Tarian Perang Libatkan 100 Orang, Benar-Benar Luka dan Berdarah-darah – Ambon Ekspres
Features

Tarian Perang Libatkan 100 Orang, Benar-Benar Luka dan Berdarah-darah

UNIK: Tarian perang yang dipentaskan warga Manggarai Bali dalam rangka HUT Kemerdekaan RI Minggu (20/8).

AMEKS ONLINE.–Cara warga Manggarai Bali dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-72 patut diapresiasi. Ya, mereka menggelar tarian perang atau pentas caci yang diselenggarakan di Lapangan Laguna Nusa Dua, Badung pada Minggu (20/8).

Lapangan yang menjadi tempat acara tersebut nampak dipadati manusia. Bahkan jumlahnya mencapai ribuan. Tak cuma warga Manggarai yang merantau di Pulau Dewata. Nampak pula di antara mereka para wisatawan asing. Ketua Panitia sekaligus sebagai Ketua Ikatan Keluarga Manggarai Nusa Dua, Bali, Benny Hamu menjelaskan bahwa tarian ini sengaja digelar sebagai bentuk keikutsertaan dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan Indonesia.

“Selain itu tarian caci khas Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur ini juga sengaja kami pentaskan untuk mempererat kekeluargaan antara warga Manggarai yang tingga di Nusa Dua, Badung, Bali,” terangnya.

Baik pementas caci dan penonton, semuanya menggenakan pakaian adat tradisional asal Manggarai. Untuk penari caci semuanya dari kalangan laki-laki dan mengenakan celana panjang warnah putih, kain songke, destar, tubu rapa, selendang dan aksesoris lainnya dan tidak mengenakan baju.

Tarian perang itu mampu menyedot perhatian tidak hanya warga keturunan NTT di Bali, namun juga masyarakat lainnya di Bali. Tarian ini melibatkan 100 orang pemain caci. Pentas ini mempertemukan dua kelompok pemuda. Mereka membentuk kelompok masing-masing siap untuk berperang satu lawan satu dengan berbalas pukul.
“Mereka secara bergiliran berperang bak ksatria satu lawan satu dengan telanjang dada. Sembari mengenakan ikat kepala dan sarung songke. Saat peperangan berlangsung peserta lainnya memberi semangat berperang. Sementara dari masing-masing kelompok sembari menari dan menyanyikan lagu-lagu daerah khas Manggarai,” imbuhnya.

Ketika pertempuran terjadi di gelanggang yang disediakan, peserta membekali diri dengan senjata berupa tameng (nggiling) yang terbuat dari kulit kerbau dan tangan lain menggenggam pecut (koret terbuat dari anyaman bambu). Selain itu, mereka juga membekali diri dengan senjata yang disebut larik terbuat dari anyaman kulit kerbau yang kering.

Dengan senandung mereka saling menantang, sampai akhirnya terjadi peperangan antar masing-masing kelompok pemuda. Satu kelompok dengan kelompok lainnya, sama-sama memperagakan tarian. Tangan, kepala, dan kakinya bergerak seirama lagu yang dinyanyikan. “Aturan berperangnya, pemuda yang mendapat giliran menyerang menggunakan senjata larik menyerang ke arah tubuh bagian perut ke atas atau sampai wajah,” jelasnya.

Sedangkan pemuda yang mendapat serangan berusaha bertahan menggunakan tameng dan senjata pecut melindungi serangan lawan. Demikian juga sebaliknya, ketika giliran pemuda yang bertahan tadi, balik menyerang dengan senjata larik sementara pemuda lawannya gantian bertahan dengan tameng dan pecut.

Diakuinya memang permainan ini berisiko luka bagi yang tidak lincah dalam menghindari serangan lawan. Menariknya, meski tarian ini tampak keras hingga lawan terluka berdarah-darah, namun tidak ada dendam di antara mereka.

Selain tarian caci, Warga Manggarai ini juga mempertunjukan tarian ndundu ndake. Tarian ini dibawakan oleh gabungan mahasiswi, pelajar, dan para ibu yang masih bersemangat. Ndundu ndake adalah tarian khas asal Manggarai untuk penyambutan tamu. tarian ini biasanya selalu dibawakan oleh perempuan.

Salah seorang mahasiswi yang ikut ambil bagian dalam tarian ndundu ndake mengaku sangat senang bisa ambil bagian dalam tarian tersebut karena dijaman sekarang anak-anak muda semuanya sok serba gaul sehingga melupakan tarian adat dan budaya asal. “Saya mengajak anak muda zaman sekarang agar tidak boleh melupakan tarian adat yang merupakan warisan nenek moyang kita. Karena itu mari kita melestarikan tarian adat kita,” ujarnya. (bx/afi/aim/yes/JPR)

 

Most Popular

To Top