Fokus Transit, Repo Mengendap – Ambon Ekspres
Hukum

Fokus Transit, Repo Mengendap

AMEKS ONLINE, AMBON.—Penanganan kasus dugaan korupsi Repo PT Bank Maluku dan Maluku Utara (Malut) kembali terkesan mengendap di meja jaksa. Intensitas penyidikan dalam kasus ini semakin berkurang. Kejati Maluku sendiri beralasan keterbatasan penyidik. “Untuk perkara dugaan korupsi dalam penjualan dan pembelian surat-surat hutang atau obligasi tahun 2011 sampai dengan 2014 akan diagendakan pemeriksaan lagi setelah pemeriksaan terhadap perkara Terminal Transit Passo berkurang intensitas pemeriksaanya,” ungkap Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette kepada Ambon Ekspres di ruang kerjanya, Senin (11/9).

Menurutnya, saat ini tim penyidik masih fokus menangani dugaan perkara Terminal Transit Passo. Selain itu, tim penyidik juga melaksanakan tugas TP4D dan tugas inspeksi ke kejari-kejari dalam lingkup wilaya hukum Kejati Maluku. “Jadi, kasus Repo tetap dituntaskan hingga ada kepastian hukumnya. Ikuti saja,” kata Samy.

Perkara yang diduga telah merugikan keuangan daerah sebesar Rp 238,5 miliar ini merupakan kasus besar bila dibandingkan dengan kasus transit yang hanya nilai kerugian Rp 3 miliar lebih dari total Rp 55 miliar berdasarkan perhitungan ahli bidang teknis dari Poltek Negeri Ambon. “Bukan dibandingkan, akan tetapi haruslah lebih profesional. Kalau memang mau tuntaskan perkara harus cepat. Jangan perkara lama dibiarkan, lama ditangan mereka lalu perkara baru lebih cepat dituntaskan, ini apa harus profesional dalam penegakan hukum,” tandas praktisi hukum, Hendrik Lusikooy kepada koran ini.

Menurut dia, ada baiknya Kejakti Maluku dalam melaksanakan penegakan hukum tidak usah banyak beralibi atau beralasan. Karena tujuan dari penegakan hukum itu adalah untuk masyarakat. “Kalau hanya dengan alasan maka kerja juga lambat dan tidak kelar-kelar. Ingat bahwa namanya perkara korupsi itu merupakan penyakit masyarakat saat ini. Dimana hak-hak mereka diduga telah diselewenangkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian, peran kejaksaan sendiri untuk mendudukan supermasi hukum demi dan untuk masyarakat itu sendiri,” jelas Hendrik.

Dalam kasus ini, pasca ditingkatkan ke tahap penyidikan sejak 1 Juni 2017 lalu baru 5 orang saksi yang diperiksa. Mereka diantaranya mantan Direktur Utama PT Bank Maluku, Dirk Soplanit, mantan Direktur Pemasaran Bank Maluku, Willem Patty, mantan Direktur Kepatuhan, Izack Thenu, mntan Kadiv Treasury Bank Maluku, Edmon Cornelius Martinus dan Analis pada Divisi Treasury, Christian Tomasoa.

Untuk diketahui, berdasarkan hasil pemeriksaan rutin pada 2014, ditemukan transaksi reverse repo surat berharga sebesar Rp 238,5 miliar di Bank Maluku. Selain itu, OJK menemukan transaksi pembelian reverse repo surat berharga sebesar Rp 146 miliar dan USD 1.250 ribu di Bank Maluku dan Malut. Kedua transaksi itu dilakukan pihak bank dengan PT Andalan Artha Advisindo (AAA) Sekuritas yang dipimpin, Andre Rukminto.

Sementara itu, dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Terminal Transit Tipe B di Desa Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, jaksa telah menetapkan tiga tersangka. Mereka masing-masing mantan Kadis Perhubungan Kota Ambon Angganoto Ura, Direktur PT Reminal Utama Sakti Amir Gaus Latukonsina, dan Konsultan Pengawas dari CV Jasa Intan Mandiri, Jhon Lucky Mentubun.

“Setelah melalui serangkain penyidikan berupa pemeriksaan fisik, pemeriksaan ahli, dan dilakukan ekspose gelar perkara pada 28 Agustus 2017, maka penyidik telah resmi menemukan dua alat bukti yang cukup guna menentukan tersangka. Dan dalam perkara ini, resmi tim penyidik menetapkan tiga orang sebagai tersangka,” ungkap Samy Sapulette kepada wartawan di ruang press Kejati Maluku, Selasa (29/8).

Ketiganya ditetapkan tersangka untuk perkara dugaan korupsi dalam pekerjaan pembangunan terminal transit tahun anggaran 2008 dan tahun 2009. Total anggaran yang telah terkuras sebesar Rp 55 miliar. “Saudara AU saat itu bertindak sebagai PPTK pada Dishub Kota Ambon ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat penetapan tersangka Nomor : B-1235/S.1/Fd.1/08/2017 tertanggal 28 Agustus 2017. Saudara AGL berdasarkan surat penetapan tersangka Nomor : B-1236/S.1/Fd.1/08/2017, tertanggal 28 Agustus 2018, dan saudara JLM selaku tenaga ahli ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat penetapan Nomor: B-1237/S.1/Fd.1/08/2017, tertanggal 28 Agustus 2017,” jelas Samy. (NEL)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!