Potret Siswa di Zona Sengketa – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Potret Siswa di Zona Sengketa

AMEKS ONLINE–Sengketa batas memperebutkan Dana Alokasi Umum (DAU) antara pemerintah daerah Seram Bagian Barat (SBB) dengan Maluku Tengah (Malteng) di wilayah Elpaputih belum dikuti dengan kebijakan pemerataan di bidang pendidikan.

Kesenjangan di sektor pendidikan masih dirasakan warga Desa Pohon Batu Kecamatan Elpaputih, SBB dan Desa Samasuru Baru Kecamatan Teluk Elpaputih Malteng. Meski terletak di jalan Trans Seram, namun kedua desa berada pada titik kosentrasi sengketa batas kedua kabupaten. Atas hal itu, pemerintah dipastikan urung melakukan intervensi di sektor pendidikan.

Bukan tanpa alasan, kedua desa setempat tidak memiliki gedung Sekolah Dasar (SD) berikut Sekolah Menengah Pertama dan Atas. Akibatnya, para siswa harus berjalanan kaki ke desa tetangga untuk mengecap pendidikan.
Siswa asal Desa Pohon Batu berjalan kaki sejauh 6 kilometer ke Desa Sanahu, sementara siswa asal Desa Samasuru Baru berjalan kaki sejauh 5 kilometer ke Desa Samasuru.
Minimnya intervensi pemerintah jauh sebelum terjadinya sengketa batas kedua kabupaten. Untuk berangkat ke sekolah para siswa itu berusaha tumpangi motor mobil yang melintas.

Itu agar mereka tiba lebih awal di sekolah sebelum datang guru pada pukul 07.30 Wit. Biasanya, ada pengendara motor yang berbaik hati, kadang melintas begitu saja. “Kalau tidak ada kami jalan setengah lari, upaya cepat sampai ke sekolah,” kata Franska, siswa kelas VI SDN Sanahu saat disambangi Ambon Ekspres, Selasa,(8/8).
Kendati masih di Jalan Trans Seram, namun berjalan kaki bukan tanpa tantangan. “Kalau pagi sering ketemu Babi Hutan atau Ular yang melintas jalan, tapi kami tidak takut karena jalan dengan teman-teman,” tuturnya.

Senada dikemukakan Rudi Ferdinandus, siswa kelas IV SDN Samasuru. “Kalau pulang sekolah siang tidak takut, pagi saya agak takut ke sekolah,” ujarnya. Namun begitu, kondisi tersebut sudah biasa dirasakan bocah berusia 7 tahun yang bercita-cita menjadi guru Fisika ini.
Menyinggung harapan adanya sarana pendidikan di desa mereka, kedua siswa tersebut sangat berharap perhatian pemerintah segera membangun sekolah di desa mereka.
“Iya, kalau bisa pemerintah katong (kami) punya sekolah supaya bisa sekolah dengan baik, tidak terlambat dan serius balajar,” pinta keduanya (ANC)

Most Popular

To Top