Warga Protes, Perusahaan Cuek Supir Alat Berat Tersangka – Ambon Ekspres
Berita Utama

Warga Protes, Perusahaan Cuek Supir Alat Berat Tersangka

Komisi III DPRD Ambon melakukan tinjauan lapangan ke lokasi kecelakaan alat berat yang dikerjakan CV Bangun Jaya Permai, yang menewaskan 2 orang warga di Dusun Taeno.

AMEKS ONLINE, AMBON.–Kasus ini sontak membuat heboh warga Taeno dan sekitarnya. Mereka ramai-ramai menyoroti kasus ini dan menyalahkan pihak kontraktor yang menangani kegiatan pengaspalan jalan di ruas Jalan Air Ulang tersebut. Ini lantaran sikap pihak perusahaan yang tak mau kompromi saat pengerjaan jalan dilakukan.

Informasi koran ini menyebutkan, pengerjaan proyek hotmix di Jalan Air Ulang, Negeri Rumahtiga sepanjang 2.000 meter ini sudah mulai dikerjakan pada awal Agustus lalu. Hanya karena cuaca di Kota Ambon terus hujan maka pekerjaan mengalami penundaan beberapa kali.

Ruas jalan ini merupakan satu-satunya akses jalan yang menghubungkan 6 dusun yakni Dusun Taeno Bawah, Taeno Atas, Air Ali, Dusun Bandari, Kampung Kranjang, dan Dusun Waringin Cap atau dikenal kawasan Bukit Barisan dengan jalan utama Jalan Ir M Putuhena, Negeri Rumahtiga.

Pekerjaan dilakukan pihak kontraktor pada awal Agustus lalu yang dimulai dari titik nol di ruas Jalan Ir M. Putuhena. Saat itu pekerjaan yang diselesaikan diperkirakan baru sekira 250 meter dengan medan datar. Selanjutnya pihak kontraktor melakukan pekerjaan pada titik 1.900 meter dengan medan terjal.

Di posisi ini, perusahaan memulai pekerjaan pada 24 Agustus lalu. Pekerjaan yang dituntaskan saat itu sekira 100 meter. Dan pada Selasa, (29/8), pekerjaan kembali dilanjutkan dengan medan terjal atau tepatnya di Tanjakan Kotamahu. Naas pada hari itu, salah satu alat berat Peneumatic Roller (PTR) untuk penggilasan aspal yang dikemudikan Johanis Tutuarima (64) tergelincir dan menggilas sejumlah kendaraan dan pengguna jalan yang hendak melintas di ruas jalan tersebut.

Warga ramai-ramai memprotes dan menuduh pihak kontraktor lalai dalam pekerjaan di lapangan. Bahkan, kemarahan warga semakin memuncak dan membakar salah satu mobil pick up milik kontraktor. Mereka menilai karena kurang hati-hati dari pekerja, insiden tersebut terjadi.

Warga menilai, pihak kontraktor tidak menggunakan standarisasi kesehatan dan keselamatan dalam pekerjaan. Selain itu aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada pihak kontraktor di lapangan sebelum peristiwa tersebut terjadi juga tidak diindahkan.

Dari keterangan sejumlah warga setempat menyebutkan, dalam beberapa hari sebelum pekerjaan dimulai, pihak kontraktor melalui aparat keamanan dari kepolisian meminta masyarakat untuk tidak beraktifitas di ruas jalan tersebut selama pekerjaan berlangsung. Alasannya, pengerjaan pengaspalan dilakukan sekaligus untuk seluruh badan jalan atau tidak dilakukan setengah badan jalan.

Permintaan tersebut mendapat penolakan warga. Warga pun turun kelokasi pekerjaan dan melakukan protes dengan meminta kontraktor untuk melakukan pengaspalan setengah badan jalan baru kemudian dilanjutkan lagi. Hal ini supaya masyarakat bisa beraktifitas di ruas jalan tersebut. Jika dikerjakan seluruh badan jalan sekaligus maka warga minta untuk dikerjakan malam hari.

Salah satu tokoh masyarakat Taeno Bawah mengaku, permintaan warga tersebut tidak dikabulkan pihak kontraktor dengan alasan bahwa alat berat yang digunakan untuk menyiram aspal berukuran besar dan tidak bisa diperkecil untuk setengah badan jalan, tapi mereka (pekerja) berjanji akan membuka akses jalan untuk warga setiap setengah jam. Namun kenyataan hal itupun akses jalan dibuka setiap satu atau dua jam.

Padahal, lanjut warga, proyek pengaspalan ruas jalan ini sudah pernah dilakukan tahun 2003. Saat itu perusahaan yang menangani pengaspalan adalah PT. Waskita. “Mereka (Waskita) yang kerja ruas jalan ini tahun 2003, khusus pada tanjakan Kotamahu dilakukan malam hari. Sudah begitu, tingkat pengamanan dan kehatian-hatian mereka tinggi,” cerita salah satu tokoh masyarakat Taeno.

