Bangga Mengajar Murid Sekolah Luar Biasa – Ambon Ekspres
Features

Bangga Mengajar Murid Sekolah Luar Biasa

JPNN PUNYA TALENTA : Fiki Andrian saat mengajar anak-anak difabel di SLB PGRI Sidomulyo, Desa Sidomulyo, Kecamatan Puncu, kemarin.

Mantan Anak Punk yang Jadi Guru Musik

Tak mengenyam pendidikan musik, Fiki Andrian ingin jadi guru musik. Kini cita-citanya itu akhirnya terwujud. Mantan anak punk ini menjadi tenaga pengajar lepas di SLB PGRI Sidomulyo, Puncu. Bagaiman kisahnya?

OLEH: RIZAL ARI ANDANI, Sidomulyo

Sabtu siang (14/10) sekitar pukul 10.00 Jawa Pos Radar Kediri bertandang ke Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Sidomulyo, Puncu. Sampai di sana, wartawan koran ini langsung disambut tawa ceria anak-anak penyandang disabilitas dan kelainan mental.

Dari kejauhan, terdengar suara ketukan alat musik jimbe. Setelah didekati, ternyata sejumlah anak sedang berkerumun dan berlatih bersama. Mereka melakukan persiapan pentas untuk acara peringatan Hari Santri ke-2 dan HUT TNI ke-72 di halaman Masjid An-Nur Pare.
“Benar kita sedang berlatih untuk persiapan acara itu,” ujar seorang pemuda yang berada di antara beberapa siswa SLB tersebut.

Jika diperhatikan sekilas, penampilan pemuda itu memang cukup nyeleneh. Rambutnya yang panjang dan diwarnai cokelat tidak lumarh bagi seorang pengajar. Namun tidak dipungkiri, memang dialah pelatih musik undangan di sekolah tersebut. “Seminggu sekali saya mengajar di sini,” kata pemuda yang mengenalkan diri bernama Fiki Andrian itu.

Berasal dari Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Fiki sudah beberapa kali mengajarkan musik jimbe kepada murid-murid SLB. Dan mereka sangat menikmati latihan musik tersebut.
Hal itu terlihat ketika wartawan koran ini mengamati proses belajar mereka. Saat itu, empat siswa SLB terlihat tidak berhenti tertawa sembari terus memukul alat musik jimbe secara teratur. Sesuai dengan arahan yang diberikan oleh pemuda yang akrab dipanggil Wawa tersebut.

Pemuda yang tidak tamat sekolah dasar (SD) ini memang kurang menguasai soal pelajaran akademik. Namun, soal pengalaman bermusik, dia tidak kalah dengan remaja-remaja seusianya.

Di usia 17 tahun, Wawa sudah pentas di sejumlah daerah di Indonesia. Pada 2014 lalu, ia pernah berkolaborasi dengan para pemusik Sanggar Anak Akar (Cipinang, Jakarta Timur) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Wawa juga pernah tampil bersama pemusik reggae kenamaan, Tony Q Rastafara di usia 14 tahun juga. Itu belum penampilannya di sejumlah lokasi lain. Karena itu, secara kemampuan bermusik, Wawa memang sudah layak untuk mengajar anak-anak.

Tidak hanya itu, Wawa sendiri memang sudah terbiasa berinteraksi dengan anak-anak. Pasalnya, selama Sang Bodol (sekarang Rumah Anak Semua Bangsa) hingga saat ini, Wawa memang tinggal di tengah anak-anak. “Saya tinggal di rumah sahabat. Dan sahabat saya punya tiga anak yang usianya masih sekolah dasar,” ungkapnya.

Wawa pun terbiasa berkegiatan sosial melakukan pendampingan anak bersama Sanggar Ranseba (Rumah Anak Semua Bangsa). “Hari anak kemarin (tanggal 29 Juli dirayakan pada 31 Juli) saya juga tampil bermusik kawan-kawan saya,” kata pemuda yang juga jago main gitar ini.

