Nafrua-Waeflan Jadi Desa Binaan Untuk MPA

by

Ia menjelaskan, pembentukan MPA ini didahului dengan penetapan desa sasaran, meliputi desa yang berbatasan dengan kawasan hutan, rawan kebakaran lahan dan berpotensi meluas ke hutan luas. Pembentukan MPA dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan seperti perencanaan, persyaratan, pembekalan, dan penetapan.
Sedangkan calon anggota MPA berasal dari desa sasaran yang berada dalam satu kecamatan atau desa-desa yang berbatasan dengan kawasan hutan, dan diusulkan oleh perangkat desa atau kecamatan yang membawahi desa sasaran.

Dan setiap calon anggota MPA diharuskan untuk mengikuti pembekalan teknis yang berupa materi teori dan praktek yang disampaikan melalui metode ceramah, diskusi dan simulasi.
Sementara Kepala KPH Waitina, Mona Tualeka yang merupakan fasilitator kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan ini sangat penting untuk masyarakat pedesaan yang berdomisili di kawasan hutan di Kabupaten Buru agar mereka lebih sigap dan tanggap dalam pencegahan terhadap kebakaran hutan. “Kalau bisa sebelum terjadi kebakaran, masyarakat desa binaan sudah lebih duluan melakukan pencegahan,” jelasnya.

Ia menjelaskan, alasan pemilihan Desa Nafrua dan Desa Waeflan karena kedua desa ini wilayahnya merupakan areal kayu putih, dimana setiap tahunnya sering terjadi kebakaran, baik disengaja maupun tidak disengaja oleh oknum masyarakat.
Karena lanjut dia, masih ada masyarakat yang berpikir kalau membakar lahan kayu putih maka akan tumbuh anakan kayu putih baru dengan kualitas bagus. “Masih ada persepsi masyarakat bahwa dengan membakar lahan, maka tanaman kayu putih akan semakin dan cepat mengeluarkan daun. Ini persepsi yang keliru dan perlu diubah sehingga kerusakan hutan dapat dihindari, dan masyarakat dapat menikmati manfaatnya,” tandasnya. (DHE)

2 of 2Next