Pedagang Amplaz Kecewa Pemutusan Listrik – Ambon Ekspres
Berita Utama

Pedagang Amplaz Kecewa Pemutusan Listrik

SAHDAN FABANYO/AMEKS KECEWA : Puluhan pedagang Amplaz mendatangi Polsek Sirimau, mengadukan tindakan pengelola yang memutuskan aliran listrik di kios milik pedagang, Senin (16/10).

AMEKS ONLINE, AMBON.—Pedagang di pusat perbelanjaan Ambon Plaza (Amplaz) melakukan aksi demonstrasi, Senin (16/10). Ini setelah ada tindakan sepihak yang dilakukan PT Pengelola Amplaz dengan memutuskan aliran listrik beberapa kios milik pedagang.

Ketua Koperasi Himpunanan Pedagang Amplaz (Kohippa) Irfan Hamka membeberkan berbagai macam persoalan di Amplaz yang hingga saat ini tak dapat diselesaikan.

Menurut dia, masalah antara PT Pengelola Amplaz dengan pedagang sudah lama terjadi. Mulai dari kenaikan biaya pelayanan (service charge) hingga pemutusan aliran listrik. “Kita pedagang yang sekitar 50 orang ini mendatangi kantor Polsek Sirimau terkait tindakan sepihak yang dilakukan Pengelola Amplaz yaitu dengan pemutusan lampu di kios milik ketua dan sekretaris Kohippa dan Musalah,” tandas Irfan kepada wartawan di kantor Polsek Sirimau, kemarin.

Menurutnya, tindakan sepihak ini mengindikasikan ada niat untuk melemahkan pedagang. “Saya bersyukur Alhamdulillah mereka (pedagang) mendukung apa yang sekarang ini kita perjuangkan untuk kepentingan bersama. Tindakan sepihak ini untuk melemahkan apa yang menjadi tuntutan pedagang. Herannya lagi, alat negara, PLN dipakai untuk menekan pedagang membayar service charge. Ini kan aneh,” kesal Irfan.

Dia mengaku, pihaknya siap membayar listrik dibarengi dengan permintaan pembayaran service charge dari PT Pengelola Amplaz. Padahal pelayanan PT Pengelola Amplaz terhadap pedagang tidak maksimal. Banguan Amplaz terlihat amburadul. Termasuk eskalator di lantai empat tidak berfungsi. “Kita pedagang semua sepakat membayar lampu tapi kalau kita bayar, mereka selalu meminta kita bayar juga service charge. Service charge yang dikeluarkan pengelola itu sepihak nilainya. Dipertanyakan kenaikan 20 persen, pengelola tidak bisa menjelaskan kepada kita untak apa. Jangan kita ditaruh di kelas ekonomi lalu menyuruh kami bayar kelas VIP. Kalau kita keluar yakin dan percaya Amplaz tidak akan berjalan sampai 2024,” katanya.

Perjuagan yang dilakukan pedagang, kata dia, semata-mata untuk menjaga agar kondisi bangunan Amplaz dapat bertahan. Hak Guna Bangunan (HGB) itu hingga 2024. “Yang kita perjuangkan hari ini adalah menjaga bangunan Amplaz bisa berdiri dan berfungsi sampai tahun 2024 di mana HGB adalah kepemilikan kami sampai tahun 2024. Tugas dan tanggung jawab kami sebagai pengurus Kohippa adalah menjaga bangunan Amplaz tetap terjaga, terawat, tetap nyaman, tetap melakukan aktifitas sampai 2024,” imbuhnya.

Terpisah, manager PT Pengelola Amplaz, Yanes yang ditemui di ruang kerjanya di lantai IV Amplaz menandaskan, pemutusan aliran listrik ini sudah sesuai kesepakatan tertulis karena pemilik kios tidak membayar. ‘’Kan sudah jelas. Kita melakukan ini sudah sesuai kesepakatan. Kepada pedagang saat memiliki kios kan ada perjanjian kalau tidak membayar ya diputus. Begitu pula kenaikan service charge itu sesuai perjanjian dan setiap tahun ada kenaikan,” kata Yanes.

Menurutnya, kenaikan ini berdasarkan kebutuhan. Pengelola berjalan kalau pedagang membayar service charge. “Kalau tidak bayar, Lalu mau bayar keamanan, bayar listrik mau bayar izin-izin bagaimana ? Itu hanya pencitraan mereka saja untuk menghindari ini. Amplaz ini sudah 23 tahun tanpa pengelola. Hanya sekelompok orang saja yang tidak membayar. Ada kok sekitar 200 orang pedagang yang membayar,” tandasnya. (ERM)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!