Titus Minta Jefri Tersangka – Ambon Ekspres
Hukum

Titus Minta Jefri Tersangka

AMEKS ONLINE, AMBON.–Terdakwa suap, AKP Johanes Titus Levtumun dalam pembelaanya meminta kepada majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkaranya agar dapat memerintahkan JPU dalam perkara ini untuk menetapkan pemberi suap, Jefri Candra sebagai tersangka dalam kasus suap tersebut. Hal tersebut disampaikan Titus lewat pembelaan yang dibacakan penasehat hukumnya, Hendrik Lusikooy dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor Ambon, Rabu (6/9).

Pembelaan ini disampaikan didepan majelis hakim yang diketuai Christina Tetelepta dan didampingi hakim anggota Samsidar Nawawi dan Benhart Panjaitan serta JPU I Gede Widhiartama. Terdakwa menyebutkan, selain Jefri Candra selaku pemberi suap sekaligus saksi pelapor, ada juga dua rekan lainya yakni mantan Kaur Bin Ops (KBO) Satreskrim Polres MTB, Johanes Laykear dan Kanit II, Raja Syaputro juga harus dijadikan sebagai tersangka dalam kasus suap bernilai Rp 100 juta tersebut.

Dia merincikan, uang suap untuk penuntasan kasus pengelapan hak atas lahan di Larat Kabuptaen MTB diterima Johanis Laykear. Kemudian, Johanis memberikan Rp 15 juta kepada Kanit II, Raja Syaputro, dan Rp 20 juta diberikan langsung kepada terdakwa.
Menurut terdakwa dalam pembelaanya, Rp 20 juta yang diberikan Johanis adalah sebagai bentuk tanda terimakasih Jefri. Sedangkan sisa Rp 65 juta justru dinikmati Johanis sendiri. “Hal ini sebagaimana terungkap dalam fakta persidangan, Johanis Laykear dan Raja Syaputro juga mengakui menerima uang pemberi suap tersebut,” lanjut Hendrik saat membacakan pembelaan.

Ditegaskan, dalam undang-undang gratifikasi sebagaimana didakwakan JPU kepada terdakwa, dalam kedudukan hukum untuk dimintai pertanggungjawaban hukum bukan hanya penerima suap saja yang jadi tersangka, melainkan pemberi suap juga harus dijadikan sebagai tersangka. Apalagi, dalam suap tersebut, inisiatif permintaan Rp 100 juta bukan dari terdakwa melainkan Johanis Laykear selaku otak intelektual dalam kasus tersebut.

Terdakwa juga memohon keringanan hukuman karena total uang Rp 32 juta yang diterima juga sudah dikembalikan ke jaksa di depan majelis hakim. Dia berharap ada keadilan dari majelis hakim dengan kewenanganya memerintahkan JPU untuk menetapkan ketiga orang tersebut sebagai tersangka. Usai pembacaan pembelaan, majelis hakim menutup sidang hingga pekan depan dengan agenda pembaan putusan.

Diluar persidangan, penasehat hukum terdakwa, Hendrik Lusikooy kepada koran ini mengaku kliennya bersalah dan siap dihukum. Namun, dia juga berharap agar majelis hakim dapat mempertimbangkan fakta hukum yang ada, karena suap Rp 100 juta tersebut bukan dari terdakwa melainkan Johanis Laykear selaku KBO Satreskrim Polres MTB saat itu. “Kami yakin dia (terdakwa) dihukum, dan kami hanya minta keringanan saja karena pemberi uang diatas Rp 500 ribu adalah gratifikasi karena jabatan. Kami juga menyesali itu. Namun, yang ditegaskan adalah, kami sangat harapkan agar majelis hakim dalam putusanya dapat memerintahkan jaksa untuk menetapkan tiga orang ini sebagai tersangka karena ini gratifikasi. Selain pemberi suap, ada dua orang lain lagi yang menimati uang tersebut. Ini fakta sidang. Ini yang kami tuangkan dalam pembelaan,” tandas Hendrik.

Terpisah, Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette kepada koran ini, enggan berkomentar, dengan alasan perkaranya sementara masih dalam proses persidangan. “Perkaranya masih dalam proses persidangan jadi, kita tunggu saja,” kata Samy tadi malam.
Terdakwa sebelumnya dituntut 2 tahun penjara oleh JPU Kejati Maluku, Rolly Manampiring dan I Gede Whidiartama. Jefri Candra dalam persidangan mengaku memberikan uang senilai Rp 100 juta dan HP Iphone seri 6 kepada terdakwa, Johanis Titus.

Dia mengaku, dirinya memberikan uang kepada tiga personil Polres MTB itu agar dua kasus yang dilaporkannya di Polres MTB yakni pemberian keterangan palsu di PN Saumlaki dan penyerobotan lahan miliknya bisa diusut tuntas dan cepat.
Pasalnya, sejak jabatan Kasat Reskrim Polres MTB dijabat Johanes Titus Levtumun, dua kasus yang dilaporkannya tidak diusut lagi. Padahal saat Kasat Reskrim Polres setempat yang lama yakni, Jamaludin diakui Candra kasus yang dilaporkannya diusut.

Kata Candra, dari total uang Rp 100 juta itu KBO Johanes Lakear memberika uang senilai Rp. 20 juta yang dimasukan dalam amplpo coklat dan diberikan kepada terdakwa. Sementara Rp 15 juta diberikan kepada Kanit II Satreskrim Polres MTB, Rajab Saputro selaku penyidik dua kasus yang dilaporkannya itu. Sementara sisanya Rp 65 juta diakui saksi ada dilaci meja sang KBO. “Total yang berikan kepada Titus itu adalah Rp 32 juta. Rp 20 juta dikasi lebih dulu melalui perantara Ais. Selanjuntya ada juga pemberian Rp 5 juta, Rp 2 juta dan Rp 3 tiga juta transfer sedangkan Rp 2 juta awal diserahkan langsung ke terdakwa,” beber Jefri.

Selain uang, Candra juga mengatakan memberikan satu buah HP Iphone seri 6,16 GB seharga Rp 11 juta kepada terdakwa yang diserahkan kepada istri terdakwa di Mall Galaxy Subaya. “Terdakwa minta yang 64 GB, tapi saya tidak punya uang jadi saya belikan yang 16 GB. Itu pun saya cicill,” jelasnya.(NEL)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!