Perpusnas Megah, Jarak Tembak ke Arah Istana pun Diukur – Ambon Ekspres
Features

Perpusnas Megah, Jarak Tembak ke Arah Istana pun Diukur

Foto : Imam Husein/Jawapos Para pengunjung menikmati fasilitas Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (15/9)

Perpusnas dilengkapi fasilitas untuk mengakses buku-buku di ratusan perpustakaan se-Indonesia.
Berada di ring satu pemerintahan, pembangunan gedung perpustakaan yang punya jutaan koleksi buku itu melibatkan konsultasi dengan Sekretariat Militer dan Paspampres.

OLEH: JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Jakarta

PERJALANAN Noviyani Rahayu dan Madon Nasution menempuh kemacetan Jakarta itu berbuah kejutan menyenangkan. Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang mereka tuju ternyata sekarang berubah total : lebih menjulang, tambah luas, dan fasilitasnya kian lengkap. ”Sempat foto-foto tadi di depan tumpukan buku di lantai 1 hehehe,” kata Noviyanti, mahasiswi Universitas Trilogi, Jakarta, yang bermaksud mendaftar jadi anggota.

Dia dan Madon mengaku sempat datang ke Salemba, tempat lama gedung Perpusnas. ”Ternyata disuruh ke sini langsung. Bagus sekali, dulu hanya 3 lantai sekarang 24 lantai ya,” kata Madon yang sekampus dengan Noviyanti.
Gedung Perpusnas baru itu kini berlokasi di Jalan Medan Merdeka Selatan 11.

Persis di seberang pintu parkir kendaraan area Monumen Nasional (Monas). Dengan 24 lantai dan tinggi total 126 meter, Perpusnas diklaim sebagai perpustakaan tertinggi di dunia. Meski untuk ukuran luas, masih kalah oleh Library Congress di Amerika Serikat.

Diresmikan Presiden Joko Widodo pada Kamis lalu (14/9), tiap lantai di gedung tersebut punya fungsi berbeda. Di lantai 1, misalnya, ada lobi utama dengan rak buku setinggi 4 lantai atau 14 meter yang banyak mengundang ketertarikan siapa saja untuk berfoto di sana, seperti yang dilakukan Noviyani dan Madon tadi.

Di lantai itu pula diletakkan lukisan seluruh presiden Indonesia. Dipajang bersama dengan 5–9 buku yang berhubungan dengan tiap kepala negara. Mulai Soekarno hingga Jokowi. Di lantai 2 ada ruang layanan keanggotaaan perpustakaan dan ruang teater.

Zona promosi budaya baca berada di lantai 3. Sedangkan di lantai 4 ada ruang pameran koleksi perpustakaan. ”Lantai berikutnya ada ruang pustakawan, disusul ruang untuk pusat data. Layanan untuk buku dan tempat membaca dimulai dari lantai 7, yakni, untuk anak, lansia, dan disabilitas,” kata Kepala Perpustakaan Nasional Muh. Syarif Bando.

Lantai-lantai berikutnya secara berurutan ditujukan untuk audiovisual, layanan naskah Nusantara, layanan deposit, monogram tertutup, ruang baca pemustaka, repositori terbitan karya Indonesia, layanan koleksi buku langka, dan layanan referensi.

Sedangkan pengunjung yang ingin mencari koleksi foto, peta, dan lukisan bisa menemukan di lantai 16. Lantai 17 dan 18 dipergunakan untuk Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Lantai 19 untuk layanan multimedia. Adapun koleksi berkala mutakhir seperti surat kabar, majalah, tabloid, dan jurnal bisa didapati di lantai 20.

Selebihnya, lantai 21-22 dipakai untuk layanan monogram terbuka. Berikutnya untuk layanan koleksi bangsa-bangsa di dunia dan majalah terjilid. Sedangkan lantai teratas menyediakan koleksi budaya Nusantara, executive lounge, dan ruang penerimaan tamu mancanegara.

Menurut Syarif, gedung di lahan seluas 11.975 meter persegi itu sejatinya sudah dikonsep sejak zaman Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Persisnya pada 1952 atau 65 tahun lalu.

Terpilihlah karya arsitek lulusan Universitas Gadjah Mada R.B.B. Diwangkoro. Konsepnya, the window of the world alias jendela untuk menatap dunia. ”Kami ajukan ke Bappenas, Kemenkeu, dan DPR pada 2010, tapi gagal. Karena kondisi keuangan belum mendukung. Begitu pula pada 2011,” kata alumnus Jurusan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Makassar, itu.

Total dana yang dibutuhkan Rp 465 miliar. ”Terserah Perpusnas, kalau mau kencangkan ikat pinggang, kita bangun,” imbuhnya.
Jadilah, mereka harus mengencangkan ikat pinggang selama tiga tahun. Kontrak dimulai pada November 2014 dan selesai pada Desember 2016.

Lantaran berada di ring satu pusat pemerintahan, pembangunan gedung dengan luas bangunan 50.917 meter persegi itu pun harus mendapatkan persetujuan Sekretariat Militer dan Paspampres untuk faktor keamanan. Khususnya jarak tembak ke arah istana. ”Diukur pakai alat dulu. Tetap menghadap ke istana, tapi dipastikan tidak akan ada pendaratan-pendaratan di atas (gedung, Red),” kata Syarif yang juga dosen mata kuliah gedung dan tata ruang perpustakaan itu.

Jawa Pos (Gorup Ambon Ekspres) sempat mengunjungi ruang untuk layanan anak di lantai 7. Lantai gedung itu dilapisi karpet aneka warna. Dua tiang di dalam ruangan dihias dengan lukisan seorang seniman dari Jogjakarta Gus Nasrudin Anshoriy berupa cerita Timun Mas.

Menurut Kabid Layanan Koleksi Umum Perpusnas Agus Sutoyo, total ada 7.720 buku anak-anak koleksi perpustakaan. Di ruang khusus anak itu juga disediakan tempat bermain dan panggung untuk storytelling.
Di luar ruangan juga ada taman bermain anak yang aman. Disediakan pula tempat untuk anak-anak bisa mencorat-coret di sembarang tempat. ”Jadi, anak-anak bisa rekreasi di sini. Fungsi perpustakaan salah satunya kan itu, pusat pendidikan, penelitian, dan rekreasi,” kata Agus.

Syarif menuturkan, perpustakaan juga dikembangkan ke arah digital. Anggota Perpusnas bisa mengakses 123 ribu jurnal dan 32 ribu e-book. Melalui fasilitas iPusnas, tersedia 25 ribu buku yang bisa dibaca secara daring.

Selain kelengkapan fasilitas, kenyamanan juga sangat diperhatikan. Ruang baca di lantai 20 untuk koleksi surat kabar dan majalah, misalnya, setengahnya adalah tempat untuk membaca. Tempat duduk dari sofa yang empuk. Ada pula dua ruang tertutup yang bisa dipakai untuk tempat diskusi berkapasitas masing-masing 15 orang.

Di lantai 24, pengunjung bisa melihat Monas dari sudut yang masih jarang dilihat orang. Karena tinggi gedung 126 meter itu hanya sedikit terpaut 6 meter dari Monas dengan ketinggian 132 meter. Perpustakaan dengan koleksi 4 juta eksemplar buku yang akan tetap buka pada akhir pekan itu cocok untuk jadi tempat jujukan. ”Jadi, setelah lelah car free day (di Monas, Red) bisa mampir ke pepustakaan,” katanya. (*/c10/ttg)

Most Popular

To Top