Pemilik Lahan Tawiri Mangkir – Ambon Ekspres
Hukum

Pemilik Lahan Tawiri Mangkir

FOTO: Samy sapulette

AMEKS ONLINE, AMBON.–Tiga kali dipanggil jaksa, Hendro Lumangko mangkir. Dia diketahui, dipanggil tim penyidik Kejati Maluku untuk diperiksa sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi pengadaan lahan di Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon tahun 2015 senilai Rp 3 miliar.

Dia sebelumnya dipanggil pada Senin (17/7), namun berhalangan hadir. Ia meminta untuk diperiksa Selasa (18/7), tetapi lagi-lagi tidak memenuhi panggilan jaksa penyidik. Pemilik lahan seluas 4.485 meter persegi di Desa Tawiri itu untuk panggilan ketiga pada Jumat (21/3) kemarin namun lagi-lagi tidak hadir. “Panggilanya sudah tiga kali, namun yang bersangkutan tidak hadir. Apa alasannya, tidak diketahui. Dengan demikian, akan dilihat dan di agendakan lagi oleh penyidik,” ucap Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette kepada Ambon Ekspres via seluernya.

Menurut Samy, penyidik sangat berkepnetingan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Lumangko. Karena pemeriksaan tersebut merupakan kepentingan penyidik dalam melaksanakan serangkaian penyidikan dalam melengkapi berkas perkara milik tersangka mantan KTU BPJN Wilayah IX Maluku dan Malut, Zadrack Ayal. “Sangat diharapkan agar bersangkutan dapat hadir dan proses penganan atas perkara tersebut dapat dipercepat. Selain untuk melengkapi berkas perkara tersangka juga untuk kepentingan audit kerugian keuangan negara dalam kasus tersebut,” jelas Samy.

Diberitakan sebelumnya, Hendro Lumangko mendatangi kantor Kejati Maluku, Rabu (15/3). Ia datang menyerahkan dokumen yang diminta. Hendro Lumangko adalah pemilik lahan di Desa Tawiri. Jual beli lahan ini sarat kongkalikong dan berbau mark up. Betapa tidak, lahan seluas 4.485 meter persegi itu, awalnya dibeli Hendro dari keluarga Atamimy dengan harga Rp 300 ribu per meter persegi. Setelah kurang lebih dua minggu, lahan ini kembali dijual kepada BPJN IX Maluku dan Maluku Utara dengan harga Rp 600 ribu per meter persegi.
Penyidik telah menetapkan mantan KTU BPJN IX Maluku dan Maluku Utara, Zadrack Ayal sebagai tersangka. Hingga kini belum ada tersangka baru.

Saat diperiksa, Zadrack Ayal mengaku, lahan yang dibeli oleh BPJN IX Maluku dan Maluku Utara tahun 2015 di Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, seluas 4485 meter persegi tak sesuai NJOP. Kasubbag Tata Usaha pada Kementerian Pekerjaan Umum Dirjen Bina Marga ini dicecar 46 pertanyaan berkaitan dengan proses pengadaan lahan yang dibeli dari Hendro Lumangko.

Dalam pemeriksaan, Ayal mengaku, kalau lahan yang dibeli oleh BPJN tidak berdasarkan NJOP melainkan harga pasar. “Harganya berpatokan pada harga tanah di Dermaga Tawiri senilai Rp 550 ribu per meter persegi sehingga dibulatkan menjadi Rp 600 ribu,” jelas sumber di Kejati Maluku.

Ayal juga mengakui, proses pembelian lahan itu juga tanpa melalui appraisal. Dia hanya berproses dengan Hendro Lumangko selaku pemilik lahan. Menurut Ayal, pembelian lahan dilakukan tanpa berpatokan pada NJOP karena lahan yang dibeli berskala kecil atau di bawah 5 hektar.
(NEL)

Most Popular

To Top