Bai Ai Lian Ingin Jadi Dokter, Wang Xiao Hu Siap Bangun Papua – Ambon Ekspres
Features

Bai Ai Lian Ingin Jadi Dokter, Wang Xiao Hu Siap Bangun Papua

Dari kiri, Christ Alexander Sokoy (Wang Xiao Hu), Gabriella Chastalina Puhili (Bai Ai Lian), dan Anggi Yusuf Devidson (Yusufu) di Graha Pena Surabaya.
Sudah 7 tahun Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Center (ITCC)-Jawa Pos mengirimkan mahasiswa untuk belajar ke Tiongkok. Tahun ini mereka memberangkatkan 360 mahasiswa. Terselip kisah dan semangat luar biasa dari para calon mahasiswa penerima beasiswa.

OLEH: GUNAWAN SUTANTO, Surabaya

GABRIELLA Chastalina Puhili tampil anggun dengan batik ungu bercorak burung cenderawasih. ABG kelahiran 1 Agustus 1998 itu seolah tak ingin menanggalkan kekhasan daerahnya. Tas noken pun diselempangkan di tubuhnya ketika dia mengunjungi redaksi Jawa Pos Sabtu (9/9).

Gabriel memang tengah berada di Surabaya. Dia sedang memperdalam kemampuan bahasa Mandarin-nya untuk persiapan berangkat ke Tiongkok. Gabriel adalah satu di antara ratusan anak Indonesia yang berhasil merajut mimpi ke luar negeri lewat beasiswa ITCC. Sebuah yayasan yang digagas Dahlan Iskan.

Gadis kelahiran Kabupaten Jayapura itu sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Namun, begitu dewasa, Gabriel mulai berpikir realistis. Mimpinya makin pudar ketika mendengar dari banyak orang bahwa biaya kuliah kedokteran di Indonesia begitu mahal. ”Sempat grogi dan mikir, bisa tidak ya sekolah kedokteran. Akhirnya, puji Tuhan, bisa lolos beasiswa ini,” kata anak keempat di antara lima bersaudara itu.

Jalan mendapatkan beasiswa tersebut tidaklah mudah. Lulusan SMA YPPK Teruna Bakti Jayapura itu bersaing dengan 300 anak Papua lain. Jumlah itu disaring menjadi 20 anak. Lima terbaik berhak mendapatkan beasiswa ke Tiongkok. Sedangkan sisanya memperoleh beasiswa pendidikan di dalam negeri. Beasiswa ke Tiongkok yang didapat Gabriel itu merupakan kerja sama antara Pemkab Jayapura dan ITCC.

Di Negeri Panda, Gabriel akan masuk ke Shanxi Medical University. Semangatnya menggebu. Dia bertekad untuk bersungguh-sungguh menjalani kuliah. Ingin benar-benar lulus sebagai dokter. Lalu pulang dan mengabdi untuk Bumi Cenderawasih. ”Papua itu kurang dokter. Saya ingin mengabdi,” ungkapnya. Gabriel selama ini hanya bisa miris ketika mendengar persoalan minimnya tenaga medis di daerahnya.

Kemirisan itu juga pernah diungkapkan komunitas Book for Papua kepada Jawa Pos. Komunitas yang beranggota beberapa perawat tersebut pernah menceritakan, di daerah itu anak dengan luka robek sedikit saja bisa mendadak meninggal. Itu terjadi karena infeksi yang tidak tertangani karena minimnya jangkauan akses kesehatan.

Tekad bulat Gabriel sendiri sudah ditunjukkan dengan keseriusannya menekuni bahasa Mandarin. Sudah delapan bulan dia mengikuti pendidikan bahasa Mandarin. Padahal, sebenarnya beberapa kampus kedokteran di Tiongkok menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. ”Saya ingin serius. Sebab, ketika di luar kampus, kan tetap yang harus saya gunakan bahasa Mandarin,” ujarnya.

Seperti kebanyakan orang yang belajar bahasa Mandarin, pelafalan menjadi salah satu kendala. ”Susah. Salah sedikit saja berubah arti,” imbuhnya. Namun, itu tak menyurutkan niat Gabriel. Bahkan, dia telah menyiapkan nama Mandarin agar lawan bicaranya di Tiongkok lebih mudah untuk melafalkannya.
”Saya punya nama Mandarin Bai Ai Lian,” ucapnya dengan bangga. Para mahasiswa asal Indonesia yang akan belajar ke Tiongkok biasanya memang menyiapkan nama Mandarin. Terutama bagi mereka yang namanya susah untuk diucapkan dalam bahasa Mandarin.

Gabriel sendiri seorang yatim. Ayahnya yang seorang pegawai negeri sipil (PNS) sudah lama tiada. Ibunya yang seorang guru mengaku rela melepas Gabriel untuk merantau jauh ke luar negeri. ”Dua kakak saya juga sedang kuliah di Solo,” ujarnya.

