Elektabilitas Murad Naik 9 Persen – Ambon Ekspres
Politik

Elektabilitas Murad Naik 9 Persen

AMEKS ONLINE, AMBON.—Elektabilitas atau tingkat keterpilihan bakal calon Gubernur Maluku, Murad Ismail (MI) mengalami progresifitas dalam enam bulan terakhir. Sejumlah faktor menjadi penyebabnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan elektabilitas petahana, Said Assagaff yang stagnan. Progresifitas elektabilitas Murad ini terangkum dari Mei-September 2017.

Pada Mei lalu, elektabilitasnya hanya 1,2 persen. Naik menjadi 10,9 persen atau 9,7 persen pada September.
Selain Murad, elektabilitas Barnabas Orno juga naik menjadi 4,5 persen dari 4,3 persen pada Mei, menjadi 8,8 persen di September. Sedangkan elektabiltas Assagaff hanya naik 1,2 persen, yakni 31,1 persen pada Mei, dan hingga September 32,3 persen.

Sementara elektabilitas tiga bakal calon lainnya, yakni Herman Koedoeboen, Abdullah Vanath dan Tagop Soulisa, justru menurun. Elektabitas Herman 7,3 persen, turun jadi 5,4 persen, Tagop 3,4 turun ke 1,9 persen, dan Vanath 10,7 jadi 8,4 persen.

Ini merupakan temuan survei Konsultan Citra Indonesia (KCI)-Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang rilis di The City Hotel, Rabu (17/10). Survei dilakukan pada 25 September – 5 Oktober 2017 terhadap 660 responden dari semua kabupaten/kota di Maluku, dengan metode multistage random sampling dan margin of error kurang lebih 3.9 persen.

Peneliti KCI-LSI Network, Ikram Masloman mengatakan, survei yang diliris ini merupakan data kuantitatif, sehingga tidak memotret dinamika elektabilitas bakal calon gubernur lebih jauh. Tetapi, menurut dia, progresifitas elektabilitas MI dan Orno disebabkan oleh konsolidasi masing-masing tim. “Cuman saya yakin dan percaya, tidak mungkin lonjakan elektabilitas itu tanpa penetrasi secara massif oleh tim di tingkat grassroot (akar rumput), terlepas dari adanya dukungan partai. Pasti ada penetrasi dari tim,” jelas Ikram kepada Ambon Ekspres via seluler.

Soal korelasi pemberian rekomendasi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Amanat Nasional (PAN) dan elektabilitas, Ikram menyatakan, tidak singifikan. Ini karena setelah penyerahan rekomendasi yang masih bersifat sementara itu, belum ada konsolidasi dari tiga parpol tersebut. “Karena dukungan partai seperti Nasdem dan Hanura, itu kan ketika rekomendasi keluar, tidak langsung terkonsolidasi. Jadi, ada efek partai, tapi belum terkonsolidasi. Ke depan nanti keterangan kualitatif disampaikan. Kalau kualitatif, kita bisa gali lebih dalam,” urainya.

Sedangkan stagnasi elektabilitas Assagaff, menurut dia, karena petahana itu lebih fokus pada perebutan rekomendasi. “Kalau menurut kami, itu karena dia lebih fokus gerilya ke partai. Ketimbamg turun ke grassroot (akar rumput),” katanya.
Diberitakan sebelumnya, tim Murad Ismail (MI), M Armyn Syarif Latuconsina mengatakan, salah satu faktor kenaikkan elektabilitas

Murad karena keseriusannya maju dan menjadi figur alternatif, merupakan faktor lainnya. “Saya kira itu (rekomendasi) salah satu faktor, dan tentu masyarakat Maluku mulai yakin bahwa MI benar-benar serius maju dan MI bisa menjadi salah satu alternatif, yang mulai diyakini bisa membuat perubahan signifikan dengan rekam jejak dan itegritas yang dimiliki,” jelas mantan Walikota Ambon itu.

PELUANG MENANG
Meski stagnan, elektabilitas petahana masih cukup tinggi, dibandingkan kandidat lainnya, yakni 32,3 persen. Jika ada 12 kandidat yang bertarung, selisih perolehan suara Assagaff dengan para panantangnya diprediksi sebesar 25 persen.

Sedangkan 11 kandidat lainnya memperoleh suara berkisar dari 0,2 persen (Michael Wattimena) terendah, hingga 10,9 persen (Murad Ismail) yang merupakan tertinggi. Namun, menurut Ikram, 32,3 persen bukan angka yang aman alias lemah buat petahana.

Hasil survei menyebutkan, ada resistensi terhadap petahana dan adanya keinginan gubernur baru cukup tinggi. Sebanyak 43,8 persen dari total respons menginginkan gubernur baru, 31,2 persen ingin petahana melanjutkan kepemimpinan, dan 25,0 persen tidak menjawab. “Sebagai petahana, tentu ini bukan elektabilitas yang memadai. Dengan elektabilitas hanya dibawah 40 persen, tentunya terbuka lebar bagi penantang untuk mewujudkan keinginan adanya gubernur baru di Maluku,” demikian kesimpulan survei lembaga ini.
Peluang para penantang ini, juga karena popularitas mereka yang rata-rata masih 45 persen, dan berpotensi naik. Kenaikan popularitas akan berkorelasi positif dengan kenaikan elektabitas, jika diikuti dengan adanya opini positif. (TAB)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!