Pembunuh TNI Dituntut Seumur Hidup – Ambon Ekspres
Hukum

Pembunuh TNI Dituntut Seumur Hidup

Ilustrasi/Net

AMEKS ONLINE, AMBON.–Rendi Kakilete, terdakwa pembunuh anggota Satgas TNI BKO di Negeri Latea, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Malteng dituntut penjara seumur hidup. Tuntutan ini dibacakan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Malteng pada persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Selasa (11/7).
Sidang dengan agenda pembacaan tuntutan itu dipimpin majelis hakim yang diketuai Herry Setiabudi dibantu Sofyan Palenrungan dan Jenny. Persidangan dikawal ketat aparat kepolisian.

Menurut JPU, terdakwa terbukti melanggar pasal 340 KUHPidana, pasal 338 KUHPidana, Pasal 351 ayat (3) KUHPidana dan Pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 tahun 1951. “Menuntut, meminta kepada majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar menjatuhkan hukuman penjara terhadap terdakwa Rendy Kekilete alias Rendy dengan pidana penjara seumur hidup,” ucap JPU.

Dalam pertimbanganya, JPU menilai perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur. Dimana dari semua keterangan saksi-saksi yang dihadirkan dalam sidang memberikan keterangan yang sama dengan terdakwa serta didukung dengan alat bukti lainya.

Akibat perbuatan terdakwa, Pratu Ansar Kurniawan meninggal dunia. Kejadian ini berawal saat Pratus Yahya dan Prada Agung selaku saksi mendapatkan perintah Komandan Pos (Danpos) Sertu Suwardi ke Dusun Marhunu untuk menjemput Hany. Hanny diduga menganiaya Novi. Keduanya merupakan warga di dusun setempat.

Setelah mendapat perintah, saksi Pratu Yahya dan saksi Prada Agung langsung menuju lokasi kejadian menggunakan kendaraan bermotor. Sampai di Dusun Marhunu, keduanya berhenti didepan rumah Kepala Dusun Elson Kakilete dan bertemu Pratu Ansar Kurniawan (korban) yang terlebih dahulu berada di tempat tersebut. Bersama kepala dusun, korban dengan kedua anggota lainnya menuju rumah Hany bersama dengan Novi.

Dalam perjalan ke rumah Hany, korban dan rekan-rekan lainnya melihat Rendy dengan saksi Yolanda Limehuei duduk diteras rumah itu. Pratu Yahya memegang senter. Sinar senter diarahkan kepada Rendy dan Yolanda Limehuei. Terdakwa tak senang, dia pun berteriak agar jangan senter matanya.

Pratu Yahya lantas mengalihkan senternya kearah jalan. Rendi lantas balik mengarahkan senternya yang sedang menyalah ke arah Pratu Yahya, Prada Agung dan Pratu Ansar Kurniawan. Dia menegur ketiga angota TNI ini.

Mendengar teguran Rendy, korban tak terima. Terjadi ketegangan. Prada Agung mencoba melerai ketegangan itu dengan menarik korban mundur. Setelah percekcokan dengan korban, Rendy pulang ke rumah dan dan mengambil pisau. Dia keluar dan dalam perjalanannya bertemu korban. Tanpa basa-basi, pisau ditangan Rendy ditancapkan ke tubuh korban yang akhirnya meninggal dunia.

Usai mendengar pembacaan tuntutan, majelis hakim kemudian menunda sidnag hingga Selasa (18/7) pekan depan dengan agenda pembacaan pembelaan. Sementara terdakwa dengan tangan terborgol digiring ke Rutan Polda Maluku Tantui.

Diluar perisdangan, kuasa hukum terdakwa, G J Batmomolin kepada wartawan mengaku, pertimbangan hukum yang diuraikan JPU terhadap klienya sangat memenuhi unsur perbuatan pidana. “Bagi kami uraian JPU jelas memenuhi unsur. Dan bagi kami, sesuai waktu yang diberikan majelis hakim maka selanjutnya akan kami sampaikan pembelaan dengan hanya memohon keringanan,” akui Batmomolin.(NEL)

Most Popular

To Top