Penyandang Disabilitas yang Jadi Perajin Mebel – Ambon Ekspres
Features

Penyandang Disabilitas yang Jadi Perajin Mebel

PAKAI KAKI: Hariyadi mengelem (menambal kayu yang bolong) dengan kedua jari kakinya di usaha mebel tempatnya bekerja.

Lahir tak sempurna tanpa tangan, tidak membuat Hariyadi minder atau hanya bertopang dagu. Warga Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, ini bekerja layaknya manusia normal. Bahkan, dia bekerja sebagai perajin mebel, yang membutuhkan keahlian khusus.

Mebel kayu setengah jadi, tampak menumpuk di industri mebel milik Haji Hadi di Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Puluhan pekerja pun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Ada yang menggosok, mengelem atau mendempul kursi atau meja. Ada yang menarik perhatian di antara para pekerja di situ. Jika mayoritas pekerja menggunakan kedua tangannya untuk bekerja. Ada seorang perajin yang cukup istimewa. Sebab, dia menggunakan kedua kakinya untuk bekerja.

Dia adalah Hariyadi, 41, warga Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Wartawan koran ini pun memperhatikan dengan seksama, selama Hariyadi bekerja.

Urat kaki Hariyadi, tampak mengeras selama bekerja. Layaknya pekerja yang menggunakan tangan untuk bekerja.
Jari kakinya pun lihai memegang tapi (alat untuk mengelem). Dengan jari kakinya, sedikit demi sedikit Hariyadi mengambil lem berwarna cokelat di sisi kirinya. Saat jari kaki kirinya mengelem meja di depannya, kaki kanannya pun memegang bagian kursi yang lain agar tidak goyang.

Ya, terlahir tidak mempunyai tangan, membuatnya harus beradaptasi. Hariyadi menggunakan kaki untuk mengganti fungsi tangan.
Dan hasilnya, dia lihai menggunakan jari kakinya untuk beragam kegiatan. Pendek kata, kedua jari kakinya hampir mirip dengan jari tangan, terutama saat bekerja di industri mebel.

Hariyadi sendiri mengaku mulai menggunakan jari kakinya untuk mengganti fungsi tangan sejak SD. “Saya sudah begini (tidak punya kedua tangan) sejak lahir. Jadi, dari kecil terbiasa menggunakan kaki dan jari kaki untuk kegiatan sehari-hari,” ungkapnya.
Hariyadi sendiri lahir dan besar di Dusun Turi, Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Selama sekolah itu, dia menggunakan jari kakinya untuk menulis. “Dulu menulis ya pakai kaki. Itu, membuat saya sering dihina teman-teman sejak kecil. Tapi, saya nggak pernah minder, meskipun keadaan seperti ini,” ungkapnya.

Mempunyai orang tua yang hanya sebagai buruh tani, anak kedua dari empat bersaudara ini, hanya bisa lulus SD. Saat usia 13 tahun atau kelas 2 SMP, dia terpaksa berhenti sekolah. Dengan keterbatasan itu, Hadi panggilannya, mencoba peruntungan untuk belajar di dunia industri mebel. “Waktu itu di sekitar Rejoso, pekerjaan yang banyak ya jadi perajin mebel. Walaupun enggak punya tangan, saya coba melamar kerja di kerajinan mebel milik Pak Nasik di Rejoso. Ternyata beliau menerima,” ungkapnya.
Sebelum masuk, Hadi memang sedikit-sedikit bisa menggosok furnitur sampai halus. Sehingga, sejak usia 13 tahun, Hadi sudah mulai mencari uang sendiri dengan menjadi perajin mebel.

Pekerjaannya pun sama dengan perajin lainnya. Yaitu, masuk pukul 07.00 sampai 16.00. Bedanya, Hadi mengaku lebih capek karena menggunakan kaki. Namun, dia tak patah semangat. “Saya penuh, sama seperti lainnya. Memang lebih capek, karena pakai kaki. Tapi, kualitas dan banyaknya pekerjaan sama hasilnya dengan yang lain,” ungkapnya.

Setelah dua tahun, Hadi hijrah menjadi perajin mebel ke Malang. Sebab, mebel tempatnya bekerja tutup. Lalu, di usia 18 tahun, dia hijrah ke Jember. Juga menjadi perajin mebel. Sampai akhirnya di usia 22 tahun, Hadi kembali ke Pasuruan. Dia lantas bekerja di industri mebel milik Haji Hadi. Terhitung, sudah 18 tahun dia bekerja di tempat itu.

Hadi mengaku, tetap survive hingga kini, meskipun memiliki keterbatasan. “Karena di mebel itu kan kerjanya tim. Jadi, saya bisa kerjakan yang mampu saya kerjakan. Seperti menggosok, mengelem, mendempul, dan nyading,” jelasnya.
Bahkan, karena sudah senior di tempatnya bekerja, Hadi kini menjadi kepala mandor. Tugasnya, mengawasi kinerja teman perajin lainnya yang berjumlah 35 orang.

Di tengah keterbatasannya, Hadi kini juga sudah memiliki istri. Yaitu, Muslikhah, 45, yang dinikahinya pada 2001. Dari pernikahannya, mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki. Yaitu, M. Zahril Rahadhoni, 13, yang kini bersekolah di SMPN 1 Winongan.
Sebagai satu-satunya pencari kerja di rumahnya, Hadi mengaku dengan keterbatasannya, tetap bisa menghidupi keluarga. Dari pekerjaannya sebagai perajin mebel, seminggu dia bisa mendapat uang rata-rata Rp 300 ribu- Rp 400 ribu. “Itu kalau sedang ramai. Kalau sepi garapan seperti sekarang, dapat Rp 200 ribu per minggu,” ungkapnya.

Namun, berapapun hasil yang diterima, menurutnya cukup untuk menghidupi keluarga. Yang penting, dirinya mengaku tidak berpangku tangan. Termasuk sampai harus mengemis, karena alasan keterbatasannya.“Enggak mau sampai nganggur. Selama kuat dan bisa kerja, lebih baik bekerja. Disyukuri apa yang didapat, yang penting tidak pantang menyerah,” pungkasnya.(br/eka/mie/JPR)

Most Popular

To Top