Juga, lanjut dia, semua alat berat saat itu diikat menggunakan kawat sleng dan digandeng pada kendaraan berat yang diletakan di puncak tanjakan maupun ada yang diikat pada sejumlah pepohonan besar. “Ada pohon mangga yang ada di puncak, itu dulu dipakai untuk mengikat alat-alat berat yang melakukan pekerjaan di tanjakan tinggi ini,” ujarnya.

Namun herannya, saat pengaspalan kali ini, pihak kontraktor yang belum diketahui nama perusahaanya agak teledor dan kurang hati-hati. “Mereka melakukan pengaspalan seperti mereka kerja di medan yang rata. Seluruh alat berat tidak ada pengamanan. Alat berat itu pernah tergelincir saat hendak naik ke puncak,” bebernya.

Sementara keterangan warga lainnya menyebutkan, saat peristiwa tergelincirnya alat berat pekerjaan sudah pada tahap penggilasan aspal selesai. Saat itu alat berat hendak turun keposisi dataran rendah tempat dimana seluruh alat-alat berat pekerja ditampung. Posisi dari titik penggilasan aspal dengan dataran tempat memarkir alat berat sekira 50 meter dengan posisi kemiringan 45 hingga 50 derajat. “Karena alat berat sudah mau turun ke posisi rata, maka ada perintah dari petugas dan pekerja untuk kendaraan bisa lewat. Saat itulah sejumlah kendaraan dar arah bawah naik, begitupun dari posisi puncak sudah ada yang turun. Tapi baru beberapa kendaraan melintas, alat berat meluncur turun dengan kecapatan tinggi. Padahal saat itu ada kendaraan yang naik, dan akhirnya terjadi peristiwa ini,” jelasnya.

Saat itu, ketika diberi aba-aba oleh petugas beberapa kendaraan meluncur naik. Namun baru mencapai jarak 30-40 meter, tiba-tiba alat berat meluncur. Padahal jarak alat berat dengan kendaraan pertama yang naik mobil Kijang DE 993 AD yang diketahui dikemudikan Alroi Matahurila hanya berjarak sekitar 10-15 meter. Mobil tidak sempat menghindar dan menjadi sasaran alat berat, separuhnya bodi mobil rinsek, sedangkan supir serta penumpang lainya terluka serius.

Di belakang mobil ini ada sepada motor Revo DE 3538 LL yang dibawah korban Hiradin Rumbia. Ia membonceng istri dan anaknya (Salmania Rumbia, masih dirawat di RSU Haulussy). Pada jarak sekira 5 meter dibawah kendaraan korban ada juga sepeda motor Jupiter MX bernomor polisi DE 2382 LC yang dibawah Fandi Nurdin berboncengan dengan Anita (17), warga Dusun Kerajang, keduanya selamat. Alat berat yang meluncur dengan kecepatan tinggi baru berhenti setelah menabrak alat berat lainnya milik kontraktor yang sementara terparkir di posisi dataran rendah.

TERSANGKA
Kasat Lantas Polres Ambon AKP M Bambang Surya Wiharga yang dikonfirmasi terkait tindaklanjut proses hukum kasus kecelakaan maut itu memastikan sudah menetapkan 1 tersangka. Tersangka diketahui bernama Johanis Tutuarima (64) yang merupakan pengemudi alat berat maut. “Untuk pengemudi alat beratnya, sudah kita amankan dan kita tetapkan tersangka. Yang bersangkutan kita jerat pasal 310 ayat (4) jo ayat (3) jo ayat (1) UU Nomor tahun 2009,” tandas Bambang via telephone selulernya, malam kemarin.

Menyoal apa sudah dilakukan penyelidikan terhadap alat berat, dia tidak menampik kalau belum dilakukan pemeriksaan. “Belum. Belum pemeriksaan alat beratnya. Rencana besok saksi ahli dari dishub yang melakukan pemeriksaan alat berat layak pakai atau tidak. Alatnya sementara diamankan di Polsek Teluk Ambon,” tandas Bambang.

Selain itu, kata dia, juga sudah dilakukan pemeriksaan terhadap pihak penangungjawab proyek tersebut. “Sudah kita lakukan pemeriksan terhadap pihak perusahaan, kemarin. Hanya saja penjelasan mereka katanya kendaraan yang dipakai sudah sesuai. Nanti kita lihat setelah pemeriksan saksi ahli,” kata Bambang.

