Geluti Budidaya Jambu Madu – Ambon Ekspres
Features

Geluti Budidaya Jambu Madu

PROSPEKTIF : Djuwari memeriksa buah jambu miliknya di kebun.

Tidak Jenuh, Perkilo Mampu Tembus Rp 25 Ribu

Kendati setiap bulannya dapat pemasukan, hal itu tidak lantas membuat Djuwari Purna, bersantai di rumah. Mantan PNS ini, tengah getol memelihara jambu madu. Selain menjadi penghilang jenuh, aktivitas tersebut terbukti memiliki prospek usaha yang cukup bagus.

oleh: AGUS MUHAIMIN, TRENGGALEK

“ Nganggur di rumah itu tidak enak,” kata Djuwari Purna saat ditemui di kebunnya, Jalan Makam Musdalifah, 90, Desa Rejowinangun. Ia terlihat asyik dengan pekerjaan barunya tersebut. Apalagi ukuran pohon jambu yang masih kecil itu sudah berbuah cukup banyak.

Ada ribuan batang jenis jambu air yang dia pelihara. Sebagian besar, masih berusia beberapa bulan. Kendati tinggi tanaman rata-rata kurang dari setengah meter itu, tanaman bernama latin Syzygium Aqueum tersebut sudah memiliki buah. “ Jadi harus dilihat dulu batangnya, kalau tidak kuat cabangnya bisa patah,” jelas dia.

Jambu madu milik Djuwari ini jika berbuah besarnya hampir menyamai ukuran botol air minum kemasan 220 mililiter. Tak pelak, jika ukuran ranting atau cabangnya masih kecil tentu tidak akan kuat menahan berat buah. Untuk itu, Djuwari biasanya membuang buah tersebut sampai cabang atau ranting pohon tersebut.

Sebenarnya ada alternatif lain agar buah tersebut bisa dinikmati, kendati usia pohonnya masih beberapa bulan. Caranya, memberinya penyangga pada tangkai buah. Namun, itu harus dilakukan dengan pengawasan yang khusus, mengingat tiupan angin bisa mengakibatkan penyangga tersebut bergeser yang ujung-ujungnya mengakibatkan cabang tanaman kecil tersebut patah.

Mantan Kabid Perkebunan Dinas Pertanian ini menceritakan, awal mula menggeluti budidaya Jambu Madu tersebut setelah dirinya studi banding ke daerah Jawa Tengah. Di sana, ia dan rekan-rekannya mendatangi pembudidaya jambu. Jambu tersebut memiliki ukuran cukup besar serta rasa manis. Atas dasar itu lah, dia tertarik membudidayakan jambu air itu.

Menurut dia, tanaman tersebut tidak hanya sekadar untuk konsumsi, namun bisa mendatangkan penghasilan. Pasalnya, di beberapa daerah harga buah jambu tersebut cukup mahal berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilo. Selain itu, saat ini belum begitu ada pembudidaya jambu jenis tersebut dan kemungkinan masih belum ada yang menanamnya. “ Karena  masih kecil bisa berbuah, ini juga bagus untuk tanaman hias,” katanya lantas tersenyum.

Sarana untuk menanam jambu ini bisa dilakukan dalam pot. Sehingga cukup praktis dan bisa dipindah sesuai keinginan pemiliknya. Perawatannya pun juga relatif mudah, atau sama dengan perlakuan tanaman pada umumnya. Yang jelas tanaman jambu air ini membutuhkan asupan air yang cukup sehingga setiap hari harus disirami.

Warga RT 3 RW 1 Kelurahan Kelutan ini menjelaskan dengan menanam dalam pot, pihaknya juga bisa mengatur kecukupan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Berbeda jika tanaman tersebut ditanam langsung di tanah. “ Biasanya saya pakai pupuk kandang, dan NPK, itu saja cukup,” jelas dia.

Istimewanya lagi, tanaman tersebut tidak mengenal musim. Artinya tidak terpaku saat kemarau atau penghujan saja mau berbuah. Sehingga setiap saat bisa dinikmati hasilnya. Namun dengan catatan, perawatan dilakukan dengan baik serta telaten membungkusnya agar tidak buah tidak diserang oleh serangga.

Selama ini, Djuwari mengaku belum memenuhi kendala berarti dalam membudidayakan tanaman tersebut. Hanya, pihaknya menekankan pada perawatan yang baik. Yakni, pemberian pupuk penanggulangan hama utamanya pemberian air yang cukup. “ Ini kalau sampean beli bibitnya di Jawa Tengah harganya mahal lo,” ujarnya lantas tertawa.(tri)

Click to comment

Most Popular

To Top