Di Balik Lahirnya Perseteruan Antara ”Polisi Bahasa” dan ”Peri Bahasa” – Ambon Ekspres
Ragam

Di Balik Lahirnya Perseteruan Antara ”Polisi Bahasa” dan ”Peri Bahasa”

PROSES PANJANG: Fachreza Octavio (kanan) dan Dimar Pamekas di Jakarta (10/8)

Kerahkan Jurus Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Menjadikan bahasa Indonesia sebagai kekuatan, komik Fachreza Octavio dan Lemon S. Sile pun bertebaran dengan peribahasa, tata bahasa, sampai nama-nama sastrawan besar. Sekadar bilang ”naik ke atas” pun bakal dihukum.

Oleh: GLANDY BURNAMA, Jakarta

HABIS sudah kesabaran Ismail. Marah telah membuatnya benar-benar marah. Tak ada cara lain, jurus andalannya, ”Syair Orang Lapar”, harus dikeluarkan.

Tapi, Marah yang jadi sasaran jurus yang bisa membuat siapa saja keroncongan itu ternyata tak terpengaruh. Dia malah balik membalas dengan jurus ”Tong Kosong Nyaring Bunyinya” yang membuat ”Syair Orang Lapar” tidak berdampak apa-apa….
Kalau kemudian puisi, peribahasa, dan nama-nama sastrawan terlibat, itu karena duel di atas terjadi di kota tempat bahasa Indonesia jadi kekuatan. Sebuah kota futuristis yang lahir dari imajinasi duet Fachreza Octavio dan Lemon S. Sile melalui komik Peri Bahasa.

Dimuat dalam majalah Kosmik Second Orbit edisi Januari 2017, hingga kini Peri Bahasa karya dua sosok yang memakai nama pena demi anonimitas itu sudah mencapai chapter 7.

Membaca komik karya Fachre dan Lemon memang bisa membuat siapa pun lebih mengenal peribahasa, tata bahasa, hingga nama-nama besar dalam jagat sastra Indonesia. Ismail dan Marah, contohnya, merujuk kepada penyair Taufiq Ismail dan novelis Marah Rusli. Syair Orang Lapar, jurus andalan Ismail, merupakan judul salah satu puisi karya Taufiq. Seperti efeknya dalam cerita di komik, puisi itu juga bicara tentang kelaparan.

Dan, Tong Kosong Nyaring Bunyinya, siapa pun tahu, merupakan peribahasa. Yang tafsir bebasnya ucapan atau tindakan seseorang yang tidak berdampak apa-apa. Jadi, tak heran kan kalau jurus Syair Orang Lapar Ismail lantas tak mempan di hadapan Marah? Masih ada pula ”Dipandang Dekat, Dicapai Tak Boleh”. Jurus itu membuat si pemakai tidak terjangkau lawannya. Persis dengan makna peribahasa tersebut.

Prev1 of 3

Most Popular

To Top