Survei Rendah, Murad Tetap Maju – Ambon Ekspres
Politik

Survei Rendah, Murad Tetap Maju

AMEKS ONLINE, AMBON.—Elektabilitas Murad Ismail tak menjanjikan sebagai penantang kuat bagi Said Assagaff. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) sebagai konsultan politiknya, akan melakukan survei sebagai salah satu bahan pertimbangan ilmiah bagi Murad menentukan langkah selanjutnya.

LSI-Denny JA yang telah meneken kontrak dengan Komandan Korps Brimob Polri, itu akan melakukan survei sebelum Desember 2017. Meski belum pasti, tapi direncanakan sebelum pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku. “Karena survei itu tujuannya untuk, pertama kita melihat trend elektabilitas. Kita cari momentum dan waktu yang pas agar kita bisa lihat perkembangannya yang bisa jadi bahan untuk kita kasih masukkan ke kandidat. Rencana survei sebelum Desember,” ungkap peneliti LSI, Adjie Alfaraby saat dihubungi Ambon Ekspres, Minggu (4/9).

Murad merupakan salah satu penantang petahana Said Assagaff. Ia orang baru dalam arena perpolitikan Maluku, khususnya pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Keseriusannya maju ditunjukkan dengan mendaftar dan mengikuti tahapan-tahapan formal di hampir semua partai politik, kecuali Partai Golkar. Bahkan, dia mengklaim telah mengantongi rekomendasi PAN yang memiliki satu kursi DPRD Provinsi Maluku.

Namun, keseriusannya ini tak sebanding dengan modal elektoralnya. Tiga lembaga survei resmi yang telah merilis hasilnya pada akhir Juli, menempatkan elektabilitas (tingkat keterpilihan) Murad masih di bawah 10 persen. Berselisih jauh dengan elektabilitas Said Assagaff yang rata-rata 50 persen.

Elektabilitas mantan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku itu hanya 2,20 persen sesuai hasil survei Sinergi Data Indonesia (SDI). Sedangkan tertinggi Said Assagaff 49,80 persen. Disusul Herman Adrian Koedoeboen dengan 21,00 persen.

Sementara hasil survei Indo Barometer, menunjukkan elektabilitas Murad Murad Ismail 4,0 persen. Said 51.5 persen dan Herman Koedoeboen 24,9 persen.

Kemudian, hasil survei Media Survei dan Strategis (MSS) mendapati elektabilitas Murad Ismail 5,00 persen dan petahana 50,50 persen. Disusul Barnabas Orno 6,60 persen, Herman Adrian Koedeoboen 5,20 persen, Bitzael S. Temmar 4,30 persen, Tagop Sudarsono Soulisa 3,90 persen, Zedek Sangadji 1,10 persen, Komarudin Watubun 0,90 persen, Johuzua Max Yoltuwu 0,20 persen.

Sedangkan hasil survei Indo Barometer yang dirilis pada Kamis (31/8) justru elektabilitas Murad kian merosot yakni 3 persen. Petahana 54 persen, Herman 20 persen, Barnabas Orno 9 persen. Survei pertama lembaga ini untuk Pilgub Maluku oleh DPP Golkar, dan kedua dipakai DPP PDIIP.

Tetapi, angka-angka ini tak menyurutkan optimisme Murad untuk maju dan lolos sebagai salah satu calon gubernur Maluku 2018-2023. Survei kedua LSI akan menjadi salah satu pertimbangan personal bagi Murad untuk memutuskan terus maju atau tidak.

“Kita sebagai lembaga survei biasanya diminta jasanya untuk melakukan evaluasi. Kalau kemudian hasil evaluasi, mereka merasa bahwa mereka punya cukup potensi untuk maju, itu kan keputusan dari kandidat. Jadi, maju tidaknya kandidat tergantung pak Murad selaku kandidat dan dukungan partai atau rekomenasi partai,” jelas Alfaraby.

Soal rekomendasi, biasanya partai politik tidak berpatokan pada hasil survei. Ini karena parpol punya kalkulasi tersendiri. Terhadap kandidat secara personal maupun peluang menang dengan membaca dinamika perubahan pilihan politik pemilih di lapangan.

