BMW : Rempah Maluku Jadi Kebanggaan – Ambon Ekspres
Berita Utama

BMW : Rempah Maluku Jadi Kebanggaan

AMEKS ONLINE, AMBON.—Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Michael Wattimena mengatakan, kejayaan rempah-rempah di Maluku harus dikembalikan. Olehnya itu, segala kebutuhan untuk mewujudkan itu dipersiapkan dari sekarang. “Saatnya kita mengembalikan kejayaan rempah di Maluku. Semuanya harus dipersiapkan dari sekarang,” kata Michael saat kegiatan bimbingan teknis pembenihan tanaman kedelai, pala, cengkeh untuk mendukung swasembada pangan dan mengembalikan kejayaan rempah Maluku di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPTP) Maluku, Kamis (26/10).

Dikatakan, kondisi rempah-rempah Maluku saat ini, tidak seperti 500 tahun lalu, yang menjadi rebutan Inggris, Portugis, Belanda, Spanyol, dan Tiongkok. Tetapi, kejayaan rempah itu menjadi kebangaan yang harus dikembalikan lagi oleh masyarakat Maluku. “Harum rempah-rempah bukan baru saat ini, bukan 10 atau 50 tahun lalu, tapi sudah ratusan tahun silam. Untuk itu, sebagai anak Maluku, kita patut berbangga,” papar politisi Demokrat dengan panggilan akrab, BMW (Bung Michael Wattimena) itu.

Perjuangan Pemprov Maluku untuk mendorong peningkatan dan kualitas rempah-rempah Maluku ke pemerintah pusat, khususnya pala dan cengkih sudah sejak lama. Terutama untuk mendapatkan afirmasi action dan payung hukum tersendiri.

Namun, menurut pemerintah pusat, usulan itu bukan prioritas secara nasional. “Perjuangan rempah untuk regulasi ditolak dari tahun 2008 sampai 2010, karena bukan prioritas,” ujar Kepala Ketahaha Pangan Provinsi Maluku, Zedek Sangadji saat memberikan tanggapan atas pertanyaan petani benih pala dan cengkeh di Desa Liliboy, Maluku Tengah, kemarin bersama stakeholder, yakni Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Kepala BPPTP Maluku Dr Yusuf dan perwakilan dari Dinas Pertanian Provinsi Maluku.

Barulah diera pemerintahan Presiden Joko Widodo, narasi besar masyarakat Maluku ini ditanggapi secara serius. Ini terungkap dalam rapat kerja (raker) tentang Kembalikan Kejayaan Rempah Indonesia di Kantor Gubernur Maluku di Ambon, 4 Oktober lalu.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam kesempatan itu mengatakan, Indonesia akan mengembalikan kejayaan rempah yang sempat mendunia. Hal itu diyakini tercapai dalam kurun waktu 10 tahun.

Salah satu upaya yang dilakukan pihaknya adalah dengan mengalokasikan anggaran besar untuk bibit sebesar Rp 5,5 triliun. Selain itu, ada juga bantuan bibit sebesar Rp 200 miliar yang bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBNP) 2017. “Tapi, syukur sekarang pak menteri sudah menyampaikan bahwa rempah-rempah akan dibangkitkan lagi,” tukas Sangadji.

PERMASALAHAN PETANI
Namun, obsesi besar ini tak sejurus dengan kondisi petani cengkeh dan pala. Sejumput permasalahan masih menjadi kendala dalam upaya mengangkat kembali pala dan cengkeh sebagai komoditas unggulan rempah-rempah.

Antara lain, harga pala yang tidak stabil. Di Desa Liliboy, misalnya, terjadi penurunan harga sekitar 50 persen dalam satu tahun terakhir. “Kalau kita lihat satu tahun belakangan ini, harga pala drop. Kalau di Liliboy sekarang ini Rp 40.000 per kg. Tahun kemarin Rp 50.000 – Rp100.00 per kg. Jadi harga pala menurun sekitar 50 persen,” akui Ketua Asosiasi Petani Pala kabupaten Maluku Tengah, Semuel Tetarion.

Hal ini, menurut dia, karena mata rantai pemasaran pala yang panjang. Rata-rata petani pala di Liliboy menjual pala kering, baik biji maupun fulli (bungan pala) ke pengumpul di Ambon.

Selanjutnya, diekspor ke Surabaya sebagai pasar utama. Sehingga pengeluaran biaya pemasaran inilah menjadi alasan pengumpul untuk memaikan harga, dan para petani mendapat dampak buruknya. “Kemudian biaya-biaya itu terpotong, sehingga kami petani yang kena getahnya, mendapatkan harga yang begitu rendah. Kami sudah berkoordinasi dan bertemu dengan pengambil kebijakan di provinsi, tapi belum ada kejelasan,” papar warga Liliboy tersebut.

Sementara itu, Eren Makatita mengatakan, harga bibit pala juga sangat rendah, yakni Rp 6.000 per bibit. Seyogianya, bibit dengan varietas unggulan seharga Rp 15.000 per bibit.

Ini tidak sebanding dengan proses pembibitan, mulai dari menyiapkan tanah berkualitas, membeli polyback, pembuatan rumah bibit hingga pemeliharaan selama enam bulan sebelum dijual. “Kami bawa tanah, kami ayak. Kami bikin rumahnya, pembibitan di polyback. Belum lagi perawatan. Sungguh luar biasa. Tapi, harganya terlalu rendah. Jadi, kami minta supaya bapak dorang pertimbangkan dulu,” pinta Makatita.

Staf ahli Komisi IV, Ayu mengungkapkan, UU RI Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, mewajibkan pemerintah dan pengusaha untuk menetapkan harga yang menguntungkan petani. Namun, belum direalisikan secara konsisten. “Salah satunya pemerintah berkewajiban membentuk suatu keadaan keberadaan harga yang menguntungkan buat petani. Tetapi, sepertinya belum diperhatikan,” ujarnya.

Dipastikan, semua aspirasi ini akan diverifikasi dan direkapitulasi untuk ditentukan skala priotas. Selanjutnya, akan diperjuangkan oleh BMW di Komisi IV yang membidangi pertanian, pangan, maritim, kelautan dan logistik. “Aspirasi bapak ibu, akan saya perjuangan sesuai tupoksi saya di komisi IV DPR RI,” tandas Michael.

Selain di Liliboy, Michael, kepala BPPT Maluku, perwakilan dinas pertanian, Kadis Ketahanan Pangan juga melakukan kunjungan bersama ke empat kelompok tani di Desa Telaga Kodok, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Michael menyerahkan bibit tanaman hiltikultura secara simbolis, dan menjanjikan 3 handtractor untuk petani.(TAB)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!