Dua Siswi SD Ini Ciptakan Detektor Maling,Terinspirasi Guru Kemalingan – Ambon Ekspres
Features

Dua Siswi SD Ini Ciptakan Detektor Maling,Terinspirasi Guru Kemalingan

(Adi Wijaya/Jawa Pos/JawaPos.com) INOVASI : Nasya Nadhira (kanan) dan Najmii Tsabitah mengutak-atik smart window di laboratorium sains SD Muhammadiyah Manyar, Gresik.

Usia tidak membatasi dua pelajar sekolah dasar ini berinovasi. Mereka adalah Najmii Tsabitah dan Nasya Nadhira. Siswi SD Muhammadiyah Manyar itu menciptakan alat untuk mendeteksi maling yang ingin masuk rumah.

OLEH: ARIF ADI WIJAYA, Gresik

RUANG laboratorium sains SD Muhammadiyah Manyar cukup senggang pada Rabu (20/9). Hanya ada dua anak, Nasya Nadhira dan Najmii Tsabitah. Mereka sibuk mengutak-atik sebuah kotak kubus. Di tangan mereka, ada kabel yang berserakan. Setelah melakukan percobaan, alat yang memiliki pengeras suara itu berbunyi.

Assalamualaikum…anyone can I help… Suara itu terdengar setelah tangan Nasya digerakkan di depan benda kecil berwarna putih tersebut. Alat pendeteksi keberadaan maling yang hendak masuk rumah itu dinamai smart window.

Pengalaman Fadholi Aziz, guru pembimbing sains SD Muhammadiyah Manyar, menginspirasi Nasya dan Bitah, panggilan akrab Najmii Tsabitah, untuk membuat alat tersebut. Rumah guru IPA tersebut kemalingan pada 2014. Malam itu keluarga Aziz sudah terlelap. Diduga, ada orang yang masuk ke rumahnya. Esoknya, beberapa barang berharga raib. Misalnya, uang dan perhiasan.

Dari pengalaman tersebut, Nasya dan Bitah tergerak untuk membuat alat pendeteksi maling. Dibutuhkan tiga bulan sampai alat tersebut bisa bekerja. Mulai perencanaan, pencarian bahan dasar, hingga pencarian referensi tambahan.

Nasya menjelaskan, cara kerja alat tersebut cukup sederhana. Berbekal ilmu elektro dasar, siswi kelas VI itu menggunakan pendeteksi gerak dan panas tubuh manusia. Alat kecil berwarna putih tersebut dihubungkan ke arduino (pengendali mikro single-board yang bersifat open-source).

Nah, semua program diatur di arduino tersebut. Misalnya, pengaturan jarak pendeteksi dengan objek sasaran. Arduino juga meneruskan perintah dari alat pendeteksi ke pengeras suara. ”Jadi, ketika ada orang yang melewati sensor, alatnya otomatis bunyi,” terangnya.

Uniknya, alat tersebut dihubungkan pada tongsis otomatis. Tongsis itu disambungkan pada gadget jenis tertentu. Jadi, selain alatnya berbunyi, kamera gadget otomatis menangkap gambar objek.

Sebelum menggunakan speaker, Nasya mengatakan pernah memakai alarm sebagai tanda ketika ada orang yang melewati sensor. Namun, suara alarm itu kurang keras. ”Jadi diganti speaker yang diprogram dengan rekaman suara tertentu,” jelasnya.

Suara bisa diganti sesuai dengan rekaman yang dimasukkan. Alat yang menjuarai Gresik Sains Festival (GSF) 2017 itu terus dikembangkan. Diharapkan, alat tersebut bisa diproduksi masal. Bitah menambahkan, meski dinamai smart window, alat itu tidak harus ditempatkan di jendela. Bisa di pintu depan, belakang, atau garasi rumah. ”Yang penting di tempat-tempat yang biasanya maling masuk,” katanya.

Sementara itu, Aziz mengaku tidak menyangka dua anak tersebut berinisiatif membuat alat itu. Awalnya, dia hanya bercerita tentang pengalaman pahitnya di kelas. ”Hampir setiap tahun ceritakan pengalaman itu di kelas. Baru kali ini ada yang berinisiatif membuat alat,” ungkapnya. (*/c16/dio)

Click to comment

Most Popular

To Top