Wakiran, Lestarikan Ritual Labuh – Ambon Ekspres
Features

Wakiran, Lestarikan Ritual Labuh

PERTAHANKAN : Mbah Kabul ketika membaca doa sambil membakar jerami pada tradisi labuh di area pematang sawah wilayah Desa/ Kecamatan Pogalan, beberapa waktu lalu
Pahami Tata Ritual, Optimistis Panen Maksimal

Tidak mudah setiap orang dalam menjaga tradisi nenek moyang yang memiliki nilai sejarah tinggi. Dibutuhkan pemahaman dan upaya khusus agar tradisi tersebut tidak disalahartikan pada zaman modern seperti saat ini. Namun, hal tersebut tidak menjadi halangan Wakiran, sesepuh Desa/Kecamatan Pogalan, yang terus memelihara tradisi labuh sebagai ucapan rasa syukur atas hasil panen petani yang melimpah.

Oleh : ZAKI JAZAI, TRENGGALEK

Suasana lengang terasa ketika Jawa Pos Radar Trenggalek (Group Ambon Ekspres) berkunjung di salah satu rumah masuk Desa/Kecamatan Pogalan kemarin (30/7). Seperti biasa, ketika hari libur terlihat beberapa orang sedang berkumpul dan duduk-duduk di depan teras rumah tersebut.

Beberapa saat kemudian, terlihat seorang pria tua keluar dari dalam rumah. Ya, dialah Wakiran, pria yang dianggap sesepuh alias orang yang dituakan di desa tersebut. Saat itu mereka sedang berdiskusi mengenai acara tradisi labuh, yaitu acara tasyakuran sebagai rasa syukur akan hasil panen yang diterima petani desa setempat “Ya, namanya orang tua. Ada yang kesini untuk meminta nasehat khususnya berkaitan dengan upacara yang dilakukan orang zaman dahulu,” ungkapnya kepada koran ini.

Selesai memberi nasehat kepada beberapa orang tersebut, pria yang akrab di sapa Mbah Kabul ini mulai bercerita tentang tradisi tersebut. Ternyata tata cara tradisi yang selama ini dilakukannya sebagai ucapan syukur tersebut semula berasal dari nenek moyang ketika zaman Kerajaan Majapahit. Saat itu, setiap kali musim panen, para petani mengadakan tasyakuran yang didahului dengan melaksanaan doa dan menaruh sesaji di empat sudut area persawahan warga.

Itu dilakukan, sebab berdasarkan kepercayaan masyarakat sekitar, dengan cara bersyukur pastilah Sang Maha Kuasa akan menambahkan nikmat yang diberikan. Sehingga proses tanam berikutnya tidak ada kendala, hingga mendapatkan hasil panen yang melimpah. “Ketika saya kecil, ritual seperti ini sangatlah ramai. Makanya kami di sini terus berupaya untuk menjaganya agar bisa dilihat anak cucu nantinya,” ujarnya.

Hal itu bukannya tanpa alasan, sebab tradisi tersebut beberapa tahun lalu sempat punah, dan baru saja dilakukan secara rutin sekitar tiga tahun belakangan ini. Untuk itu, dirinya terus bekoordinasi dengan para petani dan pemerintah desa setempat, agar terus melaksanakan tradisi tersebut. Kendati hasil panen ditentukan berdasarkan usaha petani dalam mengolah sawahnya, namun setidaknya dengan melaksanakan ritual tersebut, para petani lebih yakin lagi jika usaha tersebut berhasil. Juga mengajarkan rasa saling berbagi antara petani dengan warga sekitar.

Para petani sadar dan bertekad untuk melaksanakan tradisi tersebut setiap kali panen padi, agar tradisi tersebut dapat lestari dan menumbuhkan rasa saling berbagi. Kendati demkikian, ada hal khusus yang harus dilakukannya sendiri sebelum acara dimulai. Dia harus mempersiapkan beberapa peralatan yang meliputi lima ikat jerami, dan empat bungkus sesaji yang disebut cok bakal. “Sebenarnya peralatan untuk ritual ini dibuat oleh penyelenggara yaitu petani. Daripada terjadi kekeliruan saya diri yang menyiapkannya. Makanya sebelum tradisi ini dimulai ada prosesi serah terimanya,” ujar kakek 64 tahun ini.

Sedangkan untuk prosesi tradisi ini, dilakukan setelah prosesi serah terima. Sesepuh yang dibantu seorang warga berjalan mengelilingi area persawahan dan berhenti di setiap sudutnya. Pemberhentian di setiap sudut tersebut dilakukan untuk memanjatkan doa-doa sambil membakar jerami yang diteruskan dengan peletakan cok bakal di masing-masing empat sudut sawah.

Jika perjalanan mengitari sawah telah dilakukan, makanya diakhiri dengan pembacaan doa di tengah sawah. “Semoga saja tradisi ini tetap lestari, dan saya siap menjalankannya jika masih diberi kesempatan,” jelas kakek tiga cucu ini.(RKA)

 

Click to comment

Most Popular

To Top