Kontroversi Film Banda Berakhir – Ambon Ekspres
Berita Utama

Kontroversi Film Banda Berakhir

Foto/Net

Sutradara Film Banda The Dark Forgotten Trail Minta Maaf

AMEKS ONLINE, AMBON.––Kontroversi Film Banda The Dark Forgotten Trail berakhir sudah. Pembuat film akhirnya menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga besar Wandan (Banda Ely-Elat), anak cucu Mboiratan yang asli Pulau Banda.

Penyelesaian masalah ini difasilitasi Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Doni Monardo. Jenderal dengan dua bintang dipundak ini mempertemukan sutradara Jay Subiyakto dan produser Lala Timothy dengan tokoh masyarakat serta keluarga besar Wandan di Kota Ambon, Senin (14/8).

Dari pertemuan itu, akhirnya sutradara dan produser film menyampaikan permahonan maaf kepada seluruh masyarakat Wandan (Banda Ely-Elat), anak cucu Mboiratan yang asli Pulau Banda. Meski permintaan maaf telah disampaikan, namun film itu tetap dilarang untuk tayang di Maluku. “Sebagai pembuat film, kami bukan sejarawan. Pasti kami punya banyak kekurangan. Disini kami senang sekali karena bisa duduk bersama diskusi dan mendapat masukan-masukan sehingga dapat memperbaiki lebih baik lagi. Kami juga minta maaf kepada seluruh tetua dan keluarga besar Wandan, jika ada salah-salah kata dari kami atau hal-hal yang menyebabkan kesalapahaman karena sama sekali dari kami. Tidak ada niat yang buruk tidak ada yang tidak baik, untuk film ini,” jelas Lala Timothy kepada kepada wartawan dan keluarga besar Wandan di Ambon, Senin (14/8).

Menurut dia, pertemuan yang dimediasi Pangdam itu, melahirkan beberapa kesepakatan. Selain tidak diizinkan film tersebut tayang di Maluku, juga memperbaiki beberapa hal yang ada di film tersebut, sehingga yang ditayangkan benar-benar fakta sejarah. “Kedepan kami bisa lebih mempertajam membangun kultur dan mudah-mudahan kami bisa membuat film lain tentang Wandan, dan juga tentang peristiwa-peristiwa lain yang masih perlu kita bangun. Dalam film ini, ada peristiwa yang menyakitkan warga Wandan. Kami berharap, peristiwa ini bisa diangkat dan ditelusuri lagi lebih jauh sehingga bisa memberikan keadilan terhadap warga Wandan dan seluruh bangsa Indonesia,” kata dia.

Salah satu tokoh masyarakat Wandan (Banda Ely-Elat), anak cucu Mboiratan yang asli Pulau Banda, Azis Latar mengatakan, pertemuan kedua bela pihak juga sekaligus mengklarifikasi informasi maupun opini yang berkembang di media sosial, dan masyarakat terkait dengan film tersebut. “Setelah mengikuti secara cermat dan berdialog dengan seksama dengan pihak film yang dipimpin oleh pak pangdam, kemudian dapatlah kita menemukan satu titik temu, yakni menyelesaikan persoalan ini, sehingga tidak berlarut-larut demi menjaga stablitas keamanan dan nama baik keluarga Wandan dan kemajuan Maluku,” katanya.

Latar menegaskan, keluarga besar Wandan (Banda Ely-Elat), anak cucu Mboiratan yang asli Pulau Banda, menerima permintaan maaf dari pihak perfilman itu. “Hal-hal yang berkaitan dan tidak berkenaan yang selama ini, disoroti agar bisa dilihat kembali. Kemudian keluarga berharap agar flim kedepan tidak bisa lagi mengabaikan partisipasi dan keterlibatan keluarga Wandan, sehingga bisa melahirkan sebuah film yang bisa membawa nama baik dan bisa mewakili aspirasi dan kepentingan masyarakat,” tuturnya.

Politisi Partai Nasdem Maluku ini, berharap pertemuan antara kedua belah pihak, merupakan kebangkitan awal untuk kedepan, bisa memperbaiki karya-karya seni yang dilahirkan oleh generasi muda bangsa ini, terutama yang berkaitan dengan sejarah. “Kebangkitan awal untuk kita bisa melihat lagi hal-hal yang jernih sehingga objektivitas dalam melahirkan sebuah perfilman tidak bisa mengganggu ketenangan, dan ketentraman keluarga besar Wandan dan seluruh masyarakat,” tandasnya.

Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Wandan (IPPMAWAN) Bahar Ali Kubangun menyampaikan, seluruh pemuda Wandan, menerima permohonan maaf dari pihak perfilman itu, dan dengan sejumlah catatan yang telah disepakati oleh kedua pihak. “Kami terutama dan kami bersyukur ini merupakan koreksi dan langkah awal dan memajukan karya anak mudah dibangsa ini. Film tidak putar di Maluku, tetapi diluar Maluku silahkan diputarkan. Kemudian ada beberapa yang harus di perbaiki dalam film itu, terkait dengan Wandan sendiri,” tegas dia.

Ketua Komisi A DPRD Maluku, Melkias Frans menambahkan, kontroversi Film Banda The Dark Forgotten Trail, Keluarga besar Wandan (Banda Ely-Elat), anak cucu Mboiratan yang asli Pulau Banda, telah berproses di DPRD sejak akhir Juli lalu, namun dari kontroversi itu, melahirkan pertemuan dan kesepakatan demi kepentingan keamanan bersama, baik di Maluku maupun di Indonesia. “Ternyata tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan, kalau semuanya hidup dalam pikiran jernih dan tenang. Dan selama ini, kami bersama masyarakat untuk memperjuangkan hal-hal yang dianggap merugikan mereka. Tetapi kemudian perjuangan kita telah berakhir dengan pertemuan dan melahirkan beberapa kesepakatan, termasuk permintaan maaf dan larangan film tersebut beredar di Maluku,” tuturnya.

Politisi Demokrat ini, juga mendorong pihak produser untuk terus membuat film-film, yang berkaitan dengan masyarakat Wandan, dalam konteks hal-hal yang positif. “Kami terus dorong untuk membuat film-flim, bukan saja terkait masyarakat Wandan, tetapi seluruhnya, namun hal dengan referensi yang baik. Dan ini merupakan catatan berharga, sehingga semua bisa clear. Dan kepada pangdam, kita atas nama masyarakat menyampaikan terima kasih, atas penyelesaian kontroversi ini. Inilah tentara rakyat yang sesungguhnya,” tandas Melky.

Untuk diketahui, kontroversi itu, yang dianggap sebagai pembohongan sejarah genosoida yang dilakukan Gubernur Jenderal Jaan Pieterzsoon Coon. Pembantaian itu tidak dijiwai oleh penulis naskah M Irfan Ramli dan narasumber sejarah Dr Usman Thalib maupun sutradaranya Jay Subyakto. Ini karena yang bersangkutan bukan anak cucu Mboiratan. Inilah pembohongan fakta sejarah sesungguhnya. Kemudian, sejarah perbudakan yang dilakukan penjajah Belanda bukan terhadap lelulur Wandan (Mboiratan). Karena pada saat itu mereka sudah hijrah ke berbagai daerah di Maluku maupun sampai ke luar Maluku.(AHA)

Most Popular

To Top