Karya Seni Coretan Kaki Ayam yang Mendunia – Ambon Ekspres
Features

Karya Seni Coretan Kaki Ayam yang Mendunia

SENI : Khoirul Anwar (tengah), pelukis teknik Coretan Ceker Ayam yang karyanya sudah Go International
Diapresiasi Ibu Ani Yudhoyono, Sempat Ditawar Ridwan Kamil

Khoirul Anwar sempat pesimistis dengan masa depan seorang seniman lukis. Sehingga meski dia memiliki skill melukis sejak sekolah dasar (SD), dia emoh kuliah di jurusan seni.

Oleh: VIO TANTI NANITA, Jakarta

Mengamati lukisan scribble gambar Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) karya Khoirul Anwar ini sekilas terlihat sedikit nyeleneh dan ngawur. Sebab, coretan-coretannya yang tak beraturan itu bak benang kusut atau bisa dikatakan mirip goresan ”ceker ayam”.

Namun, coretan-coretan tersebut bukan sekadar coretan biasa, tapi ini merupakan sebuah karya yang artistik. Sebab, dari coretan itulah kita bisa melihat wajah Jokowi secara jelas.

Untuk diketahui, scribble drawing berasal dari kata scribble yang artinya tulisan ceker ayam. Jadi, melukis dengan teknik ini maksudnya gambar yang sengaja dibuat coretan yang awut-awutan. Pemuda yang akrab disapa Irul itu menyatakan, dia sudah menekuni seni scribble selama 3 tahun (sekitar tahun 2014). ”Lebih dari seribu karya scribble sudah saya hasilkan,” kata mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Program Studi Perpajakan Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2012 ini.

Dia mengaku sudah menggambar tokoh-tokoh penting di Indonesia hingga para publik figur. Semua hasil karya tangannya mampu menarik perhatian banyak orang. Tak heran jika dia sudah banyak mengantongi sejumlah prestasi dan apresiasi yang membanggakan. Bahkan, karya-karya scribble-nya ini mampu menembus pasar Amerika.

Baru-baru ini misalnya, Irul meraih juara II dalam event yang diadakan oleh Samsung di Pentas Seni Rupa Art Jakarta 2017 pada Minggu lalu (30/7). Beberapa kali dia juga menjadi pemateri dalam workshop di berbagai event kampanye untuk anak-anak muda seperti, UrbanGiGs, Loopstation Surabaya, dan Artotel Hotel. Hingga pada 2016 lalu, dia pun diundang untuk talk show tentang Scribble Art di acara Sarah Sechan, Net TV.

Namun, dia menyatakan, masyarakat awam yang tidak begitu mengenal seni ini mungkin belum tahu apa itu scribble? Menurut dia, scribble merupakan sebuah karya keharmonisan dalam ketidakberaturan. Artinya, secara teknis scribble itu coretan yang tidak beraturan atau benang kusut. ”Dalam perspektif yang lebih luas, scribble bagi saya adalah semangat optimisme menghadapi tantangan zaman yang sangat dinamis seperti sekarang,” terang pemuda yang tinggal di kawasan Blimbing, Kota Malang, ini.

Mahasiswa kelahiran, Jember, 12 April 1994, ini mengaku, sebenarnya sudah suka menggambar sejak kelas II SD. Bahkan, dia pernah membuat buku yang menyerupai kamus bahasa Inggris dilengkapi dengan gambar-gambar hewan yang dibuatnya sendiri.

Namun, bakat seni yang sudah melekat dalam dirinya sejak usia dini itu tak membuatnya tertarik untuk menempuh pendidikan kuliah dalam bidang seni. Nah, setelah lulus dari SMAN 1 Kencong Jember, dia melanjutkan studi S-1 di Fakultas Ilmu Administrasi Program Studi Perpajakan Universitas Brawijaya (UB). ”Jurusan itu saya pilih karena saya pesimistis. Selain itu, ada anggapan dari masyarakat di kampung yang memandang bahwa sukses itu kerja di kantoran. Dan, jurusan seni menurut orang tua saya dan sebagian masyarakat tidak terlalu menjanjikan,” tambah alumnus SMPN 1 Kencong Jember ini.

