Vanath Nilai Manuver Orno tak Berpengaruh – Ambon Ekspres
Politik

Vanath Nilai Manuver Orno tak Berpengaruh

UJI KELAYAKAN: Abdullah Vanath saat memaparkan visi dan misi, sebagai bakal Calon Wakil Gubernur Maluku periode 2018/2023, di SwisBelhotel, Rabu (23/8).

Soal Rekomendasi PKB

AMEKS ONLINE,AMBON.––Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadi incaran serius bakal calon Gubernur Barnabas Orno sebagai dasar memperoleh rekomendasi PDIP. Garansinya, dia menggandeng kader PKB sebagai wakil gubernur. Namun bagi Abdullah Vanath, manuver Orno tak mempengaruhi keputusan rekomendasi PKB.

M anuver Orno mengga- ndeng kader PKB Ma- luku Habiba Pelu dengan harapan rekomendasi, sudah dilakukan beberapa pekan lalu. Bahkan, Orno dan Habiba telah bertemu dan bersepakat. Tapi soal kepastian rekomendasi, PKB belum memberikan sinyal.

Sebelum dengan Habiba, Orno juga meminang ketua DPD Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Ayu Hindun Hasanussi, dan ketua DPW Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Maluku, Hamdani Laturua. Tetapi tak ada respons positif hingga saat ini. Baik Ayu maupun Hamdani kembali kepada keputusan DPP partai masing-masing.

Menurut Vanath, manuver Orno tidak akan mempengaruhi sikap dan dukungan politik PKB. Sebab, PKB merujuk pada keinginan masyarakat terhadap calon Gubernur dan wakil Gubernur Maluku yang diukur lewat hasil survei. “Saya juga tidak kaget. Karena munculnya pengurus PKB saat ini, kan tidak berbeda jauh dengan waktu kandidat tertentu datang daftar di Nasdem, ketua Nasdemnya diajak jadi wakil. Setelah itu datang ke Hanura, ibu Ayu diajak jadi wakil. Ya, kebetulan mungkin datang ke PKB dalam rangka mengganggu pasangan HEBAT, ya itu aja. Karena manuver Orno itu tidak berpengaruh kepada ekspektasi masyarakat terhadap pasangan HEBAT,” ujar Vanath kepada wartawan usai menyampaikan visi dan misi pada Uji Kelayakan dan Kepatutan DPW PKS Maluku di Swiss-belhotel, Rabu (23/8).

Menurut bakal calon wakil gubernur Maluku berpasangan dengan Herman Adrian Koedoeboen itu, PKB akan menjadikan survei elektabilitas sebagai indikator. Olehnya itu, meski istrinya, Rohani Vanath adalah pengurus PKB, tidak mengurangi rasionalitas dan objektivitas PKB menentukan rekomendasi. “Saya tidak melihat karena ibu Ani Vanath menjadi pengurus DPP, lalu PKB itu mudah untuk kita dapatkan. PKB adalah milik banyak orang.

Tetapi, saya percaya bahwa semua partai ingin menang, dan rujukan kemenangan itu adalah hasil survei. Dan kami percaya dengan pendekatan survei,” tegas mantan Bupati Seram Bagian Barat (SBT) dua periode itu.

Wakil Bendahara Umum DPP PKB, Rohani Vanath juga menegaskan, PKB tidak subjektif dalam penentuan rekomendasi. Olehnya itu, tidak ada jaminan bagi Vanath diusung PKB. Semua bakal calon punya peluang yang sama. “Kalau PKB, kita harus menghargai proses partai dan marwah partai. Walaupun ibu sebagai wakil bendahara umum DPP, suami (Abdullah Vanath) maju, harus ikuti mekanisme partai dong. Tidak boleh serta merta. Kira merujuk pada hasil survei,” ujar Rohani yang juga Koordinator Pemenangan Pemilu wilayah Maluku itu.

Sementara itu, Habiba belum memberikan sinyal sinyal pasti berpasangan dengan Orno. Kepastiannya, bisa diketahui setelah Musyawarah Pimpinan Wilayah (Muspimwil), Jumat (25/8). “Masih ada urusan. Nanti hari Jumat ada Muspimwil, baru wawancara sekalian,” singkat anggota DPRD Maluku dua periode itu.

Sebelumnya, Jumat (18/8) Habiba mengaku serius mengikuti kompetisi pemiliham gubernur dan wakil gubernur Maluku 2018. Selaku kader, ia menegaskan, punya hak untuk mencalonkan diri di PKB. Ia juga telah membangun komunikasi dengan beberapa bakal calon gubernur. Namun, ia masih merahasiakan dan akan disampaikan secara resmi ketika sudah ada kesepakatan berpasangan serta rekomendasi partai politik. “Itu rahasia. Nanti kami akan sampaikan pada wakutnya. Tapi yang pasti bahwa, sudah lakukan komunikasi. Pasti dari kalangan kader partai,” jelasnya.

SAMA-SAMA BERPELUANG
Analisis politik, Djali Gafur menilai format Orno-Habiba dan Herman-Vanat punya keunggulan masing-masing. Olehnya itu, sama-sama memiliki peluang untuk direkomendasikan PKB.

Dari indikator positioning politik, Orno-Habiba diuntungkan dibanding Herman-Vanath. Sebab, kata dia, Orno adalah kader PDIP sekaligus kepala daerah (Bupati Maluku Barat Daya). Sementara Habiba adalah kader PKB sekaligus anggota DPRD Maluku. “Berbeda dengan Herman dan Vanath yang hanya sekadar afilasi politik (dengan PKB),” papar Djali.

Sementara itu, Herman dan Vanath punya modal elektoral yang menjanjikan. Keduanya sudah teruji dalam kontestasi Pilkada. Paling terakhir di pemilihan gubernur dan wakil gubernur Maluku 2013.

Meski Orno menang dua kali di Pilkada MBD yang memiliki jumlah pemilih sekitar 47.000, dan Habiba merupakan salah satu tokoh masyarakat dan ketua Fatayat NU, namun belum teruji di pilgub. Ini salah satu catatan kelemahan mereka. “Herman – Vanath punya modal elektoral karena pernah bertarung sebelumnya, dan beberapa survei menujunjukkan elektabilitas mereka juag bagus meski masih di bawah petahana. Sementara Orno-Habiba juga punya basis konstituen, namun teruji beryarung seperti Herman dan Vanath,” papar Direktur Indonesia Research and Strategy (IRS) itu.

Dalam kondisi ini, lanjut dia, PKB juga harus memotret aspirasi publik. Apakah publik masih tetap menghendaki para petarung lama (Herman dan Vanath) melawan petahana Said Assagaff, atau justru butuh petarung baru. “Sedangkan posisi parpol, ada dua kecenderungan yang akan diambil, yaitu politik kekuasaan (mendukung yang punya potensi menang) atau eksperimentasi politik (mendukung yang potensial di internal/kader,” urai Djali.
Pendekatan eksperimentasi ini, kata dia, telah dipakai oleh PKB untuk Pilkada Gubernur Jawa Barat dengan mendorong kadernya, Helmy Faishal Zaini sebagai calon gubernur maupun wakil gubernur. Dan di Jawa Tengah, PKB juga mengusung kader yakni Marwan Jafar.

Untuk Pilgub Maluku, Djali belum memprediksi. Pasalnya, terdapat sejumlah indikator politik maupun startegi bagi PKB di Maluku. “Nah, untuk Maluku saya juga kurang tahu. Pimpinan parpol yang lebih mengerti,” pungkasnya.(TAB)

Most Popular

To Top