Ambon Sasaran Penyebaran Pil PCC – Ambon Ekspres
Berita Utama

Ambon Sasaran Penyebaran Pil PCC

Polisi Akan Operasi Gabungan

AMEKS ONLINE, AMBON.—Kota Ambon menjadi sasaran penyebaran pil Paracetamol Cafein Carisoprodol (PCC). Polisi berencana akan melakukan operasi gabungan.

Terungkapnya Kota Ambon sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang menjadi sasaran peredaran pil PCC diungkapkan Direktur Tindak Pidana Narkoba Brigjen Eko Daniyanto kepada wartawan di Jakarta. Ini setelah polisi mengungkap pabrik pil PCC di Purwokerto, Jawa Tengah dan menetapkan empat tersangka pelaku peredaran obar terlarang itu.

Empat tersangka itu adalah Muhammad Aqil Syras alias M.SAS, Willi Yendera alias WY, Leni Kusniwati alias LKW dan Budi Purnomo alias BP. Terkait dengan upaya pengungkapan keberadaan pabrik obat PCC itu, Direktur Tindak Pidana Narkoba Brigjen Eko Daniyanto mengatakan, tanggal 12 September 2017, penyidik menangkap seorang pria berinisial SAS di Rawamangun, Jakarta Timur.

Dari penangkapan itu, penyidik menemukan sebanyak 19.000 butir pil PCC. “Dari sinilah kita langsung bergerak pada tanggal 16 September, kita kembangkan,” jelasnya, dalam konferensi pers, Jumat (22/9).

Berdasarkan keterangan sementara, produksi pil PCC sudah dilakukan sejak dua tahun terakhir. Kota-kota besar di Indonesia menjadi sasaran distribusi peredaran pil terlarang ini. “Terakhir, kami dapatkan informasi tadi pagi, Kota Ambon adalah salah satu kota yang menjadi sasaran distribusi pil ini,” papar Eko.

Keempat orang yang sudah ditahan ini, kata dia, disangka Pasal 197 subsider Pasal 1906 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Khusus untuk tersangka BP, sang pemilik pil, juga dijerat dengan Pasal 3 dan Pasal 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman hukuman penjara maksimal 20 tahun.

Pil PCC ternyata juga pernah diamankan di Kota Ambon. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 7.000 butir. Kasus ini terjadi tahun 2016 lalu.

Kasat Narkoba Polres Ambon, AKP Aleks Umar Kamali mengaku, pihaknya pernah melakukan penyitaan pil PCC tahun lalu. ‘’Kita pernah tangani itu. Ada 7000 butir di tahun 2016 yang kita sita,” kata Aleks kepada Ambon Ekspres, kemarin.

Namun demikian, kata dia, setelah ada kasus di Kendari yang menyita perhatian terkait obat ini, pihaknya masih belum mendapat informasi terkait peredarannya di Kota Ambon. ‘’Memang untuk saat ini belum terdeteksi peredarannya. Tetapi tetap akan kita antisipasi peredarannya,’’ tegas Aleks.

OPERASI BESAR-BESARAN
Untuk mengantisipasi peredaran pil PCC, tim gabungan dari kepolisian, BPOM dan BNN akan melakukan operasi besar-besaran. Demikian disampaikan juru bicara Polda Maluku AKBP Abner Ricard Tatuh kepada Ambon Ekspres, tadi malam. Menurut dia, operasi akan dilakukan karena diketahui Kota Ambon merupakan salah satu kota yang menjadi tujuan peredaran barang terlarang itu.

‘’Ada pengakuan tersangka yang diamankan, pil PCC siap disuplai ke beberapa daerah di Indonesia, termasuk Maluku. Kita akan lakukan operasi besar-besaran, gabungan dari BPOM dan BNN,” ungkap Tatuh.

Menyoal waktu operasi, dia mengatakan akan dilakukan setelah sosialisasi. “Rencana itu, setelah selesai sosialisasi hari Selasa (26/9). Setelah ini baru kita susul dengan operasi besar-besaran. Secepatnya kita lakukan itu sebagai antisipasi,” tandas Tatuh.

Menurut dia, sasaran operasi masih di wilayah Kota Ambon. ‘’Bisa jadi, operasi dilakukan di daerah lain, tergantung pimpinan. Tapi saat ini masih dipusatkan di Kota Ambon,” katanya.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan, konsumsi tablet Paracetamol Cafein Carisoprodol (PCC) membuat seseorang mengalami halusinasi dan teller. Bahkan terlihat seperti mengalami gangguan jiwa sehingga harus dirawat di rumah sakit. Obat ini mengandung obat keras Carisoprodol. “Temuan itu terbukti di tahun 2016 saat temuan dari pihak kepolisian di Kendari dan BPOM sudah mengujinya memang benar mengandung carisoprodol,” ungkap Kepala BPOM Ambon, Sandra Linthin saat dikonfirmasi Ambon Ekspres melalui pesan singkatnya, Senin (18/9).

Lithin menambahkan, terkait maraknya kasus penyebaran penggunaan obat tersebut di beberapa daerah, pihaknya secara intensif melakukan pengawasan berkoordinasi dengan pihak kepolisian serta BNN. “Sampai saat ini di Maluku belum ditemukan peredaran obat PCC. Kami lakukan pengawasan ini secara rutin di sarana-sarana pelayanan kesehatan dan sarana distribusi,” tuturnya.

Dia juga mengaku, pengawasan dilakukan bukan hanya terkait peredaran obat PCC, tetapi pengawasan itu telah dilakukan rutin oleh BPOM sejak lama sebelum kasus-kasus yang terjadi belakangan ini terkait penggunaan obat tersebut.

Alasan penarikan pil PCC itu, sambungnya, karena kerap disalahgunakan masyarakat karena efek sampingnya memberikan efek fly dan halusinasi. “Jadi sejauh ini belum kita temukan dan kita tetap rutin melakukan pengawasan terhadap peredarannya di Maluku,” tandasnya

Sesuai siaran pers dari BPOM, kata Sandra, hasil uji laboratorium menunjukkan tablet PCC positif mengandung Carisoprodol yang izin edarnya sudah dibatalkan. Seluruh obat yang mengandung Carisoprodol telah dibatalkan izin edarnya tahun 2013. Pembatalan izin edar Carisoprodol dilakukan merujuk pada tingginya dampak penyalahgunaannya daripada efek terapinya.

Obat yang mengandung zat aktif Carisoprodol memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot tapi hanya berlangsung singkat dan di dalam tubuh akan segera dimetabolisme menjadi metabolit berupa senyawa Meprobamat yang menimbulkan efek menenangkan (sedatif).

Penyalahgunaan Carisoprodol dalam banyak kasus digunakan untuk menambah rasa percaya diri, sebagai obat penambah stamina, bahkan juga digunakan oleh pekerja seks komersial sebagai obat kuat. (ERM/IWU)

Click to comment

Most Popular

To Top