Cindy merupakan satu dari jutaan anak yang mengalami kanker. Setengah usia dari hidupnya dihabiskan untuk berobat. Cindy divonis mengidap dua kanker saat usia sembilan tahun. Usia dimana dirinya masih polos dan ceria bermain bersama teman-teman sebayanya. Sejak itu, Cindy berjuang melawan kanker darah (leukemia) dan kanker getah bening.

Cindy mengaku sempat kecewa dan bertanya pada Tuhan mengapa dirinya yang diserang sel ganas itu. Dengan polosnya, Cindy bertanya pada orang tuanya. Karena dia tentu lelah harus menjalani serangkaian pengobatan bertahun-tahun. “Mengeluh sih enggak, jalani saja saat itu pengobatan yang harus dilakukan. Namanya juga anak-anak hanya bertanya sama Mama, kenapa harus aku yang kena kanker, seolah saya ditakdirkan untuk kanker. Saya bertanya saat itu, padahal saya anak baik yang rajin berdoa,” tutur gadis kelahiran 4 September 1996 itu.

Cindy menjalani pengobatan selama hampir empat tahun di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM). Seseorang bisa dikatakan survivor kanker atau sembuh dari kanker, jika dia sudah dinyatakan bersih selama lima tahun dari penyakit ganas itu. Selama lima tahun terakhir, Cindy juga terus melakukan pemeriksaan berkala untuk memastikan sel itu tidak lagi mengganas dari tubuhnya. “Di dalam buku ini ada cerita dari awal saya belum kena kanker sampai gimana perjuangannya, sampai sembuh, jatuh bangun dan menjadi survivor. Karena menjadi survivor setelah sembuh dari kanker perjuangannya enggak berhenti ya, masih ada masa pemeliharaan yang terus dijaga,” ungkap Cindy.

Cindy menjalani pengobatan kemoterapi selama tiga tahun. Saat itu, padahal dia sudah terkena kanker leukemia stadium III dan sebagian paru-paru kirinya sudah dipenuhi kanker getah bening. Menurutnya, kanker anak bukan penyakit keturunan ataupun menular. Namun Cindy tak pernah mengeluh meski dirinya terpilih untuk kanker. “Keluarga enggak ada riwayat kanker. Perjuangan jatuh bangunnya itu saya sempat koma juga. Saya menjalani kemoterapi tentu panas, mual, muntah, lemas, tulang ngilu, badan kurus enggak nafsu makan. Saya sempat botak tiga kali,” ungkap Cindy.

Dia tak pernah menyangka saat kanker menyerang saat dia duduk di bangku SD. Saat itu gejala awalnya Cindy sering jatuh lemas dan mengalami pendarahan yang sukar berhenti saat jatuh ataupun cabut gigi. Saat berobat ke dokter, awalnya Cindy hanya divonis pembengkakan jantung dan tipes. Namun ternyata akhirnya hasilnya kanker.
“Selama pengobatan, saya sempat ke Penang Malaysia lalu pulang ke Jakarta. Saat sampai di sana ditolak secara halus, karena penyakit saya sudah parah, dan katanya pengobatan di Jakarta justru sudah bagus untuk kanker anak. Dan saat itu profesornya enggak ada,” kata warga Bekasi ini.

Cindy menjalani kemoterapi hampir tiap minggu. Saat berada di bangsal rumah sakit, Cindy merasa hanya tinggal menunggu giliran kapan dipanggil Tuhan. “Selama menjalani pengobatan, namanya anak-anak ya jalan saja, mengeluh sih mungkin iya. Di rumah sakit ada bangsal 14 pasien yang selalu ganti pasien karena meninggal, lalu meninggal yang lainnya. Oke jadi giliran saya kapan nih ? Ternyata saat bangun, masih dikasih sehari lagi untuk hidup, dan sehari lagi untuk hidup,” ungkap Cindy.

Selama terkena kanker, Cindy mengaku bersyukur karena banyak didukung penuh oleh keluarga besar. Hampir tiap hari kamarnya ramai oleh keluarga yang membesuknya. Menurutnya, penderita kanker akan lebih semangat jika ada dukungan penuh oleh keluarga. Karena itu, sejak awal divonis kanker, prestasi Cindy di sekolah tak menurun. Justru Cindy meraih nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi saat SD. Saat SMP dan SMA pun, Cindy aktif dalam organisasi OSIS. Meskipun demikian, dia seringkali izin kepada guru untuk berobat. “Memang saya sempat cuti sekolah satu tahun, dan dalam seminggu bisa dua sampai tiga hari enggak sekolah karena izin berobat. Tapi prestasi saya enggak menurun, kini saya juga masih kuliah,” kata mahasiswi London School jurusan Ilmu Komunikasi ini.

Cindy berharap dengan buku yang ditulisnya itu dapat membuat para pasien kanker lebih optimis untuk berjuang melawan sel ganas. Dia mengakui sel kanker memang tak pernah mati, tetapi hanya tidur. Para survivor kini hanya tinggal menjaga pola makan dan gaya hidupnya agar tak terjadi kekambuhan. Karena Cindy dan keluarganya sudah berjuang banyak melawan kanker sampai menjual rumahnya untuk pengobatan. “Banyak pasien kanker yang lebih semangat jika survivor yang bicara, bahwa kami buktikan kami pun bisa berjuang. Dan saya ingin mematahkan banyak cerita di film bahwa akhir kisah penderita kanker pasti meninggal, itu membuat pasien lainnya down. Saya berharap setelah buku ini, akan ada film yang mengisahkan pejuang kanker dengan akhir yang tak lagi sad ending,” tutupnya.(CR1/JPG)

Most Popular

To Top