Pemuda Harus Lawan Ketidakadilan Modern – Ambon Ekspres
Berita Utama

Pemuda Harus Lawan Ketidakadilan Modern

AMEKS ONLINE, AMBON.—Ketidakadilan modern dengan ragam bentuk, masih menjadi parasit bagi berkembangnya kehidupan politik dan ekonomi Indonesia ke depan. Olehnya itu, pemuda dituntut hadir dan memposisikan diri sebagai salah garda terdepan untuk memeranginya.

Mantan aktivis HMI dan Pemuda, Almudatsir Zain Sandadji, dalam orasi kebangsaannya yang berjuudl ‘Deklarasi Jong Ambon, Arus Balik Kebangsaan’ pada acara peringatan Sumpah Pemuda di Pattimura Park, Sabtu (28/10) mengatakan, Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan India, menghadapi tantangan tak ringan.

Dalam dua dasawarsa terakhir, Indonesia mengalami gelombang demokrasi politik kebangsaan yang dasyat dan maju. Seiring dengan itu, kran kebebasan politik terbuka lebar. Ini ditandai dengan perubahan konstitusi sebanyak empat kali, yang menjamin kebebasan politik tersebut.

Mulai dari pengaturan garansi konstitusional atas HAM, dekonstruksi tatanan ketatanegaraan yang hierarkis menjadi fungsional dan instalasi lembaga-lembaga baru. Tumbuhnya iklim politik multipartai, pers bebas, sampai pada pengisian jabatan-jabatan eksekutif pusat dan daerah yang dilakukan dengan mekanisme pemilihan umum secara langsung (direct democracy).

Menurut Almudatsir, Indonesia masih diselimuti kemiskinan, tata kelola pemerintahan yang koruptif, dan semakin mengerasanya politik identitas, serta menumpuknya residu digital dalam aneka bentuk, yakni hoax, pornografi dan cybercrime (kejahatan dunia maya).

PEMUDA MELAWAN
Almudatsir mengatakan, sumpah pemuda mengandung dua dimensi mendasar. Pertama, sebagai ingatan kolektif, yakni bentangan panjang dialektika sejarah ke-Indonesian yang berpuncak pada tiga dalil sintetik kebangsaan Indonesia ; satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. “Melalui sumpah pemuda, meminjam istilah Benedict Anderson, muncul imajinasi kebangsaan yang menembus tembok pembatas primordial-kedaerahan untuk merumuskan masa depan bersama sebagai bangsa. Hal ini sebagai gerakan protes atas ketidakadilan yang diproduksi oleh relasi sosial kolonialisme,” paparnya.

Kedua, sumpah pemuda sebagai pesan, yakni kandungan aksiologis sumpah pemuda sebagai konsolidasi gerakan protes atas ketidakladilan yang diproduksi oleh relasi sosialis kolonialisme.

Olehnya itu, sumpah pemuda harus diletakkan sebagai momentum konsolidasi gerakan profetik dan progresif melawan segala macam bentuk ketidakadilan modern yang menggerogoti imajinasi kebangsaan yang saat ini hadir dalam berbagai rupa, yakni neokolonialisme, feodalisme, kleptokratisme, fanatisme etnis, fundmentalisme agama yang membonceng dalam praktik-praktik kekuasaan. Baik kuasa politik maupun kuasa wacana. “Mengilhami sumpah pemuda sebagai pesan meliputi pula kerja kolektif kaum muda untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pemajuan agenda-agenda edukasi, literasi, dan deliberasi untuk menyehatkan ruang publik, termasuk ruang publik masyarakat digital di era milenial saat ini,” ucap mantan aktivis HMI dan cicit pahlawan nasional, A.M Sangadji, itu.

Dalam kesempatan ini pula, organisasi kepemudaan dan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung Plus, yakni HMI, IMM, PMII, GMKI, GMNI, PMKRI dan KAMMI di Ambon mendeklarasikan Jong Ambon. (TAB)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!