Seumur Hidup Buat Pembunuh TNI – Ambon Ekspres
Hukum

Seumur Hidup Buat Pembunuh TNI

Ilustrasi/Net

AMEKS ONLINE, AMBON.—Rendi Kakilete, terdakwa pembunuh anggota Satgas TNI BKO di Negeri Latea, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah divonis penjara seumur hidup. Hukuman tersebut dibacakan majelis hakim dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Selasa (1/8).

Majelis hakim yang diketuai Herry Setiabudi didampingi Sofyan Palerungan dan Jenny Tulak dalam amar putusannya menyatakan, terdakwa terbukti melanggar pasal 340 KUHPidana, pasal 338 KUHPidana, pasal 351 ayat (3) KUHPidana dan pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 tahun 1951. “Mengadili, menjatuhkan hukuman pidana dengan penjara seumur hidup,” ucap hakim ketua. Persidangan dihadiri JPU, Evi Hattu dan V Dinar serta terdakwa didampingi penasehat hukumnya, GJ Batmomolin.

Pantauan koran ini, terdakwa menggunakan kemeja putih lengan panjang dengan tangan terborgol/ Di dalam ruang sidang, terdakwa yang didampingi keluaraganya melakukan doa bersama untuk menghadapi proses pembacaan putusan yang dibacakan hakim. Saat pembacaan putusan, terlihat terdakwa mengeluarkan air mata dan merasa kecewa dengan perbuatanya yang mengakibatkan dirinya divonis seumur hidup oleh hakim.

Hakim dalam pertimbanganya menyebutkan, perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur. Dimana dari semua keterangan saksi yang dihadirkan dalam sidang memberikan keterangan yang sama dengan terdakwa serta didukung dengan alat bukti berupa sebuah pisau stenlis berukuran 11,2 cm dan juga pecahan senter serta bukti lainnya.

Oleh karena itu, akibat perbuatan terdakwa, Pratu Ansar Kurniawan meninggal dunia meninggalkan istri dan anaknya, serta korban merupakan tulang punggung keluarga. Selain itu, korban juga merupakan aset bangsa yang berprofesi sebagai anggota TNI dan terdakwa merupakan residivis dalam perbuatan yang sama.

Kejadian ini berawal saat Pratus Yahya dan Prada Agung selaku saksi mendapatkan perintah Komandan Pos (Danpos) Sertu Suwardi ke Dusun Marhunu untuk menjemput Hanny. Hanny diduga menganiaya Novi. Keduanya merupakan warga di dusun setempat.

Setelah mendapat perintah, saksi Pratu Yahya dan saksi Prada Agung langsung menuju lokasi kejadian menggunakan kendaraan bermotor. Sampai di Dusun Marhunu, keduanya berhenti di depan rumah Kepala Dusun Elson Kakilete dan bertemu Pratu Ansar Kurniawan (korban) yang terlebih dahulu berada di tempat tersebut. Bersama kepala dusun, korban dengan kedua anggota lainnya menuju rumah Hanny bersama dengan Novi.

Dalam perjalanan ke rumah Hanny, korban dan rekan-rekan lainnya melihat Rendy dengan saksi Yolanda Limehuei duduk diteras rumah itu. Pratu Yahya memegang senter. Sinar senter diarahkan kepada Rendy dan Yolanda Limehuei. Terdakwa tak senang, dia pun berteriak agar jangan senter matanya.

Pratu Yahya lantas mengalihkan senternya kearah jalan. Rendi lantas balik mengarahkan senternya yang sedang menyalah ke arah Pratu Yahya, Prada Agung dan Pratu Ansar Kurniawan. Dia menegur ketiga angota TNI ini.

Mendengar teguran Rendy, korban tak terima. Terjadi ketegangan. Prada Agung mencoba melerai ketegangan itu dengan menarik korban mundur. Setelah percekcokan dengan korban, Rendy pulang ke rumah dan dan mengambil pisau. Dia keluar dan dalam perjalanannya bertemu korban. Tanpa basa-basi, pisau ditangan Rendy ditancapkan ke tubuh korban yang akhirnya meninggal dunia.
Usai mendengar pembacaan putusan, baik JPU maupun kuasa hukum terdakwa sama-sama menyatakan pikir-pikir atas putusan hakim. Sidang pun ditutup.

Terdakwa yang masih mengeluarkan air mata itu, langsung digiring ke rutan Polda Maluku di Tantui dengan tangan terborgol.
Kuasa hukum terdakwa, G.J Batmomolin kepada Ambon Ekspres menegaskan, atas putusan majelis hakim yang menjatuhkan vonis seumur hidup terhadap terdakwa maka pihaknya akan menempuh proses hukum banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Ambon. “Kami siap ajukan banding. Itu sikap kami, dan mudah-mudahan majelis hakim di PT Ambon nanti dapat mempertimbangkan hukumannya,” tegas Batmomolin.(NEL)

Click to comment

Most Popular

To Top