Gabriel kemarin datang bersama temannya yang juga berasal dari Papua. Dia bernama Christ Alexander Sokoy. Di Tiongkok, Christ akan menempuh studi di Zhejiang University of Technology. ”Saya ambil teknik sipil,” kata pemuda yang punya nama Mandarin Wang Xiao Hu itu. Christ termasuk anak Papua yang cerdas. Sebab, dia sebenarnya lulus beberapa beasiswa dari perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, alumnus SMA Negeri 3 Jayapura tersebut memutuskan untuk mengambil beasiswa ke Tiongkok.
”Saya ingin membangun jaringan di sana. Bagaimanapun, Tiongkok negara yang kini sangat maju,” ujarnya. Karena itu, meskipun sulit, kini dia terus mengasah kemampuan bahasa Mandarin. Seperti Gabriel, Christ juga bercita-cita bisa membangun daerahnya sepulang dari Tiongkok.

Program beasiswa ITCC memang membuat banyak anak Indonesia mampu merajut lagi mimpinya. Terutama mereka yang ingin sekali menjadi dokter tapi terkendala mahalnya biaya pendidikan kedokteran atau regulasi di Indonesia. Tak ayal, jumlah peminat beasiswa kedokteran pun tiap tahun meningkat. Tahun ini saja ITCC memberangkatkan 360 calon mahasiswa. Sebanyak 160 anak memilih jurusan kedokteran.

Koordinator ITCC Andre So mengatakan, ITCC memang mendapatkan fasilitas khusus dari sejumlah kampus di Tiongkok. Kampus-kampus di sana memberikan subsidi dengan menyetarakan biaya mahasiswa dari ITCC seperti mahasiswa lokal pada umumnya. Tidak dikenakan biaya pendidikan untuk warga asing. Dengan begitu, jika dihitung, biaya pendidikan kedokteran di Tiongkok jauh lebih murah daripada biaya pendidikan kedokteran di dalam negeri.

Tahun ini calon mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari ITCC datang dari berbagai penjuru daerah. Bahkan, tidak sedikit yang berasal dari pedalaman atau wilayah perbatasan. Dari Papua, ada 28 calon mahasiswa yang berkesempatan mendapatkan beasiswa.

Dari Kalimantan Utara (Kaltara), ada 65 calon mahasiswa. Salah satu calon mahasiswa asal Kaltara yang bernama Hani Puspitaningrum Nur Mamuri mengaku sangat terbantu oleh beasiswa ITCC. Jika tak ada beasiswa tersebut, mungkin mimpinya menjadi dokter harus dikubur. Sebab, dia berasal dari SMK. ”Kalau dari SMK, kan sulit masuk fakultas kedokteran di Indonesia,” ujarnya.

Gozali, seorang PNS asal Pemkab Nunukan, Kaltara, mengatakan, dari perbatasan Nunukan juga banyak anak yang terjaring beasiswa ITCC. Beasiswa itu, menurut dia, sangat membantu anak-anak di daerahnya. Mereka yang bisa meraih beasiswa tersebut datang dari berbagai latar belakang keluarga. ”Karena proses penyaringan beasiswa ini beda dengan beasiswa lainnya,” kata pria yang pernah menjadi camat di Kabupaten Nunukan tersebut.

Dia selama ini banyak membantu Andre So untuk blusukan menyosialisasikan beasiswa ITCC. Gozali melihat sendiri hasilnya. Banyak anak yang sebelumnya tak pernah punya mimpi bersekolah di luar negeri bisa mewujudkan cita-cita lewat beasiswa ITCC.

Salah satu program yang punya banyak peminat adalah kuliah magang. Banyak anak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mengikuti program itu. Nunukan memang terkenal dengan masyarakatnya yang berprofesi sebagai TKI di Malaysia. ”Program tersebut membuat anak-anak TKI menjadi TKI-I. Yakni tenaga kerja intelektual Indonesia.

Dengan bekal keilmuan, mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang intelek di luar negeri,” ujar Gozali. Bukan hanya anak TKI, Gozali juga mendapati anak tukang jamu hingga buruh sawit yang lolos seleksi beasiswa ITCC.

Andre So menjelaskan, selama ini ada tiga program beasiswa yang dibuka ITCC. Selain pendidikan kedokteran, ada program pendidikan umum. Program itu menyalurkan para anak bangsa untuk menempuh pendidikan di segala jurusan. Kebanyakan yang diminati adalah jurusan teknik. Satu lagi adalah program kuliah magang. Program yang terakhir itu menawari mahasiswa untuk kuliah sekaligus magang (digaji). ”Mereka bekerjanya di unit usaha yang memang dimiliki kampus tersebut. Meskipun unit usaha, skala produksinya besar, sekelas industri,” kata Andre. (*/c11/oki)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!