Setelah Jadi Tersangka KPK, Bupati Cantik Bicara: Angin Politik Memang Kejam – Ambon Ekspres
Nasional

Setelah Jadi Tersangka KPK, Bupati Cantik Bicara: Angin Politik Memang Kejam

AMEKS ONLINE, SAMARINDA- Ditetapkannya Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi membuat konstelasi politik di Kaltim bisa saja berubah. Untuk diketahui, Rita adalah calon tunggal dari Partai Golkar Kaltim untuk maju dalam pemilihan gubernur (Pilgub) 2018 mendatang. Tak pelak, ada anggapan bahwa “tersandungnya” Rita dalam kasus ini, ada motif dari lawan politik.  Rita pun menyiratkan demikian. Saat dihubungi Kaltim Post, Rita mengatakan “Angin politik memang kejam. Dalam hidupku, selalu ingin perubahan yang lebih baik,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Benarkah ini motif lawan politik yang ingin menjatuhkan Golkar dan Rita? Lutfi Wahyudi, pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda berkomentar kasus yang menjerat Rita membuat publik bertanya-tanya. “Mau enggak mau publik ada yang mengaitkan itu (serangan lawan politik). Apalagi, momennya jelang pilgub (pemilihan gubernur). Sebelum ada penjelasan KPK, dugaan itu menjadi sesuatu yang lumrah, tidak bisa dihindarkan,” ucapnya kemarin (26/9).

Menurut Lutfi agar dugaan tak menjadi liar, KPK harus menjelaskan segera duduk persoalan. Terlebih, waktu penetapan status tersangka mendekati pilgub. “Dengan lekas ada kejelasan dari proses hukum, isu miring penetapan bahwa punya motivasi tertentu bisa dihilangkan,” katanya. Upaya dari lawan politik, terang Lutfi, juga tak bisa dinafikkan. Lawan politik tak mesti dari kontestasi pilgub. Bisa jadi, lawan politik yang dimaksud dari sebelum pilgub. Dalam persaingan berebut kursi ketua DPD Golkar Kaltim juga merupakan lawan politik Rita.

Atau kemungkinan lain, bisa pula salah seorang kandidat yang hendak bergandengan dengan Rita. Namun, ketika melakukan pendekatan, tak membuahkan sesuatu yang diharapkan atau tidak menemui kata sepakat. “Bisa jadi, orang tersebut adalah yang paham hukum. Sudah tahu kasus sejak lama, tapi dijadikan barang sanderaan supaya dimunculkan,” ujarnya. Baca selengkapnya di Kaltim Post, edisi 27 September 2017. (*/him/ril/rom/k8)

Click to comment

Most Popular

To Top