Assagaff Tunggu Kepastian PDIP – Ambon Ekspres
Politik

Assagaff Tunggu Kepastian PDIP

AMEKS ONLINE, AMBON.—Petahana bakal calon Gubernur Maluku, Said Assagaff masih berharap rekomendasi PDI Perjuangan. Karena itu, dia masih menunggu keputusan partai pemenang pemilu itu untuk menentukan wakilnya.

Anderias Rentanubun dan Edwin Adrian Huwae merupakan dua figur yang berpeluang digandeng Assagaff menghadapi Pilgub Maluku 2018. “Tinggal menunggu PDIP. Mudah-mudahan akhir September ini PDIP sudah memutuskan dan menetapkan rekomendasi. Kalau Golkar sudah tidak ada masalah. Tinggal pak Assagaff menetapkan wakil, dan rekomendasi Golkar diberikan,” kata Wakil DPD Partai Golkar Maluku Bidang Pemenangan Pemilu Kabupaten Maluku Tengah, Hairudin Tuarita, Kamis (21/9).

Menunggu rekomendasi PDIP, menurut dia, merupakan strategi yang wajar. Ini karena hingga sekarang belum satupun partai politik menetapkan rekomendasi.

Meski begitu, Assagaff sudah menetapkan batas waktu untuk mengambil keputusan. Apabila PDIP belum juga menetapkan rekomendasi untuk pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku periode 2018 – 2023 pada akhir September atau awal Oktober, Assagaff dipastikan akan membuat keputusan. “Akhir September atau awal Oktober pak Bip (Said Assagaff) mengambil keputusan, setelah PDIP memastikan tidak memberikan rekomendasi kepada beliau atau kepada kandidat lain,” papar Hairudin.

ANTARA ANDRE ATAU EDWIN
Sementara itu, Assagaff sudah menutup peluang wakil untuk gubernur Maluku sekarang, Zeth Sahuburua. Assagaff cenderung memilih Anderias dan Edwin. Padahal, Zeth yang biasa dipanggil Etty itu mendapat dukungan terbanyak dalam Rapimda Golkar Maluku, yakni 17 rekomendasi dari 21 peserta pemilik suara dalam Rapimda Golkar Maluku. Sedangkan Anderias memperoleh hanya 13 rekomendasi, Rudi Timisela 12 rekoemdasi dan Edwin Huwae hanya 1 rekomendasi yakni dari DPD Golkar Buru.

Sedangkan dari indikator survei popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas, Anderias, Bupati Maluku Tenggara itu lebih tinggi dari Etty. Hasil survei tiga lembaga, yakni Sinergi Data Indonesia (SDI), Indo Barometer (IB) dan Media Survei dan Strategis (MSS) menunjukkan rata-rata selisih antara Anderias dan Etty berkisar 5 – 9 persen.

Selain hasil survei yang tinggi, peluang Andre juga disebabkan keberhasilan dia mempimpin Kabupaten Maluku Tenggara selama dua periode ini, serta figuritas yang dinilai cukup baik. Tetapi, Assagaff juga masih menginginkan Edwin dengan garansi rekomendasi PDIP. “Dalam berbagai kesempatan wawancara dengan wartawan, kan pak Bip bilang hanya dua, yaitu pak Andre dan Edwin. Kalau PDIP tidak merekomendasi pak Bip, maka Andre yang akan digandeng sebagai balon wagub,” jelasnya.

Menurut dia, dua skenario ini tidak bisa berubah lagi. Ini karena formatnya sudah disetting sedemikian. Soal elektabilitas, kata dia, juga tidak menjadi pertimbangan utama. “Jadi, tinggal ditetapkan saja. Format sudah ada,” tambah dia.

Sementara itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD PDIP Maluku, Tobhyhend Sahureka mengatakan, belum ada kepastian waktu penetapan rekomendasi. “Sampai saat ini belum ada perkembangan yang baik,” singkat Sahureka.

Pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti) Johan Tehuayo menilai, Etty punya beberapa keunggulan yang memungkin dirinya dipilih. Antara lain, sebut Tehuayo, kefiguran Etty. Selain itu, ia juga petahana wakil gubernur. Selain itu, hubungan Etty dengan Assagaff dalam penyelenggaraan pemerintahan sampai saat ini masih relatif baik. Mereka menjalankan tugas dan wewenang masing-masing, tanpa chaos.

Lebih lanjut, jelas Tehuayo, Etty juga masih berpengaruh karena memiliki basis yang kuat hingga saat ini. Selain posisinya sebagai wakil gubernur aktif, Etty juga telah memiliki modal politik di masyarakat.

Sedangkan dari aspek geo-politik atau kewilayahan, memang Assagaff dan Etty sama-sama dari Maluku Tengah. Tetapi, aspek ini tidak bisa dipakai sebagai indikator kemenangan pada pilgub.

Pilgub 2013, dua kader Golkar ini sudah mematahkan argumen itu. Empat pasangan lainnya, yakni Abdullah Tuasikal-Hendrik Lewerissa, Jacobus Puttileihallat-Arifin Tapi Opyihoe, Herman Koedoeboen-Daud Sangadji dan Abdulah Vanath-Marthin Jonas Maspaitella, berhasil mereka kalahkan.

Pengamat politik lainnya, Said Lestaluhu mengatakan, dari sisi pengalaman dan kinerja, Assagaff dan Etty sudah teruji. Begitu juga secara elektoral. Satu hal yang menjadi kekurangan atau kelemahan Etty, menurut Lestaluhu, adalah usianya yang sudah menua. Meski tidak ada korelasi positif antara kemampuan kinerja pemerintahan dengan produktifitas usia, namun kelemahan ini bisa dipakai oleh pasangan calon lain untuk menyerang.

Andre juga punya jejak elektoral yang terukur. Ia terpilih menjadi Bupati Malra dua periode (2008-2013 dan 2013-2018). Bahkan, Pilgub 2008, ia berhasil menumbang calon bupati petahana Herman Koedoeboen yang diusung PDI Perjuangan.

Keunggulan ini, kata Tehuayo, menjadi modal yang cukup kuat untuk dipilih oleh Assagaff sebagai balon wakil gubernur. Tak hanya itu, Andre bisa mengimbangi suara Herman Koedoeboen, bakal calon gubernur asal Kei, Maluku Tenggara yang berpasangan dengan Abdullah Vanath.

Meski begitu, menurut dia, suara pemilih Tenggara Raya yang meliputi Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, Maluku Barat Daya dan Aru, tetap pecah jika Herman lolos sebagai calon gubernur. Apalagi, bila ia diusung oleh PDIP.

Sementara itu, menurut Lestaluhu, Assagaff bisa mengambil Andre jika terjadi head to head dengan Herman-Vanath. Tetapi, tidak menjamin kemenangan. Sebab, politik primordialisme – etnis masih cukup kuat di Tenggara. Dan, Herman yang berasal dari suku Kei punya peluang besar keluar sebagai pemenang di Tenggara Raya lagi. (TAB)

Most Popular

To Top