Dua Tahun Tempuh Jarak Sejauh 30.000 Kilo, Belum Ada Separo Finis – Ambon Ekspres
Features

Dua Tahun Tempuh Jarak Sejauh 30.000 Kilo, Belum Ada Separo Finis

NEKAT: Josiah Skeats, bule asal London, keliling dunia naik sepeda sendirian.

Niat utama Josiah Skeats adalah berkeliling dunia. Dia memilih caranya sendiri dengan bersepeda tanpa teman. Berangkat dari Inggris dua tahun lalu hingga tiba di Kota Madiun pekan ini, jarak yang sudah ditempuh belum ada separo finis. Bagaimana suka dan dukanya?

DENI K dan CHOIRUN N, Madiun

KENDATI bersepeda menempuh jarak teramat jauh, kelelahan tidak tampak dari Josiah Skeats. Wajahnya tetap saja memerah. Pigmen kulitnya menyerupai tomat matang lantaran terpapar sinar matahari.
Lumayan haus si bule asal London, Inggris, itu. Sebotol air mineral diteguknya sekali habis ketika rehat di Jalan Cokroaminoto Kota Madiun.  ‘’Saya berangkat dari Inggris tanggal 24 Mei 2015,’’ ungkap Skeats dengan bahasa ibunya.

Ya, dua tahun sudah Skeats memulai traveling gilanya. Dia menggenjot pedal sepeda jenis slow cycle tours dari kampung halamannya. Skeats tidak mengenal nazar hingga harus berkeliling dunia seorang diri. Tatkala didesak, dia mengaku sebatas ingin bersepada jauh. ‘’Singgah di Madiun sekalian mengunjungi teman,’’ akunya.

Skeats memiliki sahabat di Kota Madiun. Dia menemui Grant Erlangga di diler Kawasaki, Rabu (19/7) sekitar pukul 08.30 WIB. Teman kuliah Grant di Australia mengenalkannya dengan Skeats. Keramahan dirasakan bule 24 tahun itu saat dijamu keluarga Grant. ‘’Seharusnya sampai di Madiun kemarin malam dan menginap di rumah Grant. Kehujanan saat di Magetan,’’ jelas Skeats.

Dia mengacungi jempol atas keramahan penduduk Indonesia. Ketika kehujanan di Magetan, misalnya, Skeats sudah bersiap mendirikan tenda di trotoar untuk bermalam.

Namun, salah seorang warga berinisiatif mengajak menginap di rumahnya. Skeats lantas melanjutkan perjalanan esok harinya setelah sarapan bareng tuan rumah. ‘’Makanan Indonesia enak,’’ ujarnya terbata dengan bahasa Indonesia.

Di negara asalnya, tidak ada yang peduli saat melihat orang kemalaman hingga terpaksa tidur di pinggir jalan. Skeats juga merasakan kecuekan itu ketika menghadapi masalah di sejumlah negara luar Indonesia yang disinggahinya. Setiap kali mendapatkan problem, dia selalu bertanya kepada warga lokal lantaran bepergian hanya seorang diri.  ‘’Di Indonesia banyak mendapat kemudahan,’’ akunya.

Skeats sempat mengurut rendang, tempe, sate, dan es campur sebagai makanan favoritnya. Pun, dia tidak sabar lagi ingin mencicipi nasi pecel seperti yang diiming-imingkan Grant.

Puluhan ribu kilometer jarak yang sudah ditempuh Skeats. Mulai keberangkatannya dari London, lalu berkeliling ke negara-negara Eropa Timur, menjelajah Asia bagian barat dan selatan, dilanjutkan Asia Tenggara.

Jika dihitung-hitung, jaraknya sejauh 30 ribu kilometer. Dia melintasi 31 negara selama dua tahun. Traveling gila Skeats ternyata belum ada separo untuk kembali finis ke negara asalnya. Dia tidak pasang target kapan harus pulang ke London. ‘’Berkeliling dunia, bersenang-senang,’’ ucapnya.

Skeats sengaja memilih traveling keliling dunia dengan caranya sendiri. Perlengkapan seperlunya dimasukkan ke tas yang menggantung kanan dan kiri di roda depan serta belakang. Dia membawa tenda, pakaian, dan peranti bengkel sepeda. Skeats mengaku sudah mendapat izin dari orang tuanya. Uang bekalnya 4 ribu US dolar.‘’Orang tua saya malah ingin ikut,’’ ujar sulung empat bersaudara pasangan Marteen dan Zenia itu.

Dua tahun berpisah dengan keluarga membuatnya pernah home sick. Terlebih pada ketiga adiknya, Daniel, Reubbon, dan Maryam. Apalagi, si bungsu Maryam kini baru berusia 13 tahun. Skeats paling kangen kepada Maryam. ‘’Anehnya, saya tidak merindukan London. Saya hanya merindukan keluarga,’’ terangnya.

Menempuh jarak yang sangat panjang, sejumlah kendala tak luput menghampiri. Skeats mengaku sempat terserang flu ketika berada di Kazakhstan hingga terpaksa rehat beberapa hari.

Belajar dari pengalaman tidak mengenakkan itu, dia lebih ekstra menjaga kesehatan. Skeats mewajibkan 5.000 kalori masuk ke tubuhnya tiap hari. Jumlah ini seukuran lima hingga tujuh kali makan per hari. ‘’Istirahat setelah dua jam bersepeda, di mana saja,’’ tuturnya.

Skeats sejatinya tidak memilih-milih makanan. Dia kerap membeli makanan di pinggir jalan. Sebab, Skeats sengaja berhemat agar uang sakunya cukup hingga kembali ke London.  Bersepeda membuatnya selalu lapar. Saat berbincang soal makanan, perutnya seolah ikut bicara minta isi. ‘’Bersepeda memerlukan banyak tenaga,’’ ungkapnya.

Pengorbanan dilakukan Skeats demi obsesinya nggowes keliling dunia. Dia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai tenaga pengajar di London. Kesibukannya sebagai instruktur ski juga ditanggalkannya. Meski begitu, dia merasa tidak menyesal. ‘’Ada kepuasan tersendiri kalau saya mampu menyelesaikan rute panjang ini,’’ tegas sarjana hukum itu.(JPNN)

Most Popular

To Top