Wanita Bisa Jadi Imam Salat Jumat di Masjid Ini, Kok Bisa? – Ambon Ekspres
Internasional

Wanita Bisa Jadi Imam Salat Jumat di Masjid Ini, Kok Bisa?

Seyran Ates (kiri) pendiri masjid liberal di Berlin, Jerman , (Foto: AFP).

AMEKS ONLINE, BERLIN – Sebuah masjid yang berlokasi di Berlin, Jerman dibuat heboh lantaran membolehkan perempuan menjadi imam salat Jumat.

Masjid ini berada di dalam gereja abad ke-19, St Johannes. Terletak tepat berada di bagian belakang, masjid sederhana dengan nuansa putih ini disewa oleh komunitas Muslim Berlin.

Dua tempat ibadah berbeda agama itu beraktivitas normal sehari-hari.

Kaum gay, lesbian, dan transgender, disambut hangat oleh mereka. ”Masjid kami terbuka untuk siapa pun,” kata pendiri masjid Seyran Ates, pengacara berdarah Jerman-Turki sekaligus aktivis perempuan.

”Serius. Ini terbuka untuk siapa pun, dengan gaya hidup apa pun. Kami bukan Tuhan. Kami tidak memutuskan Muslim baik atau buruk.”

”Semua bisa masuk pintu ini. Apakah anda heteroseksual atau homoseksual. Kami tidak peduli. Itu bukan hak kami untuk bertanya,” sambungnya.

Masjid berlabel Ibn Rushd-Goethe itu bagian dari gerakan Islam inklusif. Saat ini sedang berkembang di dunia komunitas Islam liberal dan masjid inklusif.

Ada yang berada di rumah-rumah ada juga yang berpindah-pindah. Tetapi Ates mengatakan, kalau masjid di Berlin ini adalah masjid liberal permanen pertama dan terbuka untuk siapa pun.

Masjid ini memang kontroversial. Ates pun mendapatkan ratusan ancaman pembunuhan dari ekstrimis. Sebagian besar dari Turki dan Arab.

Ancaman itu semakin diperburuk dengan berita hoax. Disebutkan, suatu hari ada berita di salah satu channel TV Turki.

Ditayangkan oleh mereka kalau masjidnya melempar-lempar dan menginjak-injak Alquran.

”Padahal kenyataannya adalah, jurnalis Turki itu sendiri yang melempar Alquran ke lantai dan menginjaknya,” kisahnya.

Otoritas Islam Turki, Diyanet, dan pejabat dari Mesir, menyatakan kalau praktik di masjid itu bukan Islam.

Salah seorang Muslim yang mengunjungi masjid itu mengaku sulit memahami ide kalau perempuan dan lelaki bisa berdiri berdampingan saat salat. ”Ini baru buat saya,” katanya.

Sementara, bagi Miriam, guru mengaji di masjid itu, fokus utama mereka adalah toleransi terhadap semua pandangan orang tentang Islam.

”Kita semua adalah setara. Tidak peduli warna kulit, wajah, atau orientasi seksual Anda. Saya tidak tahu apakah masing-masing dari kita memiliki koneksi yang lebih baik ke Allah.

Mengapa saya harus menghakimi mereka? Saya tidak bisa. Saya tidak seharusnya melakukan itu.”

(tia/JPC/pojoksatu)

Click to comment

Most Popular

To Top