Usung Kader, PDIP Siap Bertarung – Ambon Ekspres
Politik

Usung Kader, PDIP Siap Bertarung

AMEKS ONLINE, AMBON.—PDI Perjuangan kembali menegaskan, akan mengusung kadernya sendiri sebagai calon Gubernur Maluku 2018. PDIP juga siap bertarung dan yakin merebut kursi gubernur dari petahana,
Said Assagaff.

Komitmen meng- usung kader, tetap menyala meski banyak kandidat. Alasannya, PDIP memiliki banyak kader potensial dan siap bertarung di pentas pemilihan gubernur dan wakil gubernur tahun depan. “Komitmen itu (mengusung kader) tetap ada. Sebab, partai ini memiliki kader yang banyak dan siap berkompetisi, termasuk dengan petahana,” tegas Ketua Bidang Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD PDIP Maluku, Tobhyhend Sahureka kepada Ambon Ekspres, Senin (9/10).

PDIP memiliki lima kader yang ikut mendaftar dan berproses untuk mendapatkan rekomendasi, dengan posisi calon gubernur yakni Komarudin Watubun, Herman Koedoeboen, Bitzael Temmar, Barnabas Orno dan Tagop Soulisa. Sedangkan Edwin Huwae dan Evert Kermite, maju sebagai balon wakil gubernur.

Mayoritas struktur PDIP dari level Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga Anak Ranting, menginginkan PDIP mengusung kader sendiri. Tetapi, hingga saat ini, partai berlambang kepala banteng moncong putih itu belum membuat keputusan.

Penentuan rekomendasi, merupakan kewenangan DPP dengan ragam pertimbangannya. Namun, Sahureka yakin, aspirasi pengurus dan kader PDIP di level bawah menjadi salah satu pertimbangan utama. “Itu urusan DPP. Saya kira, DPP akan mempertimbangkan hal itu (aspirasi pengurus dan kader),” ujarnya.

PDIP juga memiliki modal politik yang cukup untuk bertarung. Infrastruktur PDIP menyebar di seluruh Maluku, mulai dari kepengurusan DPD, DPC, PAC hingga ranting dan anak ranting dengan jumlah ribuan kader.
Basis rill PDIP hasil pemilu 2014 sebanyak 192,731 suara dan menghasilkan 1 kursi DPR RI, 7 kursi DPRD Provinsi dan 38 kursi DPRD kabupaten/kota di seluruh Maluku. Apabila PDIP mengusung kader yang potensial, menurut Sahureka, bisa mengalahkan sang petahana.

“Iya dong. Sangat yakin. Kita memiliki infrastruktur partai yang kuat sampai ke desa/kelurahan, bahkan dusun,” terang mantan anggota DPRD Maluku itu.
PERTARUHKAN HARGA DIRI

Secara nasional, PDIP mengalami kekalahan di Pilkada 2017. Pilkada yang digelar Februari 2017, itu menempatpan PDIP pada urutan empat dengan kemenangan di 45 daerah dari 109 Pilkada.

Di Maluku pun demikian. Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini hanya meraup kemenangan di Kabupaten Buru Selatan dan Maluku Barat Daya pada Pilkada 2015. Kalah di kabupaten Seram Bagian Timur dan Aru.
Pilkada 2017, hanya menang di Kabupaten Maluku Tengah dan Buru. Itu pun bukan kader sendiri. PDIP kalah di Kota Ambon, Seram Bagian Barat dan Maluku Tenggara Barat.

Menurut pengamat politik Universitas Pattimura, Paulus Koritelu, jika PDIP mengusung Assagaff yang sampai saat ini mengejar rekomendasi, maka PDIP menyerahkan hak kesulungannya kepada Partai Golkar. Dampaknya, akan terjadi konflik di internal PDIP.

“Karena sesuai dengan perkembangan intrernal PDIP, baik di Komdes, anak ranting dan cabang-cabang menghendaki kader PDIP maju. Kehendak ini, sesuatu yang wajar. Karena mereka sudah bekerja maksimal dan mereka capek secara politik dan finansial. Dan itu terbukti ketua DPRD itu orang PDIP,” kata Koritelu.

