Memperoleh Gelar Doktor di Usia 29 Tahun – Ambon Ekspres
Features

Memperoleh Gelar Doktor di Usia 29 Tahun

JPNN DOKTOR MUDA : Dr. Firmanul Catur Wibowo, M.Pd saat melakukan penelitian di Eropa. Dia menjadi doktor di usia 29 tahun.

Bayar Kuliah dari Hasil Mengajar Bimbel dan Hadiah Lomba

Firmanul Catur Wibowo menyabet gelar doktor di usia 29 tahun. Warga Jepara ini menjadi doktor di usia muda karena termotivasi mengalahkan ketua jurusan di kampusnya.

OLEH: FARUQ HIDAYAT, Jepara

ORANGNYA supel. Cukup grapyak ketika diajak ngobrol. Apalagi ketika bicara tentang dunia fisika, pria bernama lengkap Firmanul Catur Wibowo ini ahlinya.

Huda –sapaan akrabnya- seorang doktor di bidang Ilmu Pendidikan IPA Konsentrasi Pendidikan Fisika. Dia menyelesaikan gelar doktornya itu di usia yang sangat muda, 29 tahun. Gelar S3-nya itu diraihnya dari UPI Bandung.
”Saya memang ingin menyandang gelar doktor di usia muda. Itu terlintas saat masih kuliah S1 di Universitas Negeri Semarang (Unnes),” kata lelaki asal Desa Blimbingrejo, Nalumsari, Jepara.

Ceritanya, Huda termotivasi dari ketua Jurusan (Kajur) Fisika Unnes saat itu. Di mana sang kajur mendapat gelar doktor di usia 35 tahun. ”Saya kerap diminta bapak kajur untuk ikut lomba karya tulis ilmiah mewakili Unnes. Dia juga bilang kepada saya, kamu punya potensi, dan bila mau mengalahkan saya, kamu harus jadi doktor sebelum umur 30 tahun,” katanya menirukan perkataan dosennya waktu itu.

Setelah lulus S1 di Unnes Bidang Ilmu Pendidikan Fisika tahun 2010, Huda pun langsung melanjutkan S2 di UPI Bandung Bidang Ilmu Pendidikan IPA Konsentrasi Pendidikan Fisika.

Biaya selama kuliah dia peroleh dari tabungan saat ikut lomba karya ilmiah waktu S1, ditambah penghasilan dari mengajar bimbel. Kemudian tahun 2012 dia berhasil lulus. ”Biaya sekolah saya memang dari hasil kerja keras sendiri, baik dari hadiah lomba maupun mengajar di bimbel,” ungkap bapak satu anak ini.

Kendati sudah menyandang gelar magister, Huda tidak ingin berhenti di situ. Tahun 2013 dia memperoleh beasiswa S3 unggulan calon dosen dari Kemenristek Dikti. Beasiswa itu merupakan program dari pemerintah untuk mempercepat kemajuan pendidikan membuat program doktor unggulan melalui beasiswa unggulan. ”Dari 1.000 orang yang mendaftar, yang lolos hanya 50 orang. Beruntung saya ikut lolos,” tegasnya.
Berkat bantuan beasiswa itu, Huda bisa melanjutkan pendidikan S3 di UPI Bandung Bidang Ilmu Pendidikan IPA

Konsentrasi Pendidikan Fisika dan lulus 2016 dengan nilai cumlaude. ”Syukurlah, di usia 29 tahun saya sudah memperoleh gelar doktor,” ucapnya.

Huda memang tergolong anak cerdas. Meski begitu, dia mengaku pernah juga mendapatkan nilai jelek waktu kuliah. Tepatnya saat semester VI S1. Dia pernah memperoleh nilai IPK rendah, yakni 2,2. ”Dulu, saya tidak begitu suka fisika. Bikin pusing. Akhirnya, ya gitu, nilai saya sempat hancur,” tegasnya.

Sebagai hiburannya saat itu, dia pun menjadi aktivis di kampus. Mulai ketua ospek sampai ketua departemen dan presiden penelitian mahasiswa. Dari situ justru lama-kelamaan Huda bisa menyukai dunia fisika. Bahkan, sejak kuliah sampai sekarang telah membuat 10 penelitian dan mendapatkan sejumlah beasiswa.

Di antaranya, De Bog Ink, pemanfaatan batang pisang menjadi tinta ramah lingkungan, Dikti, 2011; Cipendeu (Cincin dan Bolpen Pendeteksi Uang Palsu), Dikti 2012; D-Jati kaca film mobil go green kaca film dari daun jati, Mandiri, 2013, dan masih banyak lagi.

Huda juga membuat 13 macam publikasi ilmiah jurnal. Termasuk 10 kali menjadi Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation). ”Saya juga sudah menciptakan sebuah buku setebal 138 halaman dengan judul Lentera Mahasiswa Kontribusi Mahasiswa Pascasarjana dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan, Budaya dan Penelitian, 2014,” jelas suami dari Rahmi Darman.

Sampai sekarang, Huda telah meraih 22 prestasi. Di antaranya, Juara I Bidang IPA Kompetisi Karya Tulis mahasiswa (KKTM) tingkat Jurusan Fisika, Lembaga Fisika, 2008. Juara I Bidang IPA Kompetisi Karya Tulis mahasiswa (KKTM) Tingkat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Tahun 2008, serta masih banyak lagi.

Kini, dia sudah bekerja menjadi dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten. Selain mengajar, dia juga menjadi sekretaris Penjaminan Mutu Pascasarjana. (ks/lil/top/JPR)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!