Meski sering berinteraksi dengan anak-anak, namun mengajari musik anak-anak SLB adalah pengalaman unik baginya. Pasalnya, Wawa terbiasa berinteraksi dengan anak yang tidak berkebutuhan khusus.

Meski begitu, dia sama sekali tidak mengeluhkan kesulitan. Yang jelas, tingkah anak-anak berkebutuhan khusus itu justru membuatnya terhibur. “Mereka lucu dan aktif, Mas. Tapi yang jelas, saya senang kalau anak-anak itu tertarik dan cepat mengerti dengan apa yang saya ajarkan,” tuturnya.

Bukan berstatus tenaga pengajar resmi juga tidak jadi persoalan bagi Wawa. Soal gaji, sudah ada yang mengurusi sendiri. Sekali mengajar, Wawa memang mendapat uang transpor sebesar Rp 30 ribu dari seorang donatur.
Meski jumlahnya sangat kecil, Wawa pun tidak mengeluh. Ia merasa jika mengajari anak-anak SLB bermusik adalah suatu aktivitas yang membanggakan. “Tidak pernah terlintas di benak saya bisa mengajari siswa-siswa di sekolah ini (SLB PGRI Sidomulyo, Puncu),” ujarnya.

Menjadi guru memang sudah lama ia cita-citakan. Karena itu, Wawa rela membawa alat musik milik sanggarnya. “Kami memakai lima alat musik jimbe dari sanggar untuk latihan,” paparnya. Beban alat musik jimbe itu pun tidak ringan. Satu alat musik pukul itu beratnya bisa mencapai 10 kilogram (kg).

Jimbe yang berat itu ia bawa dari sanggarnya yang berada di Kelurahan/Kecamatan Pare hingga ke Desa Sidomulyo, Puncu. “Jaraknya lumayan Mas, mungkin sekitar 5 kilometer,” ungkapnya.

Untuk tubuhnya yang kerempeng atau sekitar 35 kilogram, tentu membawa beban sebarat itu sangat menyulitkan. Karena itu, ia membutuhkan bantuan sahabatnya untuk mengangkut alat musik tersebut. Namun, agar tidak terlalu membebani, tidak semua jimbe ia bawa. Dua di antara lima alat musik pukul tersebut dia titipkan di SLB tersebut.

Tak hanya itu, agar bisa memberi contoh baik di depan anak-anak, Wawa pun rela mengubah kebiasaannya dalam berpenampilan. Dia berpakaian tertutup dan rapi. Menutupi banyaknya tato di tangan dan kakinya. “Ini masa lalu saya Mas. Saya ingin masa depan anak-anak ini lebih baik dari saya,” tuturnya.

Memang sebelumnya Wawa sempat berpetualang sebagai anak punk. Ia sering menjelajah dari kota ke kota dengan berjalan kaki dan menumpang kendaraan angkutan barang. Karena itu, dalam kesehariannya, ia pun terbiasa tampil apa adanya. “Sekarang saya hanya ikut acara musiknya saja. Kalau keluyuran sudah tidak pernah,” akunya.

Karena masa lalunya, orang tua (ortu) Wawa sempat tidak percaya anaknya punya aktivitas mengajar musik. “Sebelum berangkat tadi (kemarin), ibu saya sempat tanya saya mau ke mana. Dan saya jawab akan mengajar. Tapi mereka malah tidak percaya dan menganggap saya pergi main,” urainya.

Meski bisa mengajar dengan baik layaknya guru, Wawa tidak pernah mengenyam pendidikan musik secara formal. Pelajaran musik pertama ia dapatkan dari sanggar Sang Bodol. Sanggar itu sudah bubar dan kini berdiri kembali dengan nama Ranseba. “Sejak usia sembilan tahun saya ikut sanggar ini,” katanya.

Saat ini, Wawa hanya berharap, agar masyarakat bisa menerimanya. “Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menularkan ilmu tentang musik yang saya miliki kepada anak-anak ini,” pungkasnya.
(rk/rzl/die/JPR)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!