Tangis Haru Sambut Kepulangan Jamaah Haji – Ambon Ekspres
Berita Utama

Tangis Haru Sambut Kepulangan Jamaah Haji

DISAMBUT : Jamaah haji asal Kota Ambon, disambut haru keluarga saat tiba di Masjid Raya Al-Fatah, Senin (18/9).

AMEKS ONLINE, AMBON.—Jamaah haji asal Maluku mulai tiba di Kota Ambon, Senin (18/9). Kedatangan para jamaah haji kloter 13 dari embarkasi Makassar ini disambut isak tangis dari keluarga. Anggota keluarga para jamaah terlihat berdatangan di Mesjid Raya Al-Fatah dan Asrama Haji Waiheru untuk menjemput kerabat mereka yang pulang usai menunaikan rukun Islam ke 5 itu.

Salah satu keluarga jamaah haji, Siti Hamsin mengaku terharu dan berterima kasih kepada Allah SWT, setelah bisa melihat orang tuanya kembali dari Mekkah dalam keadaan sehat walafiat. “Saya sangat terharu dan berterima kasih kepada Allah SWT, yang sudah melindungi bapak, selama melakukan ibadah haji. Selama kepergianya saya selalu berdoa agar dia bisa kembali dengan baik. Dan akhirnya doa saya dikabulkan,” ungkap Hamsin sambil terisak memeluk ayahnya dipelantaran, Mesjid Raya Al-Fatah.

Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Maluku, Fesal Musaad mengatakan, sebelumnya direncanakan kloter 13 diterbangkan pertama dengan dua kali penerbangan. Namun terjadi perubahan. Ada penambahan penerbangan sehingga totalnya ada tiga penerbangan.

Dengan tiga penerbangan ini, maka total jamaah haji yang sudah tiba di Ambon sebanyak 500 orang. “Untuk hari ini (kemarin) memang ada tiga kali penerbangan dari sebelumnya yang kita jadwalkan hanya dua,’’ ungkap Musaad kepada Ambon Ekspres, via seluler tadi malam.

Dia mengatakan, untuk penerbangan hari Selasa (19/9) akan dilakukan dalam dua kali penerbangan. Sedangkan untuk hari terakhir Rabu (20/9), hanya satu kali penerbangan. “Untuk besok (hari ini) jamaah kloter 14 sudah dipastikan kepulangannya hanya dilakukan dua kali penerbangan saja. Sedangkan untuk kloter 15 di hari Rabu, itu yang terahkir mereka dipulangkan dengan satu kali penerbangan saja,” katanya.

Fesal mengakui jika selama perjalanan pelaksanaan ibadah haji, ada hal-hal yang kurang sesuai dengan masalah pelayanan. Olehnya itu, sebagai dirinya meminta maaf, dan semua yang disampaikan akan dijadikan sebagai bahan masukan untuk di evaluasi kedepan. “Kalau ada hal-hal yang kurang berkenan dalam pelayanan, kami minta maaf. Dan apa saja yang kurang itu, akan dibicarakan dalam rapat evaluasi nanti untuk diperbaiki lagi kedepan,” paparnya.

Hj La Nurdin, salah satu jamaah haji kloter 13 asal Kota Ambon mengaku, pelayanan panitia selama proses ibadah haji cukup baik. Mulai dari tempat tinggal hingga pelayanan kesehatan oleh petugas pendamping.

Hanya saja, kata dia, hampir dua minggu setelah melaksanakan ibadah haji ada jamaah yang tidak diberi makan dan minum oleh panitia. Akhirnya, para jamaah terpaksa mengunakan uang saku sendiri untuk membeli makanan.
Para jamaah kata dia, sudah mendatanggi panitia untuk menanyakan masalah tersebut. Tapi, kata dia, panitia mengatakan, yang disiapkan pemerintah hanya selama 30 hari. Padahal keberadaan mereka sampai kembali ke tanah air terhitung 45 hari. “Untuk itu, kedepan bagi saya pemerintah rubah saja jadwal yang ada. Jamaah harus sampai 30 hari saja. Jangan sampai 45 hari lagi. Karena, masalah makan dan minum yang tidak diperhatikan, sehingga kami harus mengeluarkan uang sendiri,” pintanya.

Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umroh Kanwil Kemenag Maluku Yamin, membantah pernyataan itu. Menurut dia, kententuan makan dan minum dilakukan seperti biasa kepada jamaah selama di Mekkah. Bahkan, jamaah sendiri yang membeli makanan luar, bukan karena tidak diberi makanan oleh panitia.

Menurunya jika yang disampaikan, bahwa mereka belanja dengan mengunakan uang saku sendiri itu juga tidak benar. Karena para jamaah telah diberikan uang living cost dari Kementerian Agama RI sebesar Rp 1,5 juta. Uang itu dipergunakan juga untuk membantu jika ada kebutuhan makanan, untuk jamaah sebelum jam makan bisa beli diluar.

“Apa yang dikatakan itu tidak benar, makanya tetap seperti biasa. Kalau dikatakan pake uang saku sendiri juga tidak benar, karena mengunakan uang living cost yang diberikan pemerintah untuk biaya hidup atau juga bisa diartikan sebagai uang makan. Jadi, bukan uang saku pribadi. Kalau memang uang pribadi yang dipakai mungkin saja itu mereka belanja untuk kebutuhan pribadinya,” tegas Yamin yang saat ini masih berada di Mekkah. (WHB)

Most Popular

To Top