Apresiasi Penyelesaian Kontroversi Film Banda – Ambon Ekspres
Berita Utama

Apresiasi Penyelesaian Kontroversi Film Banda

Film Banda The Dark Forgotten Trail

AMEKS ONLINE, AMBON.––Adanya kesepakatan damai antara pihak pembuat Film Banda The Dark Forgotten Trail dengan keluarga besar Wandan (Banda Ely-Elat), anak cucu Mboiratan yang asli Pulau Banda, yang dimediasi Pangdam XVI/Pattimura diapresiasi Gubernur Maluku Said Assagaff. Pantauan koran ini Selasa (15/8) di Kantor Gubernur Maluku, sejumlah tokoh masyarakat besar Wandan tampak bersilaturahmi dengan orang nomor satu di Maluku itu. Usai pertemuan, mereka kemudian meninggalkan kantor gubernur sekira pukul 15.00 WIT.

Salah satu tokoh masyarakat Wandan, kepada Ambon Ekspres mengatakan, kedatangan mereka bertemu dengan pemerintah provinsi untuk melaporkan jika tidak ada lagi persoalan terkait dengan film tersebut. “Tadi (kemarin red), keluarga besar Wandan, bertemu dengan pak gubernur, untuk melaporkan jika persoalan film Banda itu, sudah diselesaikan dengan beberapa catatan yang telah disepakati kedua belah pihak,” kata tokoh masyarakat yang meminta namanya tidak dikorankan ini kepada Ambon Ekspres, Selasa (1/8).

Menurut dia, pertemuan dilakukan untuk menyampaikan laporan pasca pertemuan antara kedua belah pihak dalam rangka menyelesaikan kontroversi film tersebut. “Ini demi menjaga situasi dan kondisi keamanan, maka kita lapoirkan sebagai langkah pemberitahuan. Dan memang menjadi catatan penting sehingga kedepan hal serupa tidak perlu terulang lagi,” jelas dia.

Kabag Humas Setda Maluku, Bobby Kin Palapia membenarkan pertemuan antara perwakilan film Banda The Dark Forgotten Trail, bersama tokoh masyarakat Wandan dengan gubernur Maluku Said Assagaff. Menurut dia, Pemprov Maluku, mengapresiasi proses penyelesaian kontroversi film itu yang diinisiasi Pangdam XVI/Pattimura. “Kami sangat apresiasi dan berterima kasih, atas proses penyelesaian dari kontroversi terkait film Banda. Saya kira kita semua sudah semakin dewasa dalam menyikapi hal-hal yang dianggap dapat mengganggu situasi dan kondisi keamanan,” kata dia terpisah.

Dikatakan, selama ini Pangdam XVI/Pattimura, telah banyak membantu pemerintah provinsi, baik dalam aspek pembangunan, kesejahteraan maupun hal-hal lain. “Maluku ini, milik kita bersama dan semua orang punyak hak dan tanggungjawab dalam menjaga dan memajukan daerah ini. Saya kira kita semua harus menerima dan mengaku setiap kekurangan maupun kelebihan kita. Kami juga memberikan apresiasi yang luar bisa kepada intansi terkait yang telah membantu kami,” jelas dia.

Seperti diberitakan koran ini, kontroversi Film Banda The Dark Forgotten Trail berakhir sudah. Pembuat film akhirnya menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga besar Wandan (Banda Ely-Elat), anak cucu Mboiratan yang asli Pulau Banda. Penyelesaian masalah ini difasilitasi Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Doni Monardo. Jenderal dengan dua bintang dipundak ini mempertemukan sutradara Jay Subiyakto dan produser Lala Timothy dengan tokoh masyarakat serta keluarga besar Wandan di Kota Ambon, Senin (14/8).

Dari pertemuan itu, akhirnya sutradara dan produser film menyampaikan permahonan maaf kepada seluruh masyarakat Wandan (Banda Ely-Elat), anak cucu Mboiratan yang asli Pulau Banda. Meski permintaan maaf telah disampaikan, namun film itu tetap dilarang untuk tayang di Maluku. “Sebagai pembuat film, kami bukan sejarawan. Pasti kami punya banyak kekurangan. Disini kami senang sekali karena bisa duduk bersama diskusi dan mendapat masukan-masukan sehingga dapat memperbaiki lebih baik lagi. Kami juga minta maaf kepada seluruh tetua dan keluarga besar Wandan, jika ada salah-salah kata dari kami atau hal-hal yang menyebabkan kesalapahaman karena sama sekali dari kami. Tidak ada niat yang buruk tidak ada yang tidak baik, untuk film ini,” jelas Lala Timothy kepada kepada wartawan dan keluarga besar Wandan di Ambon.(AHA)

Most Popular

To Top