Akhmad Reza Wardhana, Napi yang Jago Bikin Kerajinan dari Koran Bekas – Ambon Ekspres
Features

Akhmad Reza Wardhana, Napi yang Jago Bikin Kerajinan dari Koran Bekas

(M Busthomi/ Radar Bromo) KREATIF: Reza Wardhana menunjukkan aneka mainan buatannya yang dibuat dari limbah kertas koran.

AMEKS ONLINE, AMBON.–Menjadi warga binaan Lapas Klas IIB Pasuruan, tak menghalangi kreativitas Akhmad Reza Wardhana. Bahkan, kemampuannya berkembang dari sekedar membuat sketsa gambar, kini punya keahlian membuat kerajinan tangan.

SIANG itu (5/10), seluruh narapidana dan tahanan di Lapas IIB Pasuruan tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Beberapa di antaranya terlihat sedang menjemur pakaian. Ada pula beberapa warga binaan yang sudah berpakaian rapi dan bersiap ke masjid untuk menunaikan Salat Duhur.

Jika warga binaan lainnya beraktivitas di luar ruangan, tidak demikian dengan seorang warga binaan asal Surabaya. Namanya Akhmad Reza Wardhana.

Ia tampak sibuk selnya. Setumpuk koran bekas yang telah using, berjajar disampingnya. Reza –sapaan akrabnya – tampak fokus dengan sebuah benda yang ada di depannya.

Ya, Reza punya aktivitas yang belakangan rutin dilakukannya. Yakni membuat karakter tokoh animasi dari bahan bekas. Salah satunya, ialah koran-koran lawas. Satu per satu lembaran koran dipilahnya. Koran itu lantas dimasukkan ke sebuah ember kecil berisi air. Koran-koran itu kemudian diremas sampai hancur.

Dari koran-koran yang telah hancur itulah, berbagai macam karakter tokoh dibuat. “Sejak SMP saya suka mengoleksi Gundam. Sampai saat ini, di rumah mungkin ada sekitar 20 lebih. Itu pun kalau tak dibuang oleh istri saya,” selorohnya saat membuka obrolan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Kreativitasnya dalam menciptakan karya-karya dari bahan bekas itu, mulai diasahnya sejak menghuni Lapas IIB Pasuruan, April 2016. Awal mulanya, ia merasa risih dengan banyaknya barang bekas yang ada di lapas. Akhirnya, munculah ide untuk memanfaatkan barang-barang bekas itu.

Apalagi, semenjak di lapas, ia berusaha untuk tetap beraktivitas positif. Tanpa pikir panjang, ia memungut beberapa jenis sampah yang dinilainya dapat didaur ulang. Mulai koran bekas sampai dengan bungkus rokok. Reza yang juga jago menuangkan imajinasi dalam bentuk gambar itu, mulai berkreasi dengan pensil.

“Awalnya saya buat sketsa. Dulu banyak macamnya. Ada beberapa yang meniru pola-pola transformers sampai Nyi Roro Kidul. Karena disini (penjara, Red) kan tidak ada contoh, ya saya gambar saja sesuai imajinasi dengan sedikit ingatan saya di kepala. Entah mirip aslinya atau malah tidak, itu urusan belakang,” bebernya.

Saat masih menghirup udara bebas, pekerjaan menggambar itu dapat diselesaikan dalam tempo yang singkat. Namun, kini ia membutuhkan waktu paling cepat tiga hari. “Jelas lebih lama kalau di sini, karena suasananya kan berbeda dengan di luar,” tambah dia.

Tokoh anime pertama yang diciptakan Reza ialah Saint Seiya. Ia menyukai Saint Seiya lantaran karakter digambarkan sebagai tokoh superhero. Dari karya pertamanya itu pula, Reza kemudian dapat membuka menciptakan beberapa tokoh lainnya. Ternyata, karya-karya tersebut menarik perhatian teman-teman sesama warga binaan.

“Akhirnya, saya lebih serius menggarapnya. Karena ada beberapa teman yang ingin dibuatkan. Karena di sini bahannya terbatas, merekalah yang menyediakan bahan-bahan seperti cat, lem, dan sebagainya. Itu biasanya dibawakan oleh keluarga mereka saat membesuk,” tutur Reza.

Reza mengatakan, tak mungkin ia mengharapkan bahan-bahan yang dibutuhkan pada istrinya. Selain karena istrinya yang tinggal di Surabaya jarang membesuk, Reza mengaku tak ingin membebani sang istri.

Akhirnya, Reza menjalin kesepakatan dengan pemesan untuk menyediakan bahan-bahannya. Puluhan karya telah dibuatnya selama lebih dari setahun terakhir. Dari kreativitasnya itu, Reza bisa sedikit meringankan beban istrinya saat menjenguk.

“Dalam setiap karya, ada kesepakatan dengan teman yang minta dibuatkan. Terutama soal harga, biasanya dipatok Rp 80 ribu. Pembayarannya tak berupa uang tunai,” jelasnya. “Karya yang dipesan teman itu ditukar dengan kebutuhan saya. Seperti gula, teh, kopi, atau rokok,” imbuh mantan supervisor showroom mobil di Surabaya itu. (br/tom/mie/mie/JPR)

Click to comment

Most Popular

To Top