Suci, TKW asal Pasuruan yang Disiram Air Keras – Ambon Ekspres
Berita Utama

Suci, TKW asal Pasuruan yang Disiram Air Keras

MIRIS: Nasikah mendampingi anaknya Suci Sri Kusmiyati yang kini dirawat jalan untuk penyembuhan luka di wajahnya.

Kini untuk Bernapas Gunakan Lubang di Tenggorokan

Cerita pilu Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia yang bekerja di luar negeri, kembali terjadi. Kali ini menimpa Suci Sri Kusmiyati, TKW asal Grati, Kabupaten Pasuruan. Ia disiram cairan kimia oleh mantan kekasihnya, hingga 95 persen wajahnya melepuh.

Suasana rumah kediaman Suci Sri Kusmiyati, 26, di Dusun Krawan, Desa Kedawung Wetan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Selasa (5/9) tampak sepi. Meski demikian, pintu rumah dari kayu yang dicat oranye itu, dibiarkan terbuka.
Dari luar terlihat sosok perempuan memakai daster warna oranye membelakangi ruang tamu. Wartawan Jawa Pos Radar Bromo (Grup Ambon Ekspres) kemudian mengucapkan salam sebagai tanda hendak bertamu. Namun, perempuan tersebut justru berdiri dan masuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian, perempuan setengah baya dan berjilbab hijau tua, keluar menyambut kehadiran wartawan media ini. Setelah menyampaikan maksud kedatangan, perempuan yang diketahui bernama Nasikah, 40, itu menyilakan untuk masuk.
Kondisi ruang tamu yang berukuran 3 x 5 meter itu tampak sederhana. Selain kursi kayu dan meja tamu, tak banyak perabot lain di dalamnya. Di ruang tengah, terlihat sebuah kasur yang digunakan untuk menonton TV.

Nasikah lantas meminta maaf. Perempuan yang bergegas masuk tadi yang ternyata adalah Suci. Ia masih enggan bertemu banyak orang lantaran trauma. Karena itu, putrinya tadi memilih masuk ke kamarnya. Nasikah lantas masuk ke dalam rumah. Rupanya ia membujuk Suci untuk keluar dan menemui wartawan media ini.

Dengan susah payah, Suci kemudian ke ruang tamu. Kondisi kedua kelopak matanya yang menempel, membuat penglihatannya terganggu.
Karena itulah, ia sangat kesulitan untuk berjalan. “Maaf, mata saya memang hanya kiri yang masih bisa melihat, itu pun juga buram,” ujar Suci mengawali pembicaraannya.

Dari luar, kondisi wajahnya terlihat melepuh dan memerah. Di bahu sampai lengan kanan, masih diperban lantaran lukanya mengeras. Tangan kanannya juga melepuh, namun sudah mengering.
Yang mengenaskan, ada lubang di bagian lehernya. Suci mengatakan, lubang itu yang menyelamatkan hidupnya. Lantaran dari lubang itulah, ia bisa bernapas setelah menjalani operasi.

Suci lantas menceritakan awal mula dirinya hijrah ke Malaysia untuk mengadu nasib. Suci mengatakan, ia bekerja di Malaysia hampir 2 tahun lamanya. Setelah berpisah dengan suaminya, Suci sempat beberapa kali bekerja di sebuah pabrik di Pasuruan.

Sampai kemudian, ia memutuskan untuk bekerja sebagai TKW di negeri Jiran pada 2015 lalu. Di Malaysia, ia bekerja di pabrik tekstil yang ada di Selangor. “Akhirnya saya memilih bekerja di Malaysia. Tujuan saya waktu itu, adalah fokus untuk membesarkan Nadya, anak saya satu-satunya,” ungkapnya.

Nadya Sintya Septian, 6, adalah anak dari pernikahan pertamanya. Sampai akhirnya, nasib nahas menimpanya. Tepatnya pada hari Minggu, 16 Juli 2017 lalu.
Saat itu, Suci berniat pergi ke kedai untuk membeli makan siang. “Waktu itu saya berjalan sendirian. Dari belakang ada suara memanggil nama saya. Otomatis saya nengok ke belakang,” ujarnya.

Kagetlah dia, saat itu yang dilihatnya adalah mantan pacarnya yang asal Bangladesh, tiba-tiba menyiramkan air keras ke wajahnya. Saat itu, Suci merasa perih dan kepanasan. Suci mengaku sama sekali tak bisa teriak. Ia hanya merasakan bagian mukanya melepuh dan kesulitan bernapas. Akibat kejadian itu, Suci pingsan 2 hari lamanya.

“Saya kaget tiba-tiba sudah berada di rumah sakit. Saat itu saya sudah kesulitan bernapas, termasuk melihat. Bahkan, saya hanya merasakah perih dan bau daging menyengat dan terasa ada asapnya,” ungkapnya. Ia dirawat di Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah Klang, Selangor, dari 16 Juli sampai 14 Agustus.

Dari awal perawatan, ia beberapa kali koma. Seketika, muncul rasa putus asa dan berharap Tuhan mencabut nyawanya. Maklum, ia merasakan sakit yang amat sangat dan kesulitan napas. “Akhirnya, saya diberi lubang di tenggorokan agar bisa bernapas. Ini, yang menyelamatkan hidup saya,” ungkapnya.

Kemudian pada 14 Agustus sampai 28 Agustus, Suci dipindahkan di RS AL Islam, Kuala Lumpur. Semua perawatan di Malaysia, memang ditanggung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia. Sampai pada 28 Agustus, ia tinggal di kantor kedutaan.
Hingga akhirnya, per 1 September, ia dipulangkan ke Pasuruan melalui Bandara Juanda. Biaya pemulangannya ditanggung negara. Suci mengaku dijemput pihak Disnaker Kabupaten Pasuruan dan diantar ke rumah.

Suci mengaku, saat pulang dirinya memang tak membawa apa-apa. Selain baju yang melekat di tubuhnya dan baju yang diberi saat ia berada di KBRI. “Semua barang saya di indekos katanya sudah dibuang sama tuan rumah. Baik laptop, baju, dan barang-barang semuanya sampai uang juga. Jadi, saya pulang gak bawa apapun,” ujarnya sedih.

Bahkan, untuk kontrol ke RSUD Bangil, mereka harus naik bus. Lantaran saat ini, ia dan keluarga masih kesulitan biaya. Suci mengatakan, kebiadaban yang ia terima dari mantan kekasihnya itu, lantaran dendam, keinginan pria itu kembali untuk memadu kasih, ditolak olehnya.

Nasikah sendiri mengaku sedih atas apa yang menimpa putri sulungnya itu. “Padahal berangkat cantik, kok pulangnya kayak gini. Jelas sedih,” ungkapnya. Nasikah juga mengaku sulit mencari biaya berobat. Ia berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun donatur agar putri pertama dari 3 bersaudara ini bisa sembuh dan dapat beraktivitas seperti sebelumnya.(br/eka/mie/mie/JPR)

Click to comment

Most Popular

To Top