Gasperz – Rante Belum Dieksekusi – Ambon Ekspres
Hukum

Gasperz – Rante Belum Dieksekusi

AMEKS ONLINE, AMBON.–Hingga Kamis (12/10) kemarin, mantan Kadis Perhubungan Maluku, Benny Gasperz dan mantan anak buahnya Jhon Rante belum juga dieksekusi jaksa. Padahal, tim Eksekutor dan Eksiminasi Kejaksaan Negeri (Kejari) Maluku Tengah Cabang Wahai telah mengantongi salinan putusan resmi dari Pengadilan Tipikor Ambon sejak September 2017 lalu.

Gaspersz divonis penjara selama 2 tahun dan denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan. Sementara Jhon Rante divonis 1 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan. Keduanya tidak mengajukan upaya hukum. Beda dengan dua terdakwa lainya, Endang Saptawati dan Widodo Budi Santoso alias Santo yang mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Ambon.

Kacabjari Wahai, Ajit Latuconsina yang dihubungi koran ini, Kamis (12/10) via selulernya, beberapa kali tidak mengangkat teleponnya.

Sementara, Hendrik Lusikooy selaku penasehat hukum dari terpidana Benjamin Gasperz kepada koran ini mengaku, klienya siap untuk dieksekusi, apabila uang bernilai Rp 540 juta itu dikembalikan JPU. “Hingga saat ini klien kami siap untuk dieksekusi. Namun, sebelum dieksekusi kami minta agar JPU segera mengembalikan uang klien kami baru dilakukan eksekusi,” kata Hendrik.

Hendrik menjelaskan, uang bernilai Rp 540 juta adalah sisa uang kelebihan penyetoran kerugian keuangan negara dalam perkara korupsi Studi Kelayakan Pembangunan Bandara Arara, Kabupaten Maluku Tengah yuang disetor oleh Gasperz sebesar Rp 670 juta. “Yang terbukti dalam perkara ini kerugianya sebesar Rp 130 juta. Nah sisa itu yang harus dikembalikan kepada klien kami. Dan hingga sekarang belum dikembalikan. Soal eksekusi klien kami tetap siap,” tandas Hendrik.

Dakwaan JPU sebelumnya, tahun anggaran 2015, Dishub Maluku mendapatkan dana Rp 810 juta yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) untuk belanja jasa konsultasi perencanaan untuk Studi Pembangunan Bandara Arara, Kabupaten Maluku Tengah. Terdakwa Gaspersz diangkat sebagai KPA sekaligus sebagai PPK. Kemudian Gaspersz mengangkat John Rante sebagai PPTK.

Selanjutnya pada 30 Juli 2015 dilakukan penandatanganan surat perjanjian kontrak dengan PT Bennatin Surya Cipta selaku penyedia jasa. Namun yang menandatangani kontrak bukanlah Pensong Benny selaku Direktur PT Bennatin Surya Cipta, melainkan terdakwa Widodo Budi Santoso selaku Direktur PT Seal Indonesia, dengan cara memalsukan tanda tangan Pensong Benny seolah-olah kontrak tersebut dibuat oleh Pensong Benny.

Akibat perbuatan keempat terdakwa menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 670.080.000 berdasarkan hasil audit BPKP Perwakilan Maluku. (NEL)

Click to comment

Most Popular

To Top