Murad Ingin Head to Head – Ambon Ekspres
Politik

Murad Ingin Head to Head

AMEKS ONLINE, AMBON.—Peluang head to head atau satu lawan satu, terbuka lebar di Pilgub Maluku 2018. Ternyata, ini merupakan strategi politik bakal calon Gubernur Maluku, Murad Ismail untuk memenangkan pertarungan demokrasi lokal lima tahunan ini.

Untuk mendapatkan formasi dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, Murad Ismail dan timnya berusaha keras mendapatkan rekomendasi dari mayoritas partai politik pemilik kursi di DPRD Maluku. Saat ini, Murad telah mengantongi 4 kursi milik Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dari total 45 kursi DPRD Maluku.

Selain partai milik Surya Paloh itu, Murad juga menargetkan PDI Perjuangan (7 kursi), Gerindra (5 kursi), PKS (6 kursi), Hanura (4 kursi), PKPI (3 kursi), PKB (3 kursi), PAN (1 kursi), PPP (1 kursi) dan Demokrat (6 kursi). Murad dan tim optimis, hanya dua pasangan calon yang lolos dan bertarung. “Head to head sudah pasti, tapi siapa tahu bisa lawan kotak kosong. Namanya juga politik, semua hal bisa terjadi. Semua serba mungkin to, tergantung trust (kepercayaan) parpol kepada kandidat saja. Contoh Nasdem, kita bisa ambil dari petahana yang punya survei paling tinggi. Jadi, semua serba mungkin,” kata Tim Murad Ismail, Muhammad Armin Syarif Latuconsina atau dikenal dengan nama Sam, kepada Ambon Ekspres, Jumat (29/9).

Strategi merebut rekomendasi mayoritas parpol dan dua pasangan calon ini bukan hal baru bagi Sam. Dia pernah mencobanya pada pemilihan Walikota dan wakil Walikota Ambon yang berkahir pada Februari 2017.

Kala itu, Sam sebagai calon wakil walikota yang berpasangan dengan Paulus Kastanya, diusung oleh 9 partai politik yakni PDIP, Hanura, PKPI, PKB, PBB, PAN,PKS, Demokrat dan Gerindra. Akumulasi kursi dari parpol-parpol sebanyak 25 dari 35 kursi DPRD Ambon.

Namun, strategi ini gagal membawa kemenangan. Pasangan Richard Louhenapessy-Syarif Hadler yang diusung oleh hanya Golkar 4 kursi, PPP 3 kursi dan Nasdem 3 kursi justru menang. “Head to head itu strategi kita untuk memenangkan pertarungan. Kan kita daftar di semua partai tujuan mendapatkan rekomendasi partai. Saya pernah coba di pilkada kota, walaupun akhirnya dikalahin kolaborasi Richard dan Said Assagaff,” tutur mantan Wakil Walikota Ambon itu.

Sam yakin, hanya dua pasangan calon yang akan bertarung di Pilgub Maluku kali ini. Tapi, soal dukungan parpol, dia tidak mau mendului keputusan resmi parpol. “Saya tidak mau berandai-andai. Tapi, untuk kuota diatas 9 kursi sebagai persyaratan jadi calon, MI sudah lewati. Tinggal tunggu siapa lawan kita,” ujarnya.

Gagal di Pilwakot Ambon yang strategi itu, tidak memupuskan optimisme Murad dan tim untuk meraih kemenangan. Sam menegaskan, Murad bukan penggembira. “Semua calon yang maju pasti punya target menang ! Masa jenderal bintang dua yang saat ini punya jabatan besar, masa hanya jadi penggembira dalam Pilgub 2018 ? Yang benar aja bro,” pungkas dia.

YAKIN LOLOS
Berbeda dengan Murad, petahana Said Assagaff tidak memerlukan banyak partai politik. Dengan 6 kursi milik partai Golkar, dia hanya mencari 3 kursi lagi parpol lainnya untuk memenuhi persyaratan 9 kursi untuk mendaftarkan diri di KPU Maluku. “Nah, ke depan ini apakah Demokrasi mau kita tutup di Maluku ? Kan tidak. Harus kita buka. Jangan kita ambil semua partai,” kata Said kepada wartawan usai membuka acara deklarasi AT Community for Said Assagaff di Waiheru, Minggu (1/10).

Ketua DPD Partai Golkar Maluku itu kembali menegaskan, telah mengantongi rekomendasi partai tersebut. Ia juga yakin, bersama pasangan wakilnya akan lolos sebagai peserta Pilgub 2018.

Soal Nasdem yang telah merekomendasi Murad, Assagaff justru bersyukur. ”Alhamdulillah, supaya kita bisa berhadapan,” tegas dia.

PELUANG MENANG
Pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti), Said Lestaluhu menilai, dari sisi strategi perolehan rekomendasi, Pilgub mirip Pilwalkot. Artinya, ada kemungkinan dua pasangan calon dan partai besar, seperti Golkar dan PDIP sebagai penentu. Tetapi soal kemenangan, tidak bisa disamakan dengan Pilwakot. Meski aktornya sama, yakni Assagaff dan gerbong Golkar di satu sisi dan Murad Ismail bersama Sam Latuconsina di sisi lainnya, namun geo-politik dan atmosfernya berbeda. “Tapi, kalau soal kemenangan, semua calon berpeluang dan berhak mengklaim. Sebab, untuk Pilgub, ada pengaruh geografis dan birokrasi. Ini hal penting yang harus diperhatikan oleh kandidat,” kata Said.

Di Kota Ambon, publik opinion (opini publik) yang positif terhadap calon tertentu, bisa mempengaruhi preferensi pemilih. Namun, tidak untuk wilayah Maluku secara keseluruhan.

Sementara di pelosok Maluku yang belum teraliri lisrik, jaringan internet maupun distribusi koran, informasi positif mengenai kandidat tersebut sulit didapat. “Untuk meyakinkan pemilih, tidak cukup dengan jaringan komunikasi massa. Itu belum menjawab, karena jaringan sosial di Maluku menyebar hingga ke pelosok,” paparnya.
Olehnya itu, menurut dia, kemenangan Pilgub baik dengan dua maupun lebih pasangan calon sangat bergantung dari tim dan kandidat mengemas isu dan program kerja. Selain itu, menyeimbangkan jaringan partai politik dan jaringan sosial.

Jaringan sosial yang dimaksudkan, adalah opinion leader dari tingkatan kota hingga dusun. Orang-orang ini bisa bertugas membuat dan mengklarifikasi opini positif dan buruk yang menyerang kandidat mereka. “Setiap calon harus memiliki jaringan sosial yang dalam komunikasi politik disebut opinion leader,” urainya.

Dia menambahkan, bila Murad dan Said sama-sama lolos akan membuat pertarungan Pilgub menarik. Di lain sisi, masyarakat juga punya pilihan. “Dan mayarakat punya ukuran untuk memilih pemimpin yang disukai. Kalau hanya satu pasangan calon, tidak bagus dalam pengembangan demokrasi lokal di Maluku. Tapi, mereka lolos juga harus cerdas dalam menyampaikan ide dan program untuk entaskan kemiskinan dan penggangguran di Maluku,” kuncinya. (TAB)

Click to comment

Most Popular

To Top