Akses Transportasi Terputus di SBB – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Akses Transportasi Terputus di SBB

TERPUTUS : Jembatan Wag Tuba di Dusun Sokowati, Desa Hunitetu, Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagaian Barat (SBB) ambruk pada 9 Agustus lalu. Ambruknya jembatan itu membuat arus transportasi di kecamatan itu lumpuh total. IST AMEKS

AMEKS ONLINE, SBB.––Diduga tidak kuat menahan debit air sungai yang meluap akibat diguyur hujan lebat, Jembatan Wag Tuba, Dusun Sokowati, Desa Hunitetu, Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagaian Barat (SBB) ambruk pada 9 Agustus lalu. Ambruknya jembatan itu membuat arus transportasi di kecamatan itu lumpuh total.

Jembatan yang terbuat dari beton dengan panjang 13 meter dan lebar sekitar 3 meter itu patah pada bagian ujung. Akibatnya, akses jalan penghubung menuju Desa Hunitetu dan Desa Kairatu terputus. Kondisi ini masih terjadi hingga saat ini.

Daud Yawate, staf Desa Hunitetu menuturkan, jembatan yang berada di ruas jalan Kairatu menuju Uniteta maupun sebaliknya mengalami rusak parah (ambruk) dibagian ujung. ’ Jembatan itu ambruk akibat hujan deras beberapa hari lalu. Kondisinya cukup parah. Arus tranportasi menjadi lumpuh,’’ ungkap Daud saat menyambangi markas Ambon Ekspres di Jalan Jos Sudarso Ambon, Senin (14/8).

Daud pun bercerita bahwa jembatan beton itu dibangun sejak tahun 1983. Beberapa kali diperbaiki karena mengalami rusak ringan. Saat tahun 2012 tepatnya tanggal 1 Agustus, jembatan itu retak di bagian atas jembatan, tapi masih bisa diperbaiki warga setempat. ‘’Tahun 2012 silam, jembatan itu pernah retak karena hujan yang mengguyur daerah itu selama beberapa hari. Warga bergotong royong untuk memperbaikinya,’’ kisahnya.

Puncaknya, lanjut Daud, tanggal 9 Agustus lalu, jembatan yang merupakan satu-satunya akses warga di Kecamatan Inamosol, ambruk dibagian ujung akibat tak mampu menahan arus air yang meluap akibat hujan yang turun beberapa hari lalu. ’’Kejadian ini membuat warga yang masuk wilayah Inamosol tak bisa beraktivitas,’’ ungkap Daud.

Lebih jauh dikatakan, hujan deras yang mengguyur wilayah SSB beberapa hari terakhir memang cukup deras. Aliran sungai yang mengalir tersebut membawa material lumpur dan longsoran kayu dari gunung. Akibatnya pondasi jembatan terkikis hingga membuat jembatan itu ambruk. ’’Tidak ada akses atau jalur alternatif warga, selain melewati jembatan itu. Jadi, bila tidak perbaiki secepatanya, maka arus tranportasi menjadi lumpuh,’’ terang dia.

Bukan hanya itu, kata Daud, proses pembangunan gereja di Hunitetu maupun di desa tetangga terhenti akibat mobil pengangkut material bangunan tidak bisa melewati jembatan. ’’Proses pembangunan gereja dihentikan untuk sementara karena mobil yang mengangkut bahan bangunan untuk pembangunan gereja tidak bisa melewati atas jembatan. Sidang Klasis yang rencananya dilakukan awal 2018 terancam batal digelar jika kondisi jembatan masih seperti itu (rusak),’’ jelasnya.

Agar tidak terisolir, tambah pria murah senyum ini, warga membuat jembatan dari batang pohon kelapa secara swadaya. Karena dibuat seadanya, warga harus sangat hati-hati saat melalui jembatan itu yang licin bila diguyur hujan. ’’Warga maupun pengendara sepeda motor sudah bisa melewati jembatan yang dibuat seadanya. Mereka harus berhati-hati. Kalau mobil sudah tidak bisa melewatinya. Kami berharap ada solusi terbaik dari pemerintah provinsi untuk menyelesaikan persoalan ini,’’ demikian Daud.

Sementara itu, Andre Kolly, anggota DPRD SSB menuturkan, jembatan yang ambruk di ruas jalan Kairatu menuju Hunitetu itu merupakan jalan provinsi. ‘’Itu jalan provinsi, jadi itu tanggung jawabnya provinsi, bukan kabupaten,’’ tutur Kolly.
Kolly berharap, jembatan yang ambruk karena hujan deras segera mendapat perhatian dan segera diperbaiki. ’’ Semoga cepat diperbaiki sehingga warga setempat bisa menjalankan aktivitasnya dengan normal lagi,’’ harap dia.

Dia menambahkan, langkah tercepat yang dilakukan pemerintah provinsi adalah mengupayakan agar akses bisa berjalan sehingga warga tidak terisolir dengan cara memperbaiki jembatan itu. ‘’Memang, warga sudah bergotong royong untuk membuat jembatan dari batang pohon kelapa. Tapi, itu sangat berbahaya karena batang pohon kelapa itu bisa saja terbawa arus ketika intensitas hujan tinggi,’’ tutup Kolly.

Yongky Molly, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Mudua Siwa meminta pemerintah daerah harus mengambil langkah untuk memperbaiki jembatan itu. ’’Jembatan itu memang sering mengalami kerusakan saat musim penghujan tiba dan puncaknya saat 9 Agustus lalu. Kami berharap pemerintah provinsi bisa mencari jalan keluar terbaik untuk memperbaikinya,’’ singkatnya.(ZAL)

Most Popular

To Top