Di Balik Kisah Pernikahan Terlarang Sesama Lelaki di Jember – Ambon Ekspres
Features

Di Balik Kisah Pernikahan Terlarang Sesama Lelaki di Jember

JPNN BERUJUNG KASUS HUKUM: Ayu Puji Astutik alias Saiful Bahri saat dibawa Mapolsek Panti, Jember.

Karena sudah merasa nyaman, Muhammad Fadholi tetap menikahi Ayu Puji Astutik alias Saiful Bahri meski kekasihnya itu mengaku waria. Tetangga mengenal Saiful sebagai perempuan yang suka menolong, pintar memasak, dan tak lupa membeli pembalut tiap bulan.

OLEH: RULLY EFENDI, JEMBER

TIAP kali ada tetangga yang hajatan, Ayu Puji Astutik selalu jadi langganan untuk dimintai bantuan memasak. Sebab, racikan bumbunya terkenal enak.
”Semua kalah kalau soal masakan (dengan Ayu, Red),” kata Bu Er, salah seorang tetangga di Dusun Plalangan, Desa Glagahwero, Jember, Jawa Timur.

Sepekan sekali Ayu juga rajin ikut pengajian di kampung asal sang suami, Muhammad Fadholi, di Kecamatan Panti tersebut. Salat berjamaah di masjid juga sering. Tentu di bagian perempuan. ”Setiap tetangga ada kesusahan, dia juga menolong,” lanjut Bu Er kepada Jawa Pos Radar Jember.

Karena itu, para tetangga seolah tak percaya ketika pada Senin (23/10) dia diamankan petugas Polsek Panti bersama sang suami, Fadholi. Apalagi, yang jadi penyebab adalah sesuatu yang benar-benar di luar dugaan: ternyata Ayu Puji Astutik itu Saiful Bahri.
Ya, ”perempuan” yang dinikahi Fadholi pada 19 Juli 2017 di KUA (Kantor Urusan Agama) Ajung, Jember, itu sehari-hari berkerudung dan rutin membeli pembalut dengan alasan datang bulan, sejatinya ialah seorang laki-laki.

Di Ajung pula, persisnya di Dusun Krasak, RT 2, RW 1, Desa Pancakarya, Ayu, eh Saiful, berasal. Kepala KUA Ajung Muhammad Erfan masih mengingat betul, Ayu yang ternyata Saiful tersebut benar-benar cantik saat prosesi ijab kabul digelar di kantornya. Karena itu pula, dia sama sekali tidak curiga. ”Kalah (cantik) perempuan lain,” ucapnya.

KUA, orang tua, dan para tetangga boleh tak menyangka. Namun, bagaimana dengan Fadholi yang sudah tiga bulan menikahinya? ”Saat kami kian dekat, dia baru mengaku kalau waria. Karena merasa nyaman dengan dia, saya tidak keberatan,” kata Fadholi saat ditemui di Polsek Panti Rabu (25/10).

Kisah pernikahan terlarang itu bermula saat seorang teman memberi Fadholi nomor Ayu yang dikenal lewat Facebook. Selama ini, di kalangan rekan-rekannya, Fadholi dikenal agak culun dan belum pernah punya pacar.

Tapi, ternyata nomor yang diberikan teman itu dikontak pemuda yang tak punya pekerjaan tetap tersebut. Merasa ada kecocokan, mereka berdua pun memutuskan jumpa darat. Fadholi tentu tampil apa adanya. Saiful? Dia berkerudung, berdandan cantik, dan menjadi Ayu yang feminin. ”Pertama ketemuan di Mangli. Kampus IAIN Jember,” ujar Saiful.

Fadholi rupanya benar-benar kepincut dengan Ayu pada pertemuan pertama itu. Sudah cantik, berkerudung, suaranya feminin pula (meski kalau lepas kontrol suara aslinya muncul juga). Selama masa pacaran itu, Saiful tak pernah membawa Fadholi ke rumah orang tuanya di Pancakarya, Ajung. Setiap ketemuan, mereka memilih jumpa di Lapangan Mangli.

Sebaliknya, begitu merasa benar-benar cocok, bahkan setelah Ayu mengaku sebagai waria, Fadholi langsung membawa sang pacar ke rumah orang tuanya di Glagahwero. Dua orang tua Fadholi ternyata juga menyambut hangat Ayu. Sebab, selain Ayu sopan, mereka memang benar-benar tidak tahu bahwa dia itu Saiful.

Karena mengaku sudah menikah siri, keduanya pun diizinkan tinggal serumah. ”Kami merasa iba karena Ayu mengaku sudah tidak memiliki orang tua,” kata Supan, kakek Fadholi.

Padahal, keluarga besar Ayu alias Saiful masih ada di Pancakarya. Buama, sang ibu, mengaku, sejak 1,5 tahun lalu anaknya itu minggat dari rumah. Hanya sesekali berkomunikasi lewat telepon. ”Dia mengaku bekerja di toko boneka di Kecamatan Balung,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Memang sebelum minggat, dia sempat ditegur orang tua karena kepergok mesra-mesraan di telepon. ”Saat telepon-teleponan, dia bersuara seperti perempuan. Langsung dimarahi sama bapaknya,” ujar Buama.
Yang pasti, pernikahan tersebut kemudian dipestakan secara meriah di rumah keluarga Fadholi.

Bukan hanya itu. Tamunya pun ramai. Sebab, orang tua Fadholi menyebar undangan rokok yang disebutnya tonjokan. ”Itu sebuah tanda bahwa keluarga pengantin serius mengundang tamu supaya datang ke pesta pernikahan,” katanya.

Kini kisah cinta yang berawal bahagia itu harus berakhir pahit. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka kasus pemalsuan surat dokumen negara. Pelanggaran pasal 263 KUHP tersebut mengakibatkan Saiful dan Fadholi terancam hukuman maksimal enam tahun penjara.

Kendati kedoknya terbongkar, jejak kebaikan Saiful alias Ayu di Glagahwero tak akan terhapus. Di balik kerudungnya, rambutnya boleh sama cepak dengan ‘sang suami’. Tapi, para tetangga tetap mengenang dia sebagai sosok penolong dan pandai memasak.
(*/ras/hdi/c10/ttg/ce1)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!