“Jadi, tidak semata soal elektabilitas. Kalau partai merekomendasi pak Murad, misalnya, untuk maju, itu karena pertimbangan internal partai. Mereka punya kalkulasi dan evaluasi sendiri ya terhadap kandidat yang diusung. Dukungan partai ini juga menunjukkan bahwa ada keyakinan dari partai bahwa kandidat yang diusung bisa menang,” papar Alfaraby yang juga direktur Konsultan Citra Indonesia (KCI).

Ketua Bapilu DPD PDIP Maluku, Tobhyhend Sahureka sebelumnya mengatakan, untuk menentukan rekomendasi, ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sering tidak menggunakan pendekatan survei. Misalnya, saat PDIP mengusung Herman Koedoeboen secara tiba-tiba di Pilkada Gubernur Maluku 2013.

Sementara itu, wakil ketua DPW PKB Maluku, Malaka Yaluhun menyatakan, survei tetap menjadi pertimbangan pertama untuk penentukan rekomendasi. Kemudian hasil uji kelayakan dan kepatutan, Muspimwil dan pertimbangan strategis lain.

GENCAR KONSOLIDASI
Kurang lebih sepuluh bulan lagi pemilihan gubernur dan wakil gubernur Maluku dilaksanakan. Sedangkan waktu menuju pendaftaran tersisa lima bulan atau pada akhir Januari.

Bagi tim, itu merupakan relatif lama untuk meningkatkan popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas Murad. Olehnya itu, konsolidasi udara dan darat melalui penyebaran alat peraga berupa baliho, spanduk, stiker dan lainnya serta pertemuan dengan masyarakat gencar dilakukan.

“Terlalu dini untuk menilai popularitas (dikenal), akseptabilitas (diterima), dan elektabilitas (dipilih) seorang kandidat, kalau penyelenggaraan pilkada masih beberapa bulan kedepan. Apalagi saat survei dilakukan, belum terbentuk simpul dan jaringan MI di daerah-daerah, termasuk belum ada sosialisasi lewat alat peraga, atau on the spot (melakukan kunjungan) ke masyarakat untuk mensosialisasi dan memberikan kepastian ke masyarakat bahwa dirinya akan maju sebagai calon gubernur,” papar Asiz Tunny, juru bicara Murad Ismail.

Bila survei dilakukan pada September ini, Azis sangat optimis, elektabilitas Murad akan melejit. Sebab tim sudah bekerja, dan di sisi lain, petahana cenderung stagnan.

Selain elektabilitas, Murad memiliki cukup variabel dan resources untuk mengalahkan petahana. Olehnya itu, tim yakin Murad akan lolos sebagai calon dan berpeluang mengalahkan petahana. “Saya sangat yakin, apabila survei dilakukan pada periode September, maka posisi MI akan berubah baik popularitas, akseptabilitas maupun elektabilitas,” katanya.

Murad dan timnya tidak khawatir dengan elektabilitas Said saat ini. Meski tertinggi dari kandidat lainnya, namun menurut dia, angka itu belum aman bagi petahana. Apalagi pemilih loyal (strong voters) dibawah 30 persen.
Sehingga menurut dia, justru petahana yang harus merasa khawatir. ”Meskipun popularitas tinggi, termasuk elektabilitas, tapi strong voters petahana sesungguhnya sangat kecil. Rata-rata strong voters petahana dibawah 30 persen. Jadi, saya kira petahana yang semestinya khawatir dengan majunya MI dalam perhelatan Pilkada Maluku,” tandas Azis.

Dia mengaku, masih berhembus kabar di masyarakat bahwa Murad tidak serius maju. Tetapi, itu merupakan isu basi yang sengaja memperlemah langkah Murad. Tim sudah mengklarifikasi secara langsung saat konsolidasi.
“Setiap kami turun ke daerah-daerah, ada harapan dan keinginan masyarakat agar Pilgub 2018 mendatang melahirkan pemimpin baru, gubernur baru. Dan, niat MI sudah bulat untuk maju. Untuk itu saya menghimbau agar masyarakat Maluku tidak terpancing dengan isu-isu bahwa MI tidak serius maju, bahwa MI akan fokus pada karirnya di kepolisian dan menargetkan tiga bintang,” tegasnya.(TAB)

Click to comment

Most Popular

To Top