Hingga akhirnya ketika dia duduk di bangku kuliah semester dua pada 2013 lalu, dia sering melihat dan mengamati karya salah seorang seniman scribble bernama Rachmad Priyandoko melalui akun Instagram-nya. Pada saat itulah dia mulai tertarik dan mendalami seni lukis dengan teknik scribble. ”Sebenarnya yang membuat saya tertarik dengan scribble ini adalah karena cocok dengan style-nya yang spontan. Dulu sering iseng-iseng melukis, tapi gak jadi-jadi. Sebab, saya orangnya kurang sabaran,” ungkapnya.

Seiring berkembangnya teknologi, dia menilai jika profesi seniman saat ini banyak diuntungkan melalui industri kreatif yang semakin maju. Makanya dia semakin terpacu untuk membuat karya. Hingga saat ini, Irul mengaku jika sudah menghasilkan lebih dari 1.000 karya scribble yang mampu menembus pasar mancanegara, terutama di Amerika. ”Yang project series sekitar ratusan karya, seperti tari Bali, karakter film, animal, hingga portrait tokoh. Kalau yang komersil malah di atas seribu karya,” imbuh anak pertama dari dua bersaudara ini.

Untuk kisaran harga per karya, dia mematok mulai Rp 500 ribu – Rp 3 juta untuk pasar di Indonesia. Sedangkan di mancanegara, harganya 120 dolar atau sekitar Rp 1.680.000 per karya. Selain itu, dia mengaku jika pernah mendapat apresiasi dari Ibu Ani Yudhoyono (istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono) yang menyukai portrait scribble wajahnya yang diunggah melalui akun Instagram milik Ipul.

Selain itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil juga secara langsung memberikan apresiasi dalam karya portrait scribble dirinya melalui akun Instagram-nya juga. ”Bahkan, sempat ditawar mau dibeli. Tapi, saya telat mengonfirmasinya waktu itu. Jadi belum dihubungi lagi. Meskipun begitu, beliau (Ridwan Kamil) sangat mengapresiasi talent-talent muda. Dan selalu men-support para kreator muda, salah satunya melalui medsos,” imbuh pemuda yang mengidolakan seniman scribble, Vince Low dan Erick Centeno ini.

Berkat keuletannya dalam membuat karya scribble ini, dia juga pernah diundang dalam rangka talk show tentang Scribble Art di acara Sarah Sechan, Net TV, pada 2016 lalu. ”Awalnya karena salah satu perancang acara di Net TV tahu karya saya melalui Instagram. Lalu, nama saya direkomendasikan ke tim kreatifnya Sarah Sechan. Nah, dari situ terus saya dihubungi. Kaget banget, tapi berkesan sekali. Meskipun begitu, ada sedikit kendala, di mana jadwal syutingnya mepet banget dengan ujian magang di kampusnya yang baru keluar. Waktu hari H syuting juga gitu, telat 5 menit gara-gara yang jemput ke studio terlambat. Tapi, alhamdulillah masih rezeki untuk bisa syuting,” imbuhnya.

Selain bercakap-cakap tentang karya scribble, dia juga membuat sketsa langsung suasana studio dengan objek presenter kondang acara tersebut, Sarah Sechan, beserta Muhammad Pradana Budiarto atau biasa dikenal sebagai Ditto Percussion.

Dan yang membuat dia berkesan dari talk show tersebut, yaitu melalui pernyataan yang disampaikannya bahwa kegiatan coret-coret itu bisa menyalurkan energi positif. Maksudnya, bisa sebagai alat untuk menghilangkan stres. Di samping itu, beberapa kali dia juga menjadi pemateri dalam workshop di berbagai event kampanye untuk anak-anak muda seperti, UrbanGiGs, Loopstation Surabaya, dan Artotel Hotel.

Kemudian pemuda yang juga suka menulis ini juga beberapa kali meraih prestasi di berbagai ajang di bidang seni. Di antaranya, pada 2013, dia berhasil meraih juara I Karikatur Kompas Kampus ”Lingkungan”. Tahun 2014, dia meraih juara III lomba desain poster nasional LPM diagnostic dan solo Exhibition Caricature di Malang Corruption Watch (MCW). Pada 2015, dia juga menjuarai lomba desain Batik FIA UB dan juara III kaligrafi MTQ Brawijaya. Selain itu, pada 2016, dia juga menjadi juara I karikatur nasional ”Membangun Integritas Bangsa” LPM indikator UB. (*/c2/lid)

Click to comment

Most Popular

To Top