PDIP Penentu, Belum Pasti Menang – Ambon Ekspres
Politik

PDIP Penentu, Belum Pasti Menang

AMEKS ONLINE, AMBON.—PDI Perjuangan menjadi penentu format pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku 2018. Hampir semua kandidat yang maju, belum berpasangan secara permanen sembari menunggu rekomendasi PDIP. Namun, rekomendasi PDIP bukan menjadi jaminan kemenangan.

Bakal calon gubernur yang mengaku masih menunggu keputusan resmi Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDIP adalah Said Assagaff. Petahana ini memang telah diputuskan oleh DPP Partai Golkar untuk berpasangan dengan Bupati Maluku Tenggara, Anderias Rentanubun.

Namun, hingga kini, fisik rekomendasi Golkar belum dikeluarkan. Assagaff sendiri juga belum mengumumkan bakal calon wakilnya ke publik secara resmi. Ia berharap rekomendasi PDIP, dengan kader PDIP Edwin Adrian Huwae sebagai balon wakil.

Murad Ismail (MI) juga demikian. Meski telah memperoleh rekomendasi (bukan Surat Keputusan) yang bersifat sementara dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Amanat Nasonal (PAN) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dengan total 11 kursi, bakal calon gubernur Maluku itu masih menunggu keputusan PDIP.

“Betul, MI masih menunggu keputusan rekomendasi PDIP. Daftar wakil MI masih disurvei,” kata Azis Tunny, Juru Bicara (Jubir) Murad Ismail, Selasa (24/10).

Begitu pula Barnabas Orno dan Habiba Pelu. Pasangan balon Gubernur-wakil Gubernur yang mendapat surat tugas Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), itu sangat berharap rekomendasi PDIP. Jika yang direkomendasi PDIP, mereka sulit lolos.

Menurut pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti), Paulus Koritelu, harapan para kandidat terhadap rekomendasi PDIP merupakan hal wajar. Ini didasarkan pada sejumlah alasan dan pertimbangan.
Antara lain, PDIP memiliki 7 kursi DPRD. Dengan demikian, kandidat yang diusung hanya butuh 2 kursi lagi dari parpol lainnya untuk bisa mengikuti kontestasi demokrasi lokal lima tahunan ini.

Selain itu, PDIP memiliki Party ID (identitas partai) yang masih cukup tinggi di Maluku. Berdasarkan hasil survei beberapa lembaga, party ID PDIP sekitar 20 – 30 persen.

Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu juga memiliki struktur yang lengkap dari tingkat provinsi hingga dusun. Kader-kadernya dikenal militan. “Sehingga saya lihat dari skenario politik ini, PDIP itu yang kemudian menentukan. Karena jumlah akumulasi kursinya cukup banyak. Tinggal kombinasi dengan satu atau dua partai kecil lagi, dan itu bisa langsung lolos,” papar Koritelu.

Skenario sebagai penentu dan pembuat keputusan diakhir perebutan rekomendasi, tak selalu membawa keberuntungan buat partai berlambang banteng kekar moncong putih itu. Catatan Ambon Ekspres, ada dua momentum politik penting yang menjadi kekalahan terasa bagi PDIP.

Pertama, Pilgub 2013, dimana PDIP menentukan Herman Adrian Koedoeboen sebagai cagub di injury time, dan PDIP kalah. Kedua, kekalahan pada pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ambon, Februari 2017. Tarik-menarik internal, membuat PDIP memutuskan rekomendasi diakhir.

Koritelu mengingatkan PDIP agar cermat dan tepat menentukan pasangan cagub dan cawagub Maluku. Jika tidak, PDIP hanya sebatas penentu koalisi dan pasangan calon, bukan pemenang. “PDIP memang selalu hadir sebagai penentu segala sesuatu (koalisi dan pasangan). Tapi sayang, sebagai kunci penentu tidak menjamin dia untuk selalu menang. Untuk itu, dia (PDIP) harus cermat,” pesannya.

Soal pasangan ideal, menurut dia, hanya Herman Adrian Koedoeboen-Abdullah Vanath. Namun, peluang itu kian menipis, seiring dengan keputusan dan langkah pasanan dengan akronim HEBAT itu menggalang dukungan dan mengumpulkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik.

“Kadang aspirasi masyarakat bawah, yang sebetulnya menghendaki sesuatu yang begitu baik sesuai kualitas pasangan maju, itu berbanding terbalik dengan kepentingan dan kebijakan para elit politik,” ujarnya.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD PDI Perjuangan Maluku, Tobhyhend Sahureka menjelaskan, keterlambatan penentuan rekomendasi menjadi faktor tunggal kekalahan pasangan calon yang disung PDIP. Juga bukan berarti tidak cermat.

“Tapi bukan berarti tidak cermat. Memberikan rekomendasi kan perlu kajian yang mendalam. Bahwa kalah karena keterlambatan keluarkan rekomendasi dan mengakibat proses konsolidasi juga terhambat, tidak selamanya benar,” sanggah Sahureka.

MOLOR
Diberitakan sebelumnya, rencana penetapan pasangan calon dan rekomendasi PDIP pada pertengahan September lalu. Kemudian, diawal Oktober secara beruntun dari daerah Jawa hingga Maluku dan Papua.

Namun, hingga akhir bulan ini, keputusan belum dibuat dan kembali drencanakan pada November. Hingga saat ini, DPP PDIP baru memutuskan rekomendasi untuk Pilgub Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Sahureka tidak bisa memastikan waktu penentuan rekomendasi. Sebab, itu kewenangan DPP. ”DPP kan yang membahas dan kemudian menetapkan rekomendasi. Jadi, sulit diprediksi (waktunya),” demikian Sahureka.

Rekomendasi jadi rebutan sejumlah bakal calon. Dari internal yakni Komarudin Watubun, Herman Koedoeboen, Bitzael Temmar, Barnabas Orno dan Tagop Soulisa. Sedangkan dari eksternal Said Assagaff dan Murad Ismail.
Balon wagub dari internal, Edwin Huwae dan Evert Kermite. Eksternal adalah Anderias Rentanubun dan Rudi Timisela. (TAB)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!