Ditanya, nama perusahan pengelola, Bambang mengaku lupa. “Saya lupa nama perusahaan. Jelasnya sudah kita periksa. Besok (hari ini) pihak perusahan juga kita mintai keterangan lagi,” tandas dia.

TANGGUNG JAWAB TELY
Kasus kecelakaan ini telah ditangani pihak kepolisian Polres Ambon dan PP Lease. Kasus ini sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab CV Bangun Jaya Permai yang dipimpin Telly Nio.
Telly merupakan kontraktor yang disebut sebagai pemenang tender proyek pengaspalan jalan di Dusun Taeno,

Desa Rumah tiga, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Saat itu sementara melakukan pekerjaan jalan milik Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Ambon sepanjang 2,1 km. Namun pekerjaan tersebut diperkirakan baru dikerjakan sekitar 780 meter.

Setelah peristiwa itu, Telly diketahui dating bersama pihak kepolisian untuk menemui keluarga korban. Dia menyatakan akan menyanggupi mengganti semua kerugian yang ditimbulkan. “Tadi (kemarin) ada pihak kepolisian datang untuk menangani persoalan ini. Dan katanya pihak kontraktor yang akan bertanggungjawab.

Kami sangat berharap ada ganti rugi dari yang bertanggung jawab. Karena korban pergi meninggalkan 4 orang anaknya yang masih duduk di bangku pendidikan,” tandas Hiradin Rumbia (saudara korban) kepada awak media beserta anggota DPRD Kota Ambon saat mendatangi rumah duka di Dusun Taeno, Rabu (29/8).

Ketua Komisi III DPRD Ambon, Christianto Laturiuw mengatakan, sebelum terjadinya kecelakaan tersebut, komisi berencana untuk melakukan tinjauan lapangan terhadap proyek jalan di Dusun Taeno (TKP) dan Kawasan Batu Gantong, Kecamatan Nusaniwe.

Akan tetapi, ada penjelasan dari pihak Dinas PUPR Kota Ambon, bahwa proyek tersebut sementara tidak dapat dilalui lantaran masih dilakukan pekerjaan. Sialnya, setelah beberapa jam kemudian, terjadi kecelakaan maut. “Sekitar jam dua sebelum kejadian itu, komisi memang berencana kunjungi proyek jalan di Taeno (TKP), akan tetapi dibatalkan dengan alasan dari Dinas PUPR bahwa jalan tersebut sementara tidak bisa dilalui,” tandasnya.

Politisi asal Gerindra ini mengaku, dari hasil tinjauan lapangan di Taeno dengan pihak korban, ada upaya tanggung jawab dari kontraktor. Dimana perusahaan tersebut menyanggupi untuk ganti rugi dan akan membiayai kelangsungan hidup 4 anak korban. “Setelah kita tanyakan, katanya kontraktornya bersedia menjadi orang tua yang ditinggalkan. Dimana 4 anak korban akan menjadi perhatian dan tanggung jawab kontraktor. Tetapi, komisi akan tetap mengawasi, sejauh mana tanggung jawab yang nantinya akan diberikan terhadap anak-anak korban,” tegas Laturiuw.

Hal senada disampaikan anggota Komisi III DPRD Ambon, Taha Abubakar dari Dapil Teluk Ambon. Menurutnya, persoalan ini akan tetap menjadi pengawasan DPRD yang akan melihat sejauh mana tanggungjawab yang dijanjikan kontraktor kepada keluarga korban.

Akan tetapi, lanjut Politisi asal PPP ini, komisi tetap akan melakukan pemanggilan terhadap Dinas PUPR dan kontraktor untuk meminta penjelasan atas peristiwa tersebut. “Mungkin pekan depan kita akan memanggil dinas dan kontraktornya, setelah kita melakukan pembahasan secara internal. Tetapi kita akan terus mengawasi sejauh mana bantuan atau tanggung jawab dari kontraktor yang dijanjikan kepada pihak korban,” pesannya.

Sekretaris Dinas PUPR Kota Ambon, Robby Sapulette, ketika dihubungi mengatakan, dirinya kurang memahami soal kecelakaan tersebut. Akan tetapi, dirinya memastikan bahwa proyek tersebut ditangani langsung oleh CV Bangun Jaya Permai. “Saya memang kurang paham soal kejadian di Taeno. Coba hubungi pak kadis. Karena beliau yang turun lapangan kemarin bersama pihak kepolisian ke rumah korban. Dan kalau tidak salah itu CV Bangun Jaya Permai yang kontraktornya,” singkay Sapulette.

Kepala Dinas PUPR Kota Ambon, Brury Nanulaita, belum dapat memberikan keterangan resmi soal kecelakaan tersebut. Bahkan ketika dihubungi, nomor kontak yang bersangkutan tidak aktif, hingga koran ini naik cetak.(ISL)

Most Popular

To Top