Hobi Mengutak-atik Barang Bekas – Ambon Ekspres
Features

Hobi Mengutak-atik Barang Bekas

KREATIF : Welli Marizka Sandy menunjukkan hasil tangan kreatifnya.

Sulap Kain Perca dan Tutup Galon Jadi Aksesori Cantik

Tidak hanya sebagai pengisi waktu luang, hobi bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan keluarga. Namun tidak jarang, juga menjadi pijakan awal dalam memulai usaha. Seperti yang dilakukan oleh Welli Marizka Sandy. Berawal dari mengutak-atik barang bekas, dirinya berhasil meraup rupiah.

OLEH: HENGKY RISTANTO, Kebonagung

BERBAGAI macam aksesori seperti kalung dan gelang ditata rapi oleh Welli di atas meja ruang tamu di rumahnya di Dusun Jati, Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung. Deretan aksesori itu hasil kreativitas tangannya sendiri.

Sudah setahun belakangan ini Welli memang getol mengembangkan keterampilan disela  waktu luang sebagai ibu rumah tangga. Dirinya memanfaatkan limbah dan sampah menjadi berbagai aksesori menarik yang laku dijual.

Jenis limbah yang digunakan, berupa kain batik perca, kerang, dan tutup galon air yang selama ini kerap mengganggu pemandangan di rumah. Oleh Welli, limbah tersebut disulap menjadi aksesori cantik.

Modal tambahannya sederhana, hanya lem dan benang jahit. Hasilnya, aksesori menarik yang layak untuk kondangan. ‘’Semua ini saya kerjakan sendiri,’’ kata perempuan 32 tahun itu.

Dari hasil keterampilannya itu kemudian dilepas ke pasar luas dengan nama Madoli (layak jual). Rupiah pun mengalir deras ke dompet Welli.

Pesanan dari luar daerah juga mengalir. Dia mengaku sudah pernah mengirim ke Batam dan Papua. Pemesanannya melalui online. Untuk harga bervariasi. Antara Rp 6.000 hingga Rp 170 ribu. ‘’Untuk kain perca itu, saya menggunakan batik tulis asli Pace dari Pacitan,’’ ungkapnya.

Dia mengaku dalam sehari bisa membuat dua macam aksesori dari kain batik perca dan tutup galon air. Selain itu diperlukan ketelitian dalam membuat aksesori itu. Tidak bisa sembarangan. Supaya bentuk dan modelnya menarik. ‘’Untuk ornamen yang dipakai sebagai kalung, biasanya saya pesan,’’ tuturnya.

Yang pasti, Welli mengungkapkan bahwa usahanya ini merupakan bagian dari salah satu strategi pengelolaan sampah padat. Karena prosesnya dimulai dari kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk material bekas pakai. ‘’Aksesori ini bisa dipakai untuk acara kondangan atau sekadar harian. Bahkan bisa dijadikan sebagai suvenir,’’ jelasnya.

Meski belum lama memulai merintis usaha tersebut, namun Welli tidak pelit membagikan ilmu kreatifnya itu kepada perempuan lain. Di sela waktu luannya dia juga diundang untuk memberikan pembinaan kepada komunitas dan PKK di Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku. ‘’Ini sebagai bentuk upaya mendorong ekonomi kreatif,’’ terang istri dari Julian Tondo itu. (***)

Click to comment

Most Popular

To Top