Pelindo IV Bangun Konektivitas Domestik di Pelabuhan KTI – Ambon Ekspres
Ekonomi

Pelindo IV Bangun Konektivitas Domestik di Pelabuhan KTI

Direktur Utama Pelindo IV, Doso Agung saat memaparkan manfaat konektivitas domestik di Provinsi Sulawesi Selatan dalam acara Misi Dagang Lokal, di Kota Ambon, Minggu(30/7). Icha Wurlianty

AMEKS ONLINE, AMBON.–Salah satu bentuk upaya yang dilakukan BUMN Hadir Untuk Negeri bertujuan untuk menciptakan kondisi dan mendorong agar BUMN di Indonesia dapat memberikan sumbangan yang terbaik bagi negeri dan rakyat, adalah melalui PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) yang terus mengupayakan membangun konektivitas domestik di semua pelabuhan Kawasan Timur Indonesia (KTI) guna memudahkan masyarakat mendapatkan barang dengan harga terjangkau.

Direktur Utama Pelindo IV Doso Agung mengatakan, saat ini masih banyak daerah di KTI yang sulit mendapatkan barang kebutuhan. Selain waktu pengirimannya lama, harga barang juga relatif mahal akibat biaya tinggi karena belum ada konektivitas langsung. Sebagai contoh, saat ini tidak ada angkutan langsung Makassar-Papua-Makassar ataupun Makassar-Ambon-Makassar. Selama ini angkutan dilakukan via Surabaya dan Jakarta.

Akibatnya, biaya angkut lebih mahal karena tambahan pengangkutan 4-8 hari untuk mencapai daerah tujuan di KTI. “Kita akan menata konektivitas domestiknya. Sekarang ini kami sudah kerjasama dengan perusahaan pelayaran nasional, untuk mengkonekkan Makassar dan Maluku. Zaman dulu tidak ada kapal dari Makassar langsung ke Ambon atau Papua pasti lewat Surabaya, sehingga costnya dari Makassar ke Papua 4 hari pelayaran, Makassar ke Surabaya 4 hari, total 8 hari perjalanan. Oleh sebab itu, Pelindo lewat pelaksanaan misi dagang ini, kami bagikan pengalaman apa yang sudah kita terapkan di Provinsi Sulawesi Selatan dapat juga diterapkan di Provinsi Maluku,” kata Doso kepada Ambon Ekpres, Minggu (30/7).

Dikatakan, dengan penataan konektivitas ini, cost yang bisa Pelindo pangkas adalah 50 persen untuk para pengusaha. “Kami rencanakan mulai Agustus ini, sesuai dengan arahan Gubernur Sulawesi Selatan dan program Pelindo IV, kita kerjasama dengan perusahaan pelayaran nasional untuk menjadikan Pelabuhan di Yos sudarso menjadi konsulidasi ekspor ke Makassar termasuk yang domestik, sehingga harga di KTI akan bersaing,” paparnya.

Sebagai contoh, kerjasama dengan PT Tonasa, Pelindo sudah melakukan perdagangan semen ke Papua. Sebelumnya mau ke Papua harus lewat Surabaya, sekarang sudah bisa langsung ke Papua dan bisa lakukan ekspor ke Makassar. “Harga semen di Papua itu sekarang turun 17 – 20 persen. Kami akan perbaiki sistem ini sampai dengan harga semen satu harga di KTI seperti layaknya BBM. Kami diskusikan terus bagaimana bekerja untuk negara lewat sinergi antara BUMN, untuk menyelesaikan sebagian masalah negara terkait logistik. Dimana logistik performend indeks kita turun sekarang ini, sementara upaya pemerintah untuk mendelegasi aturan telah membuat orang mudah membuka bisnis. SIUP tinggal daftar, tapi logistik tinggi,” bebernya.

Doso menambahkan, Pelindo akan mengupayakan bagaimana caranya, harga bisa turun dan juga komoditi lokal bisa di ekspor ke luar negeri. Dengan demikian, akan menambah perekonomian negara ini secara keseluruhan. “Jadi kami harapkan dalam misi dagang ini, harus lakukan hal yang nyata, tidak hanya teori dan konsep. Kita bawa para pengusaha ke Maluku untuk sharing pengalaman. Seperti yang disampaikan Gubernr Sulsel, dulu saya sarankan untuk bisa ekspor lewat Makassar (direct call) harus ada Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan itu terjadi, beberapa perbankan memberikan KUR. Akibatnya sekarang 60 perusahan ekspor dari Makassar ke luar negeri mencapai 50 negara dengan memanfaatkan komoditi lokal, yakni rumput laut. Makanya, pertumbuhan ekonomi Makassar luar biasa. Kalau pertumbuhan ekonomi di wilayah lain banyak dikuasi pengusaha tertentu, tapi di Makassar justru rakyat yang punya. Itu yang kita harapkan,” tegasnya.

Maluku dikatakan miliki lebih dari 1000 pulau, kata Doso, itu yang seharusnya dimanfaatkan. Banyak lokasi yang bisa ditanam rumput laut misalnya, kenapa tidak dilakukan. Artinya, banyak perairan yang dapat dimanfaatkan untuk menanam rumput laut dan kebutuhan rumput laut dunia, sekarang dipasok sebagian besar dari Indonesia. “Marketnya masih 70 persen, sehingga artinya permintaan masih besar tapi suplainya sedikit. Mari kita lakukan bersama, sehingga bukan hanya teori dan konsep tapi implementasi nyata yang dibuat. Harapan saya setelah dari Maluku nanti berhasil di Agustus nanti, otomatis bisa kita lanjutkan ke KTI lainnya,” harapnya.

Sementara, Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, direct call yang dilakukan PT Pelindo IV sangat membantu dalam meningkatkan market dan menekan angka inflasi di Makassar. “Melihat idealisme dari Pelindo IV untuk gencar melakuan ekspor langsung ini, sebenarnya menjadi peluang bagi Maluku. Jadi tidak ada lagi ekspor sampai dengan ke Surabaya dan Tanjung Priuk, ada Dirut Pelindo IV dengan berbagai idealisme untuk genjot ekspor langsung ke Makassar. Kita buat implementasi dan lihat apa saja yang bisa diimplementasikan Agustus nanti, lewat transpormasi logistik di Indonesia Timur,” tambah Gubernur.(IWU)

Click to comment

Most Popular

To Top