Resistensi internal ini tidak hanya berdampak pada ketidaksolidan dalam Pilgub, tetapi juga mengganggu konsolidasi PDIP pada pemilu legislatif 2019. Agar tidak terjadi hal demikian, PDIP harus berani mengusung calon sendiri, baik kader maupun non kader.

Apalagi aspirasi pengurus dan kader menghendaki kader yang diusung. Tetapi, figur yang diusung harus memiliki kapasitas dan peluang menang terukur lewat survei, sebab yang dilawan adalah petahana. “Kan even politik itu bukan hanya Pilgub. Nah, kalau PDIP berpikir pragmatis untuk sekadar mencari jalan aman dengan orangnya menjadi wakil dari Assagaff, itu juga bisa. Tetapi satu hal yang pasti, ini kan bukan soal gengsi-gengsian. Tetapi potret citra harga diri partai yang kemudian di dalamnya ikut serta mengusung peradaban politik,” paparnya.

Kekalahan pada Pilkada serentak 2015 dan 2017 di Maluku, kata dia, harus menjadi catatan kritis bagi PDIP untuk kepentingan politik jangka panjangnya. “Dan saya berani katakan, kalau kali ini mereka salah memilih, wajah politik Maluku tidak akan memihak kepada mereka. Karena orang Maluku sudah cerdas juga dalam melihat dan menentukan sikap politik,” Koritelu mengingatkan.

Disinggung soal figur yang layak diusung PDIP, menurut dia, hanya Herman Koedoeboen. Ia berkaca dari hasil perolehan suara Herman dalam Pilgub Maluku 2013. Herman yang kala itu berpasangan dengan Daud Sangadji menang di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya, Maluku Tenggara Barat, Kota Tual dan Kepulauan Aru dengan total suara 188.088 atau 24.35 persen.

Apalagi jika disandingkan dengan Abdullah Vanath, mantan bupati SBT dan calon Gubernur Maluku 2013, peluang menang PDIP cukup terbuka. Sebab, Vanath juga memiliki modal politik masih kuat.

Basis pendukung Vanath di wilayah Seram yang meliputi tiga kabupaten, yakni Seram Bagian Timur (SBT), Seram Bagian Barat (SBB) dan Maluku Tengah (Malteng) menurut dia, masih kuat. Meski kalah pada Pilgub 2013 dengan 383.705 suara, namun investasi politiknya masih ada.

Sebaliknya, peluang menang PDIP sempit jika mengusung dan menyandingkan Murad Ismail dengan kader PDIP, Mercy Barends atau kader lainnya. “Menurut saya, kalaupun PDIP mengambil posisi wakil di Murad, tetap saja tidak menguntungkan bagi PDIP. Herman dan Vanath itu pas, ketimbang Murad ambil Mercy Barends sebagai wakil, maka nilai jualnya kecil,” jelas lulusan sosiologi politik Universitas Indonesia (UI) itu.

Sebagian orang berpendapat, lanjut dia, pasangan Herman-Vanath akan kalah, karena suara Tenggara kemungkinan pecah jika Assagaff menggandeng Bupati Maluku, Anderias Rentanubun sebagai wakil. Tetapi menurutnya, itu belum pasti, karena masyarakat Tenggara akan cenderung memilih gubernur, daripada wakil gubernur yang kewenangannya terbatas untuk memperjuangkan aspirasi mereka. “Saya kira dalam kaca mata perpolitikan modern, orang sudah mengerti bahwa pemegang palu untuk memberi komando akan berbeda, dibandingkan dengan seorang pelangkap dan pembantu saja,” tukasnya.

Diberitakan Ambon Ekspres edisi kemarin, Assagaff mengaku tidak khawatir jika banyak maupun hanya dua pasangan calon. Dia yakin, akan menang lagi. “Mau siapapun dia kandidatnya, pasti saya akan menang,”kata Assagaff kepada wartawan, usai menghadiri HUT ke-38, majelis Ta’alim Al-Hidayah di gedung Islamic center, Minggu (8/10). (TAB)

Click to comment

Most Popular

To Top