Demi Rawat si Adik yang Terkena Kanker, Bocah Ini Tinggalkan Sekolah – Hacked by TryDee
Features

Demi Rawat si Adik yang Terkena Kanker, Bocah Ini Tinggalkan Sekolah

TEGAR : Maswi tetap tegar menunggu dan merawat adiknya Fatimah meski sendiri

Orang Tua Alami Gangguan Jiwa

Konjen Maswi, 12, mengambil keputusan dalam hidupnya. Dia rela meninggalkan sekolah demi merawat adiknya yang terkena kanker di RSUD Ulin, Banjarmasin. Seakan dia mengambil alih peran ayah dan ibu, karena orang tuanya tengah mengalami gangguan jiwa. Untuk anak seumurannya, apa yang dilakukan itu pengorbanan yang sangat besar sekali.

SLANG infus masih terpasang di tangan kiri Siti Fatimah, 10. Wajah gadis cilik asal Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), itu terlihat sayu. Di sampingnya, Maswi, sang kakak yang masih berusia 12 tahun, tampak tegar meski si adik terbaring lemah di Ruang Anak Hemato Onkologi Tulip lantai 3 RSUD Ulin. Sesekali, dia mencium kening si adik untuk menghibur.

Sudah sebulan Maswi merawat Fatimah yang menderita kanker tulang dan kanker darah (leukemia). Maswi mengurus segalanya. Mulai administrasi, membersihkan badan si adik, mengganti baju dan popok, hingga mengurus transfusi darah ke PMI Kalsel. Semua dilakukan sendiri oleh bocah 12 tahun tersebut.
Siswa kelas VI SDN Nungka, Balangan, itu sampai rela tidak masuk sekolah demi menjaga kesehatan si adik tercinta. Orang tua mereka masih ada. Namun, karena keduanya mengalami gangguan mental, Maswi-lah yang merawat Fatimah meski jauh dari kampung halaman.

Ayahnya sempat menjenguk si adik beberapa waktu lalu. Tetapi, karena sang ayah membuat gaduh rumah sakit, Maswi lantas meminta tetangganya menjemput ayahnya pulang ke kampung halaman. “Saya sayang dengan adik. Siapa lagi yang merawatnya kalau saya tak ke sini? Pihak sekolah sudah mengizinkan,” tutur Maswi kemarin (28/8) dengan polosnya.

Untungnya, biaya perawatan si adik dijamin pemerintah melalui jaminan kesehatan daerah (jamkesda). Maswi hanya mengeluarkan biaya untuk keperluan pribadi selama berada di rumah sakit seperti makan dan keperluan lain. “Ulun (saya) makan nukar (beli) di kantin di lantai bawah. Tapi, biasanya ada pasien sekitar yang memberikan makan ke ulun. Kadang-kadang ada pula perawat yang baik hati memberikan makanan,” ujarnya.

Lalu, dari mana dia mendapatkan uang untuk kebutuhan hidup selama berada di rumah sakit? Maswi banyak dibantu para perawat dan pasien di sekitar. Termasuk memesankan transportasi daring ke PMI Kalsel ketika mengurus transfusi darah si adik.

Tidak seperti anak seumurannya, Maswi cekatan saat mengurus administrasi yang berada jauh dari ruang perawatan si adik. Memegang amplop berisi berkas, dia melapor dulu kepada perawat untuk mengurus dan menitipkan Fatimah. “Awalnya, saya dibimbing perawat ketika mengurus. Setelah itu, saya urus sendiri. Paling kalau saya tak paham memanggil perawat,” kata anak tertua di antara dua bersaudara tersebut.

Meski sendiri, dia tidak takut menunggu adik saat malam di ruangan rumah sakit. “Untungnya, di ruangan saya tak sendiri. Ada beberapa pasien dengan keluarganya di samping. Jadi, saya tak takut,” jelasnya.

Anak pasangan Arbani dan Masni itu tidak menduga adiknya menderita kanker sehingga harus dirawat intensif. Sebab, gejala tersebut baru diketahui ketika Fatimah dibawa ke RSUD Balangan setelah jatuh dari toilet rumah dan mengalami patah tulang di tangan. Saat RSUD Balangan tidak memiliki fasilitas lengkap, akhirnya Fatimah dirujuk ke RSUD Ulin. Nah, di situ baru diketahui bahwa si adik menderita kanker tulang dan leukemia.
“Sebelumnya, ading ulun (adik saya) tak sakit. Baru sekarang ternyata diketahui mengalami kanker. Mudah-mudahan dia cepat sembuh dan bisa ceria lagi,” ucapnya sambil menyeka air mata.

Selama satu bulan menjaga si adik, Maswi sudah kangen dengan kampung halaman, terutama rekan sekolahnya. Sambil meneteskan air mata, dia menyatakan ingin sekali kembali ke sekolah dan berharap adiknya sembuh seperti sediakala. “Mau bagaimana lagi, saudara saya tak ada lagi. Paman dan bibi juga bekerja, jadi tak bisa ke sini,” terangnya.

Salah seorang keluarga pasien yang satu ruangan dengan Fatimah, Risna, menuturkan bahwa Maswi sangat sayang dengan si adik. Setiap kali adiknya menangis, Maswi selalu menghiburnya. “Orangnya pintar dan perhatian dengan adiknya. Membuat gaduh seperti anak seumuran dia pun tak pernah,” jelas Risna.(mof/c